Selasa, 02 Juli 2013

Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al Ghazali


Secara bahasa puasa berarti imsak, maksudnya adalah menahan dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat.[1] 
Taatnya jiwa didapat melalui kesabaran beribadah dan mampu memerangi hawa nafsu yang dihembuskan oleh syetan. Sedangkan godaan syetan mengalir dalam tubuh  manusia seperti aliran darah. Sabda Nabi:
 إن الشيطان ليجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع
Sesungguhnya syetan mengalir dalam darah anak adam, persempitlah aliran itu dengan rasa lapar  ( puasa )[2]

قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Puasa adalah setengah dari kesabaran.”[3]


وبمقتضى قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّبْرُ نِصْفُ الإيمان

Kesabaran bagian dari iman [4]  

Tiga tingkatan puasa menurut Imam Al Ghazali
Didalam kitab Ihya Ulumuddin yang beliau tulis, tingkatan puasa adalah: [5]
1.     
  •   Puasa umum
Tingkatan puasa ini biasanya dilakukan oleh  orang awam.
Meninggalkan keinginan makan dan syahwat  saja. Sementara anggota tubuhnya tidak terpelihara.

  • Puasa khusus
Adalah puasanya orang shalih.
Meninggalkan makan, minum, syahwat dan  menjaga  seluruh panca indera dari terjerumus kepada dosa.

Kriteria  sempurnanya puasa khusus ada enam perkara:
                                I.            Gadhul bashar ( menjaga pendangan ) dari segala yang diharamkan Allah, dan dari segala yang dapat melenakan hati.

Sabda Nabi:

النظرة سهم مسموم من سهام إبليس لعنه الله فمن تركها خوفاً من الله أتاه الله عز وجل إيماناً يجد حلاوته في قلبه

“Pandangan adalah panah beracun iblis laknatullah, barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberinya kelezatan dan manisnya iman didalam hati.” [6]

                              II.            Menjaga lisan
 Mujahid berkata: : Dua sifat yang merusak puasa, gossip dan dusta.

                            III.            Menjaga pendengaran
                            IV.            Menjaga bagian lain dari anggota tubuh seperti tangan , kaki perut dari mengkonsumsi haram.
                              V.            Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang hala ketika berbuka puasa.
                            VI.            Hendaklah hatinya selalu berada dalam kondisi khauf dan raja ketika berbuka puasa.

  • Puasa khususul khusus
Tingkatan ini merupakan puasanya para Nabi,  siddiqin dan muqarrabin.
Meninggalkan segala  hal yang terkait duniawi kecuali selalu dikaitkan dengan agama, seluruh hati, fikiran dan perbuatanya hanya untuk memikirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Golongan ini perpandangan bahwa bila mereka berfikir tentang apa yang hendak dimakan untuk berbuka sore hari maka sudah termasuk maksiat.


[1] Sayid Sabiq, Fikih Sunnah, ( Beirut: Darul Kutub Al Arabi, 1339 H ) juz 1 h. 431
[2] Muttafaqun Alaih 
[3] ( HR. Tirmidzi-hasan )
[4] Takhrij oleh Abu Nuaim dan Khatib Al Baghdadi dari hadits Ibnu Mas’ud – hasan -
[5]  Abu Hamid Al Ghazali w 505, Ihya Ulumid Din, ( Beirut: Darul Makrifah ) juz 1 hal 234
[6] HR. Al Hakim-Sahih- dari Hudzaifah Ibn Al Yaman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar