Rabu, 01 November 2017

Tafsir Surat An Nashr ayat 3 (selesai)




PERINTAH BERTASBIH, MEMUJI DAN BERISTIGHFAR KEPADA ALLAH
                                               
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (QS. An Nashr:3)

1.      Tinjauan Bahasa

فَسَبِّحْ
Maka bertasbihlah

بِحَمْدِ رَبِّكَ
Dengan memuji Rabbmu

وَاسْتَغْفِرْهُ
Mohonlah ampun kepada Allah

2.      Pendapat Ibnu Umar Isyarat tentang akhir hayat Nabi Muhammad.

Seperti telah disebutkan dalam bahasan yang lalu, Ibnu Abbas mengekspresikan bahwa turunnya merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah Shalalahu alaihi wasallam, karena Islam sudah tersebar ke segenap penjuru dan manusia semakin banyak yang masuk Islam, risalah sudah sempurna diturunkan, dan tugas Rasulullah sudah sebagai penyampai risalah pun demikian juga. Disamping itu Imam Al Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Umar dalam tafsirnya:
(وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: نَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ بِمِنًى فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، ثُمَّ نَزَلَتْ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي . فَعَاشَ بَعْدَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِينَ يَوْمًا. ثُمَّ نَزَلَتْ آيَةُ الْكَلَالَةِ ، فَعَاشَ بَعْدَهَا خَمْسِينَ يَوْمًا. ثُمَّ نَزَلَ لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ , فَعَاشَ بَعْدَهَا خَمْسَةً وَثَلَاثِينَ يَوْمًا. ثُمَّ نَزَلَ وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ  إِلَى اللَّهِ ,فَعَاشَ بَعْدَهَا أَحَدًا وَعِشْرِينَ يَوْمًا. وَقَالَ مُقَاتِلٌ سَبْعَةَ أَيَّامٍ
Ibnu Umar berkata,”Surat ini turun di Mina pada saat Haji Wada’, kemudian turun setelahnya surat “Al Yauma Akmaltu Lakum Dinakum (Surat Al Maidah:3) maka Nabi Shalallahu Alaihi wasallam hidup setelahnya 80 hari. Lalu turun ayat Kalalah (Surat An Nisa:176/ tentang warisan), maka Nabi hidup setelahnya 50 hari, lalu turun ayat “Laqad Ja akum Rasulun Min Anfusikum (Surat At Taubah:128), maka nabi hidup setelahnya 35 hari, lalu turun ayat,” Wattaqu Yauman Turja’una Fih Ilallah (Surat Al Baqarah:281) maka Nabi hidup setelahnya 25 hari dan pendapat Muqatil 7 hari. (Al Qurthubi (671H), Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an, 20/233)

Beliau juga menyebutkan hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shalallahu alaihi wasallam lebih bersungguh-sungguh sejak turun surat ini, hingga bengkak kedua kaki dalam ibadah, lemah fisik, sedikit senyum, dan banyak menangis.             ( Tafsir Al Qurthubi, 20/232)

3.      Perintah bertasbih, memuji Allah dan Beristighfar
Secara umum ayat ini memerintahkan untuk bertasbih (mensucikan Allah, ucapan Subhanallah) memuji Allah (ucapan Alhamdulillah) dan istighfar (ucapan memohon ampun kepada Allah.

فاشكر ربك، وسبّح بحمده، ونزّهْه عن كل شريك - لما حقّق لك وللمؤمنين من النصر العظيم - واطلُب المغفرةَ لك ولأمتك من الله تعالى، فإنه يَقْبَلُ التوبةَ، وبابُه مفتوحٌ دائما للتوابين

“Bersyukurlah kepada Allah, sucikan Dia dengan bertasbih dan memuji-Nya, sucikan dari segala macam sekutu, atas pencapaian kaum muslimin berupa kemenangan besar, mintalah ampun kepadamu dan untuk umatmu, ampunan dari Allah, karena Allah Maha menerima taubat, pintu taubat selalu terbuka untuk orang-orang yang bertaubat. (Ibrahim Al Qatan, Taisir At Tafsir, 3/456)

Menurut Ibnu Asyur, penyebutan antara tasbih dan istighfar secara berurutan dalam ayat ini merupakan kekhususan, karena kemenangan dan Fathu Mekkah merupakan isyarat dekatnya ajal Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, dekatnya ajal tersebut seperti beriring dekatnya tasbih dan istighfar (Tafsir Ibnu Asyur,30/594).

4.      Mengapa Nabi diperintahkan beristighfar, bukankah beliau sudah diampuni segala dosanya?

Imam Al Qurthubi menyebutkan beberapa analisanya:
a.       Karena nabi membaca doa memohon ampunan, karena beliau merasa membatasi diri dalam menunaikan apa yang semestinya dikerjakan merupakan dosa, apalagi jika dikaitkan dengan agungnya nikmat Allah.

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَئِي وَعَمْدِي، وَجَهْلِي وَهَزْلِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وأنت المؤخر، إنك على شي قَدِير
Ya Allah, ampunilah kesalahanku, tindak kebodohanku, sikap berlebihan dalam seluruh urusanku, dan yang Engkau lebih mengetahuinya. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kesengajaanku dan kebodohanku, gurauanku, semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah apa yang sudah aku kerjakan dan apa yang belum, apa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Dzat Yang mendahulukan dan Engkau Dzat yang mengundurkan dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
b.      Istighfar merupakan wujud selalu bergatung seorang hamba kepada Allah, merendahkan diri dihadapan-Nya, atas terbatasnya melaksanakan perintah dan hak-hak Allah, agar tidak terputus amal-amalmu.
c.       Istighfar disini merupakan ibadah yang wajib dilakukan, bukan istighfar memohon ampunan seperti yang lain.
d.      Istighfar ini maksudnya pelajaran untuk umatnya agar tidak meninggalkan untuk memohon ampunan selalu kepada Allah.( Tafsir Al Qurthubi, 20/233)
                         
5.      Nabi Membaca Doa ini Saat rukuk

Imam Muslim menyebutkan dalam kitab Sahihnya:
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ زُهَيْرٌ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي " يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim, berkata Zuhair, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Manshur dari Abi Dhuha dari Masruq dari Aisyah ia berkata,” Ketika rukuk, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memperbanyak membaca bacaan
سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي
Subhanaka Allahumma Wabihamdika Allahumaghfirli, Maha Suci Engkau, Ya Allah Rabb yang Maha Terpuji, Ya Allah Ampunilah aku”, seperti diperintahkan dalam Al Qur’an (HR. Muslim Bab Ma Yuqalu inda Ruku’ wa sujud, No. 484).


6.      Hikmah Surat
·         Allah memberikan nikmat yang agung berupa Fathu Makkah dan kota-kota setelahnya dalam naungan risalah Islam.
·         Fathu Makkah merupakan puncak sejarah bukti kebenaran tauhid yang diterima oleh fitrah manusia, karena manusia lahir dalam keadaan fitrah, sehingga mereka masuk kedalam agama Islam secara berbondong-bondong
·         Fathu Makkah merupakan rangkaian perjalanan perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam, yang sebelumnya sudah didahului oleh beragam peristiwa peperangan, kemenangan dan kekalahan, yang tujuannya menyiapkan mental kaum muslimin untuk menyambut kemenangan besar.
·         Perintah untuk mensucikan Allah, memuji-Nya dan memohon ampunan atas dosa dan kekurangan dalam menunaikan hak-hak Allah, senantiasa berzikir dan bersyukur atas segala nikmat-Nya.

والله أعلم

Tidak ada komentar:

Posting Komentar