Minggu, 08 September 2013

Anjuran Meminta Hidayah Bagi Orang Yang Sudah Mendapat Hidayah



Ada pemahaman yang keliru sebagian orang dalam memahami ayat ini dengan melontarkan pertanyaan yang paling mendasar; mengapa seorang mukmin dituntut untuk memohon hidayah dalam setiap shalat dan diulang-ulang dalam setiap raka’at, juga  di luar shalat dan dalam keadaan lainnya, padahal dia sendiri berpredikat sebagai orang yang telah mendapat petunjuk?  Dia sesungguhnya sudah mendapat hidayah sebelum dia meminta hidayah sekalipun,  (dianggap tahshil al-hasil; meraih apa yang sudah diraih). Kekeliruan ini dapat dijawab; ketika seorang mukmin meminta kepada Tuhannya petunjuk ke jalan yang lurus, yang dipinta adalah agar Allah meneguhkan dirinya tetap pada jalan yang lurus itu, ditambah-tambah dan dilanggengkan.

Seorang mukmin tidak memiliki kekuasaan apapun, tidak memiliki mudarat dan manfaat kecuali atas kehendak Allah, karenanya, Allah menunjukinya dan diperintahkan untuk meminta hidayah setiap saat dan sekaligus minta diteguhkan dalam posisi dirinya ada dalam hidayah Allah. Dengan demikian, orang yang bahagia adalah orang yang memperoleh pertolongan yang mendorong dirinya untuk memohon hidayah Allah, dan Dia telah menjamin akan mengabulkan orang yang meminta kepada-Nya. Terlebih bagi orang yang dalam keadaan terdesak lagi sangat memerlukan pertolongan di setiap waktunya. Mukmin yang telah mendapat hidayah tatkala meminta hidayah itu semata untuk menambah kekuatan hidayah yang telah diterimanya. Karenanya, Allah tetap menyuruh orang yang beriman untuk terus beriman, sebagaimana Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kepada kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (al-Nisa’ [4]: 136)

Allah menyuruh orang-orang mukmin untuk beriman. Secara sepintas akan mengarah pada tahshil al-hashil (meraih sesuatu yang sudah ter-raih), padahal yang dimaksud adalah tetap dan kontinyu untuk melakukan perbuatan yang baik.
Hal sama Allah juga memerintahkan orang beriman untuk meminta terus beriman dan tidak menyimpang darinya, sebagaimana firman Allah;

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberii petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (Karunia), (Ali Imran [3]: 8).



Abu Bakar al-Shiddiq senantiasa membiasakan membaca ayat ini pada setiap  rakaat ketiga dalam shalat magrib secara lirih.