Sabtu, 13 Juli 2013

Dosa Jangan Diekspos Terang – Terangan !


Dosa dan maksiat pernah dilakukan oleh siapaun kecuali Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam yang  bersifat maksum ( terjaga dari dosa ). Sebagai manusia biasa, salah, khilaf , maksiat dan dosa pun pernah kita lakukan. Terkadang  manusia cepat sadar dan bertaubat dari dosa dan kesalahan itu, namun terkadang  ia ‘nyaman’ dengan kondisi itu bahkan melakukan secara terang terangan dan disebarluaskan. Tentu ini merupakan perbuatan hina di hadapan Allah Subhanahu wa Taala, seperti firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“ Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. [1]

Imam Ar Razi dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa ayat ini turun pada berita bohong yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha dengan Shafwan bin Mu’athal ( Haditsul Ifki ). Namun fungsi ayat ini bersifat umum, jadi siapa saja yang menyebarkan berita maksiat secara umum ( zina ) akan mendapatkan azab yang pedih dunia dan akherat. [2]

Imam Ibnu Katsir menganjurkan bila kita mendapati berita yang belum jelas kebenarannya untuk melakukan paling tidak tiga hal berikut, yaitu:[3]

·         Menahan perkataan

·         Berbaik sangka

·         Tidak menyebarluaskan

Lalu bagaimanakah dengan orang yang melakukan maksiat lalu menyebar kan secara terang-terangan?

Perbuatan tersebut jelas  dimurkai Allah, berbuat dosa dan maksiat saja sudah di murkai Allah, apalagi melakukan dan menyebarkan dengan terang-terangan.
Firman Allah:[4]

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا (148)
“Allah tidak menyukai Ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya,  Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.


Rasulullah bersabda


عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : " كُلُّ أَمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ  أخرجه البخاري 8/24(6069) و\"مسلم\" 8/224 .

Dari Salim bin Abdillah berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:” Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali Al Mujahirun ( terang-terangan ), sungguh kegilaan seseorang adalah ia berbuat dosa pada malam hari, pada pagi sudah ditutupi Allah, lalu ia mengatakan wahai fulan aku tadi malam melakukan ini dan itu. Ia bermalam dengan aib yang tertutup oleh Rabbnya, lalu pagi harinya ia buka penutup itu.[5]

Oleh karena itu, orang yang melakukan dosa hendaklah ia bertaubat secepatnya dan tidak menyebarkan perbuatan itu kepada khalayak, karena Allah sudah menutupi dosa-dosanya. Namun bila ia menyebarluaskan dengan terang-terangan berarti ia menantang murka Allah.


[1] An Nur:19
[2] Fakhrudin Ar Razi w 606, Mafatihul Ghaib, ( Beirut: Dar Ihyau Turats 1420H) juz 23 h.346
[3]  Ibnu Katsir w 774 H, Tafsir Quranil Adzim,( Dar Thayyibah Lin Nasyr wa Tauzi’) juz  6 h . 29
[4] An Nisa:148
[5] HR. Bukhari  6069