Rabu, 30 September 2015

Ulama-Ulama Tafsir Dan Metode Penafsirannya



Penulisan Tafsir mengalami beberapa fase diantaranya:
·           Fase pertama
 Fase ini dimulai dengan berpedoman kepada riwayat dan penulisan sahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.
·           Fase kedua
Fase ini tafsir dimasukkan dalam bahasan kitab-kitab hadits dan dikumpulkan bersamanya, seperti kitab hadits Bukhari dan Muslim yang mencantumkan bagian tafsir Al Qur’an dalam hadits mereka, begitu pula kumpulan hadits-hadits dalam kutub as sunan.
·           Fase ketiga
Fase ini penulisan tafsir sudah tersusun rapi sesuai dengan urutan surat-surat didalam Al Qur’an seperti Surat Al Fatihah, Surat Al Baqarah, dan seterusnya hingga surat An Nas. Diantara para ulama yang menuliskannya adalah:

§  Ibnu Majah (273 H)
§  Ibnu Jarir At Thabari (310 H)
§  Abu Bakar Bin Mundzir An Naisaburi ( 318 H)
§  Ibnu Abi Hatim ( 327 H)
§  Abi Hayyan ( 369 )
§  Al Hakim ( 405 H)
§  Abu Bakar bin Mardawaih ( 410 H)
 Mereka meriwayatkan dengan sanad dari Rasulullah, sahabat, tabi’in hingga tabiut tabi’in. ( Adz Dzahabi, At Tafsir wal Mufassirun, 1/141)

·           Fase keempat
Pada fase ini mulai tercampur penafsiran sesuai sanad dan penafsiran sesuai keilmuan para mufassirnya, sehingga dijumpai penafsiran dengan pendapat dan pemikiran mufassir ( tafsir bi ar ra’yi ). Corak tafsir mengikuti pemikiran filsafat oleh Fakhrudin Ar Razi dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, Ibnu Hayyan dalam tafsirnya al Bahrul Muhith. Corak fikih dan perbandingan madzhab seperti tafsir al Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam Al Qurthubi,  juga corak tafsir yang memuat kisah-kisah seperti dalam tafsir Al Kasyf wal Bayan ‘an tafsir al Qur’an oleh  Ats Tsa’labi.
       Tafsir Maudhu’i
Merupakan salah satu corak tafsir Al Qur’an yang membahas tema-tema atau bagian tertentu dari isi Al Qur’an, pertama kali di gagas oleh seorang ulama bernama Qatadah bin Da’amah Ad Dusi ( 118 H). kemudian diteruskan dengan penulisan bahasan Nasikh dan Mansukh didalam Al Qur’an oleh Abu Ubaidah Ma’mar bin Al Matsna ( 210H), begitupula Abu Daud As Sijistani menuliskan tema yang sama ( 275H). kemudian diteruskan oleh Abu Ali Bin Al Madani ( 234H) ia juga guru Imam Al Bukhari  mengarang kitab Asbabun Nuzul, dialah yang pertama kali menuliskan Asbabun Nuzul ( Tafsir At Thabari, 310 )




 Kitab-Kitab Terkenal Dibidang Tafsir Bil Ma’tsur

Tafsir bil matsur berpedoman kepada riwayat yang berasal dari nabi Shalallahu Alaihi wasallam,

1.      Jamiul Bayan ‘an Ta’wil Ay Al Qur’an karya Ibnu Jarir At Thabari ( 310 H ).
Beliau lahir di Tibristan 224H dan wafat di Bagdad tahun 310H. ia seorang fakih, muhadits, dan al Hafidz, mengetahui makna Al Quran dan hadits, begitu produktifnya,  ia menyediakan waktu selama 40 tahun untuk menulis. Diantara karya beliau adalah”

§  Tarikh al Umam wal Muluk dibidang sejarah
§  Kitab Ikhtilaf Fukaha
§  Kitab Tabshirah Fi Ahwal ad Din
§  Kitab Tafsir Jamiul Bayan An Ta’wil Ay Al Qur’an

Metode Al Hafidz At Thabari Dalam Tafsirnya
-          Kitab tafsir beliau adalah yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu tafsir, karena berdasarkan riwayat dari nabi, sahabat, tabi’in dan tabiut tab’in. tafsir yang ada sebelum masa Ibnu Jarir at Thabari menyebutkan periwayatan secara umum dan terpisah-pisah, hingga disempurnakan oleh At Thabari antar pendapat dan menyebutkan sisi kedudukan bahasa dan syair-syair Arab dan makna lafadznya.
-          At Thabari meringkas pendapat yang terdapat dalam ayat kemudian menyebutkan riwayat-riwayat bersumber dari Rasulullah, sahabat, atau tabiin, kemudian diurutkan berdasarkan pendapat pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Beliau juga mengutip pendapat yang berseberangan lalu memberikan bantahannya. Semula At Thabari ingin tafsirnya membahas lebih luas hingga Ibnu Subki menyebut dalam tabaqatnya bahwa jumlah lembaran tafsir At Thabari semula 30.000 kertas, kemudian diringkas kembali menjadi 3.000 lembar kertas.
-          Meski menyebut riwayat namun mayoritas beliau tidak memilah manakah riwayat yang sahih atau dhaif, karena beliau melihat seperti yang tertera dalam sumber usul al hadits,  meski terkadang beliau juga memberikan bantahan dalam beberapa periwayatan, juga terkadang menukil kisah-kisah israiliyat.

2.      Al Kasf Wal Bayan ‘An Tafsir al Qur’an karya Ats Tsa’labi ( 427 H)
Beliau adalah Abu Ishaq Ahmad bin Ibarahim ats Tsa’labi An Naisaburi, seorang ulama Qira’at dan tafsir.

Metode penafsiran Ats Tsa’labi adalah:
-          Menyebutkan riwayat dari salaf dengan seperlunya diawal tafsir kemudian beliau lebih mendalam pada persoalan bahasa ( nahwu ) dengan cabang-cabang bahasa dan syair-syair penegas pendapat. Kemudian menyentuh persoalan fikih, perbedaan didalamnya dan dalil-dalil terkait.
-          Beliau banyak menyebut kisah-kisah dalam tafsirnya, bahkan kisah para nabi ( qasasul anbiya ).  Misalnya kisah Ashabul Kahfi serta Ya’juj dan Ma’juj.
-          Mengutip sebagian kisah-kisah Israiliyat dan hadits –hadits yang belum di takhrij kesahihannya. Ibnu Taimiyah berkata,” Ats Tsa’labi ulama yang baik dalam agama, ia menyampaikan ceramah siang dan malam, namun ia menukil hadits sahih, dhaif dan maudhu’ dalam tafsirnya”. ( Ibnu Taimiyah, Usul at Tafsir)
3.      Tafsir Ma’alim Tanzil, Karya Al Baghawi ( 436-516 H)
Beliau adalah Abu Muhammad al Husain bin Mas’ud bin Muhammad Al Farra. Seorang ulama fikih Syafiiyah, ahli hadits terkenal dengan sebutan Muhyi Sunnah ( penghidup Sunnah ) atau Ruknu ad Din ( Penopang Agama ). Beberapa kitab karangan beliau adalah:
Syarhu as Sunnah, Mashabih as Sunnah,At Tahdzib fi al Fikh,Al Jam’u Baina As Shahihain
Tafsir Maalim At Tanzil. ( lihat Tabaqat Al Mufassirin, 1/157)

Metode beliau dalam tafsirnya:
-          Merupakan ringkasan dari tafsir Ats Tsa’labi  namun beliu menjaga dari hadits lemah dan kisah-kisah Israiliyat.
-          Menafsirkan ayat secara ringkas, lalu menukil riwayat dari salaf diawal tanpa menyebutkan sanadnya. Seperti berkata Ibnu Abbas…, berkata Mujahid… dll)
-          Menyebutkan sanad pada pertengahan tafsirnya namun jika berbeda jalur periwayatan.
-          Menyebut riwayat dari salaf namun tidak merajihkan.
-          Menyebutkan sisi Balaghah dan Nahwu.
-          Menyebutkan sisi Israiliyat dan sisi perawi yang lemah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang kitab tafsir apa yang paling dekat dengan sunnah, apakah tafsir Zamakhsari, Al Qurthubi atau Al Baghawi atau yang lainnya? Beliau menjawab,” dari tiga tafsir tersebut yang paling selamat dari bid’ah dan hadits dhaif adalah tafsir al Baghawi.” ( Majmu’ Fatawa,13/386)

4.      Tafsir Al Qur’an Al Adzim, karya Ibnu Katsir ( 701-774 H)
Beliau lahir di Syam tahun 701 H, nama lengkapnya adalah Imaduddin Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir, seorang ahli fikih sekaligus tafsir bermadzhab Syafi’i. sebagian dari karya beliau adalah: Kitab Al Bidayah wa Nihayah dibidang tarikh, Syarah Sahih Bukhari dibidang Hadits, Tabaqat Syafiiyah dll. Tafsir Ibnu Katsir dikenal sebagai rujukan kedua setelah Tafsir At Thabari karena banyak menukil riwayat dari salaf.
Metode Ibnu Katsir dalam tafsirnya:
-          Menafsirkan ayat dengan metode mudah dan jelas, menyebutkan qiraat.
-          Menafsirkan ayat per ayat dilanjutkan dengan penafsiran ayat berikutnya yang sesuai.
-          Ibnu Katsir terkenal dengan penafsiran Al Qur’an dengan Al Qur’an
-          Menyebutkan hadits yang terkait dengan ayat yang ditasfirkan.
-          Banyak mengutip pendapat para ulama sebelumnya seperti At Thabari, Ibnu Abi Hatim, Abdurazaq, Ibnu ‘Atiyah, Fakhru Razi dan lainnya.
Imam As Suyuti berkata,” Belum ada yang menulis kitab sepadan dengan Tafsir Ibnu Katsir.” ( Mu’jam Al Buldan, 626)





5.      Tafsir Ad Dur al Mantsur Fi Tafsir Bil Ma’tsur, karya As Suyuthi  ( 849-911 H)
            Beliau adalah al hafidz Jalaluddin Abu al  Fadhl Abdurrahman bin Abu Bakr bin      Muhammad As             Suyuthi, bermadzhab Syafi’i , beliau hafal al quran pada usia 8 tahun,           dan banyak hafal matan          -matan hadits serta memiliki banyak karya tulis. Diantaranya: Kitab Al Jami’ As Saghir,        Ham’ul Hawami’, Husnul Muhadharah Fi Akhbar Misr wal Qahirah, al Itqan ( At Tafsir          Wal Mufassirun,1/253)
            Metode penafsiranya:
-          Banyak menukil dari Bukhari, Muslim, An Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Jarir, Abi Hatim, Abdurrahman bin Humaid dan Ibnu Abi Dunya
-          Menukil riwayat dari salaf namun tidak memilah sahih dan dhaifnya kecuali sedikit saja.
-          Tafsir  ini merupakan tafsir bil matsur yang pendek.
Berikut ini adalah kitab-kitab tafsir terkenal lainnya, namun para ulama menggolongkannya dalam tafsir bi  ra’yi
1.      Tafsir Mafatihul Ghaib, karya Ar Razi ( 544-606 H)
2.      Tafsir Al Jami’ Liahkamil Qur’an, Karya Al Quthubi ( 671 H)
3.      Tafsir Fathul Qadir karya As Syaukani ( 1250 H)
4.      Tafsir Ruhul Ma’ani karya Al Alusi ( 1270 H) dll.