Kamis, 20 Juni 2013

Mewaspadai Perkara Syubhat



 
 
Nash hadits

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن الحلال بين وإن الحرام بين ، وبينهما أمور مشتبهات ، لا يعلمهن كثير من الناس ، فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه ، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام ، كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه ، ألا وإن لكل ملك حمى ، ألا وإن حمى الله محارمه ، ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، وإذا فسدت فسد الجسد كله ، ألا وهي القلب رواه البخاري ومسلم  
.
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Pengertian syubhat

·         Secara bahasa  kata شبهة    didalam kamus Al Wasith berarti iltibas ( samar ), sedangkan Ibnu Al Faris menyebutkan bawa kalimat syubhat  menunjuk kepada kemiripan sesuatu.[1]
Begitupula pendapat Ibnu Al Mandzur  yang mengatakan bahwa  Syubhat mengandung dua makna, makna pertama  kemiripan antara satu dan lainya, ketika dikatakan:

أصل واحد يدل على تشابه الشيء وتشاكله لونًا ووصفًا

“Satu pokok yang menunjukkan kemiripan bentuk, warna dan sifat “
Sedangkan makna kedua berarti 
 والمشبّهات من الأمور: المشكلات، واشتبه الأمران إذا أشكلا.

“ Jika ada dua perkara yang membingungkan ( menjadi masalah ) .[2]

·         Secara istilah
Kalimat syubhat menunjukkan sesuatu yang  samar , apakah halal atau haram, haq atau bathil.[3]

 Ayat Al Qur’an menyebutkan kalimat Syubhat
1.       Surat Al Baqarah ayat 25

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”

وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا:

Pendapat para Mufassirin:

o    Imam At Thabari menyebutkan bahwa makna ayat diatas adalah:
لاشتباه جميعه في كل معانيه
Kemiripan semua jenis buah-buahan surga dengan buah-buahan didunia, namun berbeda rasa.[4]
o    Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa buah-buahan di syurga memiliki kemiripan dengan buah-buahan di dunia kecuali namanya.[5]


2.       Surat An Nisa  ayat 157

{وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ}
“ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.

Bahwa yang disalib bukanlah nabi Isa, melainkan sosok lain yang mirip nabi Isa yang Allah ciptakan.

3.       Surat Al An’am ayat: 99

وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ}
“Zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa”

Terdapat kemiripan dalam rasa dan bentuk.

Hikmah hadits

·         Ada tiga hukum penting dalam hadit diatas

Pertama halal murni, seperti segala yang telah dihalalkan Allah
Contoh dalam makanan:
Firman Allah;
يَآ اَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِي الْاَرْضِ حَلَلاً طَيِّبًا وَ لاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَنِ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ـ البقرة
Artinya: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Q.S. al-Baqarah: 168).

Sesungguhnya Allah jadikan bumi dan segala isinya untuk manusia, artinya jumlah segala yang dihalalkan Allah sebenarnya lebih banyak dari pada yang haram. Hanya orang-orang yang putus asa dari rahmat Allah sajalah yang mengatakan bahwa yang yang haram saja sulit apalagi yang halal.

Kedua, haram murni, seperti segala bentuk makanan atau perbuatan yang diharamkan Allah.
Ketiga syubhat ( samar ) yaitu kondisi antara halal dan haram.

·         Syubhat tidak terjadi pada seluruh manusia, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara syubhat

Seperti disebutkan dalam hadits:
لا يعلمهن كثير من الناس

·         Ciri orang bertakwa adala meninggalkan perkara yang masih samar

فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه

·         Syubhat bisa membawa pelakunya kepada sesuatu yang diharamkan Allah
ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام

·         Amalan hati  lebih diprioritaskan dari pada amalan fisik semata
ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، وإذا فسدت فسد الجسد كله ، ألا وهي القلب

































[1] Mu’jam Maqayis Al Lughah, Ibnul Al Faris 3/242
[2] Lisanul Arab, Ibnul Madzur 7/23-25
[3] Difa’ An As Sunnah, Manahij Jamiah Madinah Al Munawarah hal 13
[4] At Thabari, Jamiul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, ( Muasasah Ar Risalah:2000) juz 1 h.387
[5] Ibnu Abil Hatim w 327 H, Tafsir Qur’anil Adzim, ( Maktabah Nazar Musthafa Al Baz,1419 H ) juz 1 hal 66