Rabu, 06 April 2016

BARISAN YANG TERATUR DALAM PERANG, DICINTAI ALLAH




إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
 
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ( QS. Ash Shaff: 4)


Tinjauan Bahasa

يُقَاتِلُونَ

Berperang
صَفًّا

Barisan, shaf
بُنْيَانٌ
Bangunan
مَرْصُوصٌ

Tersusun rapi seperti barisan gigi, seperti bangunan yang bersambung satu dan lain[1]

Kandungan Ayat

Ayat ini merupakan pelajaran bagi kaum muslimin secara umum  dan para dai secara khusus  untuk menjaga soliditas dalam berjuang dijalan Allah. Karena kaum yang menjaga soliditas dalam berjuang akan dicintai Allah dan yang berpecah belah akan dimurkai Allah. Apalagi dalam medan jihad,  Rasululullah paham betul urgensi merapatkan barisan, selain untuk mempermudah komando juga memiliki fungsi lain diantaranya:

1.     Menambah kekuatan berjamaah, karena jika ada ruang-ruang kosong memungkinkan ada penyusup masuk kedalam barisan untuk mengacau, melemahkan bahkan memecah  barisan kaum muslimin.
2.     Merupakan strategi untuk menggentarkan musuh karena mereka akan melihat kekompakan lawan.
3.     Memungkinkan masing-masing pihak bekerja sesuai fungsi dan perannya, tidak berpangku tangan dan mengandalkan pihak lain dalam berjuang. Dahulu bagaimana Rasulullah membagi para sahabat sesuai dengan kemampuan mereka dalam berperang, sehingga mereka fokus untuk meyelesaikan tugas perjuangan dibidangnya, tidak mengurusi bidang yang dikerjakan orang lain, dengan begitu tugas mereka akan selesai sempurna.[2]
Syekh Ibrahim al Qathan berkata dalam tafsirnya:

إن الله تعالى يحب النظامَ في كل شيء، وهو يحبُّ الذين يقاتلون في سبيله منتظمين في أماكنهم كأنهم بنيانٌ متلاحمُ الأجزاء، كأنه قطعة واحدة، فالنظام أساسُ بنيان الأمة، وان وعدَ الله حقّ، وقد وعد المجاهدين بالنصر إذا أخلصوا وصدَقوا وحافظوا على النظام.
Sesungguhnya Allah mencintai keteraturan dalam segala hal, Dia juga mencintai keteraturan dalam berperang di jalan Allah, sesuai medannya seolah mereka bangunan yang satu. Mereka ibarat potongan yang satu, aturan adalah dasar bangunan sebuah umat. Janji Allah sungguhlah benar, Dia menjajikan kepada para mujahidin kemenangan jika mereka ikhlas, jujur dan menjaga aturan. [3]

Jika aturan yang dimaksud dalam hal ini adalah Al Qur’an maka siapapun dia harus mengikatkan diri dengan aturan Al Qur’an atau institusi atau jamaah yang menjadikan Al Qur’an pedoman dalam derap perjuangannya. Betapapun sulit, pelik dan keruh. Karena hidup bersama jamaah itu lebih baik dari pada hidup sendiri tanpa arah.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda dari hadits yang bersumber dari Abu Darda radhiyallahu anhu:

عليكم بالجماعة فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية

“ Hendaklah kalian berjamaah karena serigala tidak akan menerkam, melainkan  jika seekor domba yang sendirian”. (HR. Abu Daud. No 1070 di Hasankan oleh Syekh Nasiruddin al Al Bani)
                                                                                            
Badruddin Aini dalam Syarah Abi Daud menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kata              القاصية "
Kambing yang sendirian dan jauh dari kumpulannya”[4]

Meski hadits ini terkait dengan shalat berjamaah dan keutamaannya namun sangat relevan dengan kehidupan berjamaah, artinya orang yang menjauh dari jamaah ibarat kondisinya ibarat seekor kambing yang terpisah dari kumpulannya mudah utk diterkam serigala.[5]




Imam At Thabari berpendapat:

(كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ) يقول: يقاتلون في سبيل الله صفَّا مصطفَّا، كأنهم في اصطفافهم هنالك حيطان مبنية قد رصّ، فأحكم وأتقن، فلا يغادر منه شيئً
(Mereka ibarat bangunan yang tersusun kokoh) dia berkata: “Yaitu mereka berperang fi sabilillah dengan shaf yang tersusun rapi, bak keteraturan dalam seutas tali, rapi nan kokoh, tidak rontok satupun”  (Tafsir at Thabari 23/357)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan hadits yang bersumber dari Abu Said Al Khudri

 قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " ثلاث يضحك الله إليهم : الرجل يقوم من الليل ، والقوم إذا صفوا للصلاة ، والقوم إذا صفوا للقتال " .

Rasulullah bersabda,” Tiga golongan yang membuat Allah tersenyum, seorang yang mengerjakan shalat malam, kaum yangmeluruskan barisan saat hendak shalat dan kaum yang merapikan barisan saat hendak berperang.’( HR. Ibnu Majah)

Kesimpulan
1.      Cinta dan rahmat Allah akan turun bersama jamaah, oleh karena itu hindari perpecahan apapun bentuknya.
2.      Barisan yang kuat dan kokoh merupakan syarat utama kemenangan.
3.      Perang bisa berarti perang fisik, maupun perang peradaban oelh karena itu seyogyanga kaum muslimin menyiapkan diri untuk menghadapi keduanya dengan terus merapatkan barisan. Karena musuh-musuh islam akan senang jika sesama muslim bercerai berai.

والله أعلم


[1] Muhyiddin Ahmad Musthafa Darwisy (w1403H), I’rabul Qur’an, jilid X ( Beirut: Dar al Yamamah,1415H) h. 75
[2] Abdurrahman  Nasir As Sa’di (1376 H), Taisir al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam al Mannan, Jilid 1(Muassasah Ar Risalah, 1420H) h. 856
[3] Ibrahim al Qathan (1404H), Taisir  atTafsir, juz 3 hal 328
[4] Badruddin ‘Aini (855H), Syarah Sunan Abu Daud, jilid 3 (Riyadh: Maktabah  Ar Rusyd,1420 H) h. 18
[5] Al Munawi, Faidhul Qadir, 5/476