Kamis, 05 Mei 2016

LEBIH DEKAT DENGAN IMAM ABU HAMID AL GHAZALI (450-505 H)


Dia adalah Syekh, Imam, Bahr Hujjatul Islam, salah satu keajaiban zaman, hiasannya agama, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At Thusi As Syafi’i  Al Ghazali, pemilik banyak karya dan kecerdasan yang tiada tara. Lahir di desa Ghazalah daerah Thus, Iran tahun 450 H.
Orang tua Al Ghazali seorang tukang tenun yang miskin, dan menyukai ilmu tasawuf, saat meninggal ia berpesan kepada kawa-kawannya untuk mendidik anak-anaknya yang masih kecil.
Kemudian ia pindah ke Naisabur, melanjutkan rihlah ilmiyahnya menimba ilmu kepada Imam al Haramain Abu Al Maali Al Juwaini. Beliau memperdalam fikih dalam waktu singkat, menguasai ilmu Kalam dan tekhnik berdebat, hingga menjadi pendebat ulung pada zamannya. Lalu tak berapa lama ia dilirik oleh menteri dan dipercaya untuk mengatur pola pendidikan di Nizamiyah Baghdad sekitar tahu 480 H dan saat itu usia beliau adalah 30 tahun. Ia pun mengarang kitab Ushul Fikih, fikih, Filsafat dan Hikmah, seolah tulisan mengalir tak henti dari otaknya yang cerdas.
Namun karena kecintaanya kepada ilmu jabatan yang diembannya membuatnya tidak bernafsu berkuasa, dia meneruskan kecintaannya pada sifat-sifat zuhud, perbaikan jiwa, ikhlas, lalu ia mengunjungi Baitul Maqdis dan belajar kepada ahli fikih Nasr bin Ibrahim al Maqdisi, pemilik Jami’ Al Umawi di Damaskus dan disanalah ia mengarang kitab Ihya Ulumuddin, Kitab Al Qisthas, Al Arbain dan Kitab Mahk Nadzar.[1]

Fase Kehidupan Imam Al Ghazali
Kehidupan Imam Al Ghazali terbagi menjadi tiga fase utama: pertama,fase perkembangan. Pada fase ini Al Ghazali tumbuh normal layaknya manusia lain. Dipenuhi dengan semangat menimba ilmu dan menelaah khazanah ilmiyah dari para guru-gurunya. Fase kedua, masa keraguan, saat Al Ghazali mulai terjun menekuni dunia ilmu Kalam dan filsafat, hingga ia  membantah dan membongkar teori-teori filsafat dari Yunani yang digawangi oleh Aristoteles dan karya dari Ibnu Sina yang berjudul Maqashid Al Falasifah. Tak butuh waktu lama kemudian Al Ghazali menelurkan sebuah karya yang berisi bantahan terhadap kaum filososfis dalam kitabnya Tahafutul Falasifah (Kerancuan Filsafat)

Karya-Karya Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali menuliskan karya yang begitu banyak dalam beragam disiplin ilmu agama seperti Fikih, Ushul Fikih, Akidah, Tasawuf, Filsafat dan lain-lain, diantaranya:
a. Al Iqtishad Fil I’tiqad (Akidah)
b. Bughyatul Murid Fi Masail At Tauhid (Akidah)
c. Iljam Al Awam ‘An ilm Al Kalam (Filsafat)
d. Al Maqshad Al Asna Syarh Asmaul Husna (Tauhid)
e. Tahafut Falasifah (Filsafat)
f. Mizan Al Amal
g. Ihya Ulumuddin
h. Bidayatul Hidayah
i. Al Arbain Fi Ushulddin
j. Kimiya As Saadah
k. Minhajul Abidin
l. Al Wasith
m. Al Musthasfa Fi Ilm Ushul Fikh
n.Syifaul Ghalil
o. Al Qishthas
p. Lubab Nazar

Ada banyak tuduhan miring dilemparkan oleh orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran Imam Al Ghazali, menuduh beliau Zindiq, terlalu mendalam dalam ilmu Kalam, Ahli berfilsafat dan tuduhan lainnya, namun beliau tetaplah ulama yang besar, tuduhan tersebut tidaklah mengerdilkan kemampuan dan karya-karya besarnya bagi agama islam.








[1] Imam Az Zahabi, Siyar A’lam Nubala, (Muassasah Ar Risalah, 1405) juz 19, h. 346