Senin, 02 Mei 2016

MEREKA INGIN MEMADAMKAN ISLAM




يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.(QS. As Shaff:8)

 
SABAB NUZUL AYAT

Imam Al Mawardi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa sebab turun ayat ini adalah, seperti diceritakan oleh Atha’ dari Ibnu Abbas, bahwasanya wahtu terhenti selama 40 hari kepada Nabi Muhammad Shalalahu Alaihi wa sallam, lalu berkata Kaab bin al Asyraf (Penyair Yahudi kafir),’Wahai kaum Yahudi berita gembira kepada kalian, Allah telah memadamkan cahaya-Nya kepada Muhammad, yang sebelunya turun, Allah tidak menyempurnakan urusan-Nya, nabipun sedih. Kemudian Allah menurunkan ayat ini, dan wahyupun bersambung setelah itu.”[1]

KANDUNGAN AYAT

Ayat ini menjelaskan tentang perilaku orang-orang yang mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah tukang sihir, karena Beliau menyebarkan agama baru dikalangan kaum Quraisy. Mereka ingin agar agama islam tidak berkembang, agar cahaya Allah padam [2]. Korelasi dengan zaman sekarang, akan senantiasa ada orang atau golongan yang berusaha untuk menghalangi islam berkembang, dengan segala cara, baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, politik dan sebagainya. Mereka senang jika Islam tidak berkembang, islam terbelakang, konflik berkepanjangan dan akhirnya tak punya kekuatan, lalu padam. Namun janji Allah dalam ayat ini begitu jelas, bahwa Allah-lah yang akan menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir membenci.

Makna Nur Allah (نورُ الله)

Disebutkan dalam Tafsir Jalalain, yang dimaksud dengan Nur Allah ( cahaya Allah) adalah syariat Allah dan buktinya (al burhan).[3] Sedangkan Syekh Wahbah Zuhaili menafsirkan Nur Allah sebagai: Syariat,agama,Kitab Allah dan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalalahu alaihi wasallam.[4]  Imam At Thabari mendefinisikan Nur Allah sebagai, Al Qur’an[5].  Ar Razi dalam tafsirnya menyebutkan beragam makna Nur Allah diantarnya: Nur Allah adalah ilmu,Iman, agama Islam, Rasulullah dan Al Qur’an[6] .

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah”.

Ibnu Asyur dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada perumpamaan dalam ayat ini:
Usaha kaum kafir untuk memadamkan cahaya Allah (Islam) seperti perumpamaan seperti memadamkan cahaya api, merupakan perumpamaan yang masuk akal. (Tasbih Al Ma’qul bil Mahsus)[7] .

Al Quran menyebut  orang-orang kafir termasuk didalamnya adalah kaum musyrikin, Ahlul Kitab dan sejenisnya, sebagai bentuk usaha, tipu daya, makar mereka terhadap Islam [8].
Syekh Muhammad Sayid Thantawi dalam tafsirnya menyebutkan:

يريد هؤلاء الكافرون بالحق، أن يقضوا على دين الإسلام، وأن يطمسوا تعاليمه السامية التي جاء بها النبي صلى الله عليه وسلم عن طريق أقاويلهم الباطلة الصادرة عن أفواههم، من غير أن يكون لها مصداق من الواقع تنطبق عليه، أو أصل تستند إليه، وإنما هي أقوال من قبيل اللغو الساقط المهمل الذي لا وزن له ولا قيمة

“Kaum kafir mereka benar-benar ingin menghabisi agama islam, menghapus semua ajaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, dengan jalan menyebar ucapan dari mulut mereka tanpa sandaran kebenaran dan kenyataan, ucapan itu keluar dari ucapan gurauan, spontanitas tak berharga sama sekali [9] “.

Begitu gigih usaha dan kebencian kaum kafir, kegigihan mereka untuk memadamkan islam seperti mereka hendak memadamkan cahaya matahari melalui tiupan mulut, betapapun itu sulit, namun Allah akan menyempurnakan dan menyelamatkan cahaya-Nya dari mereka.  

KESIMPULAN:
a. Kaum kafir dan sejenisnya  akan senantiasa berupaya memadamkan cahaya Allah, menghalangi agama Islam dengan berbagai cara.
b. Begitu besar kebencian kaum kafir, mereka melakukan tipu daya dengan mulut mereka ,  bisa di analogikan dengan penyebaran isu dan penggunaan media untuk merusak citra islam, seperti fitnah yang tersebar melalui lisan.
c. Allah akan menjaga agama Islam dan akan menyempurnakan cahayanya, dan beruntunglah bagi siapa saja yang berada dalam pembela agama Allah.
والله أعلم



[1] Al Mawardi w. 450H, Tafsir an Nakat wa Al Uyun, (Libanon: Dar al Kutub) j. 5. H. 530
[2] At Thabari  (w.310H), Tafsir At Thabari, (Muassasah Ar Risalah: 2000 M) h. 23
[3] Jalaludin al Mahaly (864) dan Jalaludin as Suyuthi (911), Tafsir Jalalain,( Cairo: Darul Hadits) juz 1, h. 739
[4] Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Manar, (Damaskus: Dar al Fikr, 1418 H)  juz 28 h.166
[5]  At Thabari, Tafsir At Thabari  ( Muasasah Ar Risalah,1420) j. 23, h. 360
[6] Fakhrudiin Ar Razi, ( Mafatihal Ghaib,(Beirut: Dar Ihya Turats,1420) j. 29 h. 529
[7] Ibnu Asyur w. 1393, at Tahrir wa Tanwir, ( Tunis: Dar Tunis li Nasyr, 1984) juz 28, h.190
[8] Ibnu Asyur, At Tahrir wa Tanwir, h. 191
[9]  Muhammad Sayid Thantawi , Tafsir Al Wasith lil Qur’anil Karim ( Mesir: Dar Nahdhah Misr, 1997) j. 14, h. 361