Selasa, 04 Oktober 2016

JANGAN MERENDAHKAN ORANG LAIN





يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. ( QS. Al Hujurat [49]: 11)

Tinjauan Bahasa


يَسْخَر
Merendahkan, menghina

Menurut Imam Al Qurthubi:


وَالسُّخْرِيَةُ الِاسْتِهْزَاءُ

Makna Sukhriyah adalah istihza (menghina)[1]

تَلْمِزُوا

Kalian mencela

تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Memangggil dengan panggilan (gelar) buruk

Sabab Nuzul Ayat

نَزَلَتْ فِي عِكْرِمَةِ بْنِ أَبِي جَهْلٌ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مُسْلِمًا، وَكَانَ الْمُسْلِمُونَ إِذَا رَأَوْهُ قَالُوا ابْنَ فِرْعَوْنِ هَذِهِ الْأُمَّةِ. فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ

Ayat ini turun pada Ikrimah bin Abu Jahl saat tiba di Madinah sebagai seoran muslim, adalah kaum muslimin ketika melihatnya berkata,”Dia anak Fir’aun umat ini, kemudian Ikrimah mengadu kepada Rasulullah, lalu turunlah ayat ini.[2]

Sedangkan Ibnu Abbas menyebutkan turunnya ayat ini seperti tercatum dalam tafsirnya:

نزلت هَذِه الْآيَة فى ثَابت ابْن قيس بن شماس حَيْثُ ذكر رجلا من الْأَنْصَار بِسوء ذكر أما كَانَت لَهُ يعير بهَا فِي الْجَاهِلِيَّة فَنَهَاهُ الله عَن ذَلِك

Ayat ini turun pada Tsabit bin Qais bin Syamas, saat seorang lelaki dari kalangan Anshar menyebut buruk dan membuka aib ibunya saat masih jahiliyah. Lalu Allah melarang hal tersebut.[3]

Kandungan Ayat

Ayat ini mengandung pelajaran adab terhadap manusia, baik individu maupun sosial. Larangan Allah bagi kaum muslimin untuk merendahkan dan menghina orang lain. Karena kita tidak tahu kedudukan seseorang di sisi Allah. Boleh jadi orang yang direndahkan dan dihina memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, dan ia lebih baik dari pihak yang menghina dan merendahkan. Orang yang gemar merendahkan orang lain, sungguh ia telah terjatuh dalam sifat sombong. Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam bersabda:

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ، جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ، قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ، أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ، عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin al Mutsanna, dan Muhammad bin Basyar dan Ibrahim bin Dinar, semuanya dari jalur Yahya bin Hammad, berkata Ibnu Mutsanna,”Telah mennceritakan kepadaku Yahya bin Hammad, telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlab, dari Fudhail Al Fukaimi, dari Ibrahim An Nakha’i, dari ‘Alqamah, dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, bersabda,”Tak akan masuk syurga barangsiapa yang di hatinya ada sebiji kecil dari sombong, lalu seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah sesungguhnya ada seseorang yang menyukai pakaian dan alas kaki yang bagus.” Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, No.91)[4]  

Dari hadits di atas dapat diketahui, bahwa sifat sombong memiliki dua unsur:

a.       Menolak kebenaran
b.      Merendahkan manusia
Adapun jika seseorang menyukai life style dari pakaian, alas kaki, kendaraan, rumah dan lainnya, selama tidak menyebabkan kesombongan dan akhirnya menolak kebenaran dan merendahkan manusia maka itu bukan sombong.

Imam Ibnu Katsir memaknai “ Ghamtu An Nas” adalah merendahkan dan mengecilkan manusia, karena orang yang dihina boleh jadi memiliki kedudukan mulia disisi Allah dibanding orang yang menghina.[5]

Imam At Thabari menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum:

إن الله عمّ بنهيه المؤمنين عن أن يسخر بعضهم من بعض جميع معاني السخرية، فلا يحلّ لمؤمن أن يسخر من مؤمن لا لفقره، ولا لذنب ركبه، ولا لغير ذلك

Menurut At Thabari, larangan ini bersifat umum, tidak boleh bagi kaum mukminin menghina sebagian dengan sebagian lain dalam segala makna, tidak halal bagi seorang mukmin menghina mukmin lainnya karena kemiskinan, dosa, dan lainnya.[6]

(وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ)
janganlah suka mencela dirimu sendiri

Seorang muslim ibarat satu tubuh, jika ia mencela mukmin yang lain berarti ia seperti mencela dirinya sendiri.

Abu Zaid Ats Tsa’alibi menyebutkan:[7]


وتَلْمِزُوا معناه: يطعن بعضُكم على بعض بذكر النقائص ونحوه، وقد يكون اللَّمْزُ بالقول وبالإشارة ونحوه مِمَّا يفهمه آخر، والهَمْزُ لا يكون إلاَّ باللسان، وحكى الثعلبيُّ أَنَّ اللمز ما كان في المشهد، والهَمْزَ ما كان في المغيب

·         Talmizu maknanya adalah melukai sebagian dengan sebagian yang lain dengan menyebut kekurangan-kekurangan dan sejenisnya,
·         Al Lamzu dilakukan dengan ucapan dan isyarat yang dipahami orang lain.
·         Al Hamz tidak dilakukan kecuali dengan lisan,
·         Ats Tsa’alibi menyebutkan bahwa Al Lamz dilakukan saat pihak tersebut hadir terlihat, sedangkan Al Hamz dilakukan saat pihak yang dibicarakan tidak hadir.

Meski beragam pendapat tentang Al Hamz dan Al Lamz mengerucut pada makna perbuatan mencela, mengejek orang lain baik secara langsung, maupun tidak, baik didepan objek maupun dibelakang objek yang dibicarakan.

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan”

 Abu Bakar Al Jazairi menegasakan makna ayat tersebut:[8]

لا يدعو بعضكم بعضا بلقب يكرهه نحو يا فاسق يا جاهل

Janganlah memanggil sebagian kalian kepada sebagian lain, dengan gelar (panggilan) yang ia tidak sukai, seperti ,” Wahai fasiq, Wahai Bodoh”.

Seburuk-buruk panggilan adalah, panggilan yang menuduh seseorang fasik tanpa bukti setelah orang tersebut masuk Islam. Dan jika ia tidak bertaubat dengan perbuatan tersebut diatas maka ia termasuk orang zalim.

Kesimpulan:

·         Ayat ini mengandung adab-adab kepada individu dan kelompok, yaitu larangan sombong, merendahkan, menghina, memanggil dengan panggilan buruk.

·         Berhari-hatilah dalam menilai orang lain, apalagi merendahkannya baik dengan kata-kata atau isyarat panca indera, karena boleh jadi mereka yang direndahkan kedudukannya lebih mulia di sisi Allah, dibanding orang yang merendahkan.

والله أعلام


[1] Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, (Kairo: Dal Al Kutub Al Islamiyah,1964) J.16 h. 324
[2] Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, (Kairo: Dal Al Kutub Al Islamiyah,1964) J.16 h. 325

[3] Al Fairuz Abasi, Tanwirul Miqbas Fi Tafsir Ibni Abbas, (Libanon: Dar Kutub Al Ilmiyah) J. 1. H. 436
[4] Imam Muslim bin Hajjaj Abul Hasan al QushairiAn Naisaburi, Shahih Muslim, ( Beirut: Dar Ihya Turats) J. 1 h. 93
[5] Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, (Dar Thaybah Lin Nasyr,1420 H) j. 7 h, 376
[6] At Thabari, Tafsir At Thabari,  22/ 298
[7] Abu Zaid Ats Tsa’alibi, Tafsir Ats Tsa’alibi, Al Jawahir al Hassan Fi Tafsir al Qur’an, (Beirut: Dar Ihya Turats, 1418H) j. 5 h. 272
[8] Jabir Abu Bakar al Jazairi, Aisar Tafasir, (Saudi: Maktabah Al Ulum Wal Hikam, 1424H) 5/127