Kamis, 29 September 2016

KETIKA IMAM GHAZALI BERCERITA TENTANG IMAM SYAFI’I




Ihya Ulumuddin, sebuah karya Magnum Opus[1] dari ulama terkenal Mazhab Syafi’i, dialah Abu Hamid Al Ghazali (450-505 H), terkenal dengan sebutan Imam Al Ghazali, sang Hujjatul Islam (Pembela Islam). 

Kitab yang agung mengupas sisi-sisi unik kehidupan, meski tak sedikit kalangan yang mencibir tentang kitab al Ihya, namun sungguh bagi orang yang berakal sehat, tentu ia akan berfikir bahwa titik noda hitam kecil dalam selembar kain putih, tentu tak sontak merubah warna kain tersebut menjadi hitam.

Lihatlah betapa keluhuran ilmu akhlak seorang ulama,Imam Asy Syafi’I, bukan dirinya yang menceritakan namun seorang ulama besar setelahnya, menceritakan dengan runut dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.

Al Ghazali berkata,”Kami menceritakan ulama Islam, kalian tahu bahwa apa yang kami sebutkan ini bukanlah untuk membuat noda bagi mereka, namun  pada ulama-ulama seperti Imam Malik,  Imam Ahmad, Abu Hanifah dan Sufyan Tasuri terkumpul pada diri mereka sifat-sifat mulia; abid ( ahli ibadah) Zahid (zuhud terhadap dunia) ‘Alim ( berilmu), ikhlas karena Allah  dan Faqih (paham).[2]
Imam Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian, sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk ibadah dan sepertiga lagi untuk tidur.

Berkata Ar Rabi’,” Imam Syafi’i khatam Al Qur’an sebanyak 60 kali pada bulan Ramadhan, semuanya dikhatamkan di dalam shalat.

Imam Syafi’i berkata,” Aku tak pernah kenyang sejak enam belas tahun lalu, karena kekenyangan dapat  menambah berat badan, mengurangi kecerdasan,  membuat hati keras dan malas beribadah.
Imam Syafi’i pernah ditanya tentang suatu permasalahan, namun ia diam tak menjawab, lalu seseorang berkata,” Wahai Imam, mengapa anda tidak menjawab?”. Lalu ia berkata,” Hinga aku tahu keutamaan itu dalam jawaban, atau diamku.”

Imam Syafi’i berkata,” Seorang ahli hikmah menasehati ahli hikmah lainnya,” Engaku telah diberikan ilmu, jangan engkau kotori ilmumu dengan gelapnya dosa, dan engkau tetap dalam kegelapan itu, saat ahli ilmu sedang berjalan dengan cahaya ilmunya”.

Sedangkan sifat zuhudnya terlihat saat Imam Syafi’I berkata,” Barang siapa yang terkumpul dalam dirinya cinta dunia dan cinta sang Pencipta, sungguh ia pendusta”.  Suatu hari Imam Syafi’I menuju Yaman dengan beberapa tokoh, lalu ia kembali menuju Mekkah dengan membawa sepuluh ribu dirham yang dibagi-gabikan kepada manusia, hingga tak tersisa sama sekali. Pernah suatu kali, cemeti yang ada ditangannya terjatuh. Lalu seseorang mengambilkannya dan ia memberikan lima puluh dinar atas perbuatan orang tersebut. karena menurut beliau zuhud adalah, barangsiapa yang mencintai sesuatu ia akan menahannya,taka da orang yang enggan berpisah dengan harta melainkan orang yang merasakan dunia itu kecil dihatinya.   

Telah meriwayatkan Abdullah bin Muhammad al Balwi, ia berkata,”Aku bersama Umar bin Nabatah sedang duduk mengingat seorang hamba ahli ibadah lagi zuhud. Lalu Umar bin Nabarah berkata,”AKu tak melihat orang yang lebih wara’ dan fasih selain Muhammad bin Idris  Asy Syafi’i”.
Suatu hari  Al Harits bin Labid pergi ke Shafa, ia adalah murid Shalih al Mari, ia dikaruniai suara yang indah, saat sedang shalat ia membaca ayat Al Qur’an:

هَذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُونَ (35) وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ (36)

Inilah hari saat mereka tidak bisa berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan”. (QS. Al Mursalat: 35-36)

Aku melihat Imam Syafi’I setelah mendengar ayat itu, memucat warna kulitnya, bergetar hebat dan akhirnya terjatuh pingsan. Saat terjaga ia berdoa:

“Aku berlindung dari termasuk golongan pendusta dan pembangkang”. Ya Allah Engkaulah tempat tunduknya hati-hati orang-orang yang arif dan merindukan-Mu, ya Allah berikanlah kemurahanmu dan pengampunanmu untuk mengampuni kelemahan dan kekurangan ku dengan kemuliaan wajah-Mu ya Allah”.

Obat dari Riya

Imam Syaf’i pernah ditanya tentang sifat riya, lalu beliau menjawab: “Jika engkau bangga dengan amalmu , lihatlah keridhaan Allah, pahala apa yang kau harapkan, azab apa yang kau takuti, nikmat apa yang kau syukuri, ujian apa yang kau ingat, jika engkau berfikir satu saja dari sifat tersebut, maka amalmu akan terasa kecil.

Imam Syafi’I berkata

من لم يصن نفسه لم ينفع علمه, من أطاع الله تعالى بالعلم نفعه سره ,ما من أحد إلا له محب ومبغض ,فإذا ان كذالك فكن مع أهل طاعة الله عز وجل

Barangsiapa yang tidak bisa menjaga dirinya, maka ilmunya sia-sia, barangsiapa yang menaati Allah dengan ilmunya, Allah akan memberi manfaat secara diam-diam, taka da seorangpun melainkan ia memiliki yang dicinta dan dibenci, hendaklah kalian bersama ahli taat kepada Allah.[3]

 Imam Ahmad berkata,”Aku shalat selama 40 tahun lalu, aku selalu mendoakan Imam Syafi’I . lihatlah betapa akhlaq para ulama terdahulu keluhuran budi pekertinya. Itulah sekelumit yang diceritakan Al Ghazali. Ia berkata,”Aku menukilkan kisah tersebut dari kitab Manaqib As Syafi’i Syaikh Nasr bin Ibrahim Al Maqdisi, semoga Allah merahmati beliau semuanya.


[1] Fenomenal, karya besar
[2] Abu Hamid Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 1971) j. 1h. 41
[3] Ihya Ulumuddin hal. 44