Selasa, 22 November 2016

GURU; PAHLAWAN TANPA TANDA JASA


Sebentar lagi hari guru nasional, tepatnya 25 November bertepatan dengan hari lahirnya PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).
Guru,ustadz atau dosen adalah sinonim untuk orang yg berprofesi mengajar,memberi informasi baru dan memberi pencerahan di masyarakat baik melalui karya karya ilmiahnya maupun dengan keluhuran pribadinya.

Namun, bagaimana nasib guru, ulama dan ustadz sekarang? Anda pasti sudah tahu jawabannya. Memang ada guru yang serius mengajar ikhlas karena Allah,apalagi yg tinggal di daerah terpencil dg transportasi sulit. Harus menyeberangi sungai,bahkan tak jarang yg menginap meninggalkan anak dan istri. Tentu bisa di tebak berapa gaji mereka, mungkin hanya angka nol 4 digit, bahkan kadang tidak digaji, atau kadang telat.

Lain lagi dengan guru di perkotaan, untuk sekolah negeri berbeda dengan sekolah swasta. Guru disekolah negeri relatif lebih makmur dari segi gaji dan tunjangan. Rata rata mereka sdh punya rumah dan kendaraan roda empat. Berbeda dg guru swasta,relatif masih banyak yg 'ngontrak' dan kendaraannya motor 'jadul'. Padahal terkadang guru swasta lebih gigih mengajar dibanding guru negeri.
Belum selesai disitu, guru swasta yang mengajar disebuah yayasan, acap kali menjadi 'kelinci percobaan' dengan hak dan kewajiban yg bertolak belakang,bahkan banyak yayasan yang bersikap " Lu mau ngajar disini,ya harus ikut aturan sini,kalo ngga ya silahkan keluar". Sebuah kata kata bijak itu.

Nasibmu guru...
Digaji kecil untuk tugas yang sangat besar. Seperti amanat UUD 45" Mencerdaskan Kehidupan Bangsa". Cerdas secara akademik dan moral yang terpuji. Bahkan ada orang yg bilang, guru itu digaji main main untuk kerja serius. Kalau artis digaji serius untuk kerja main main.
Tapi ya begitulah...rata rata yayasan swasta hampir punya kisah yang mirip. Kepentingan, tekanan pemodal, hubungan antar karyawan, kesenjangan dan buruknya management.
Belum lagi tantangan guru swasta yg bekerja pada yayasan yg mematok tarif mahal utk uang masuk dan SPP,jelas orang orang kaya saja yg sekolah. Disini muncul permasalahan orang kaya, susah diatur dan sedikit sopan santun. Ya iyalah...

Mereka kan sudah bayar mahal,seolah nasib guru ada ditelunjuk mereka, boro boro salam, yang ada melengos dan acuh..
Namun guru tetap sabar....
Itu lagi menjadi tugas guru, memperbaiki moral murid murid manja itu. Terkadang guru harus mengalahkan keluarga mereka demi perbaikan akhlaq murid murid itu.
Salah satu kesalahan orang tua adalah menyerahkan sepenuhnya tugas perbaikan kepada guru, padahal sekolah,guru dan keluarga merupakan tiga pilar peradaban, tidak bisa hanya diserahkan kepada guru saja.

Belum lagi ancaman hukum dari laporan orang tua yang tak rela anaknya hanya sekedar di cubit, padahal bukan bermaksud melukai, namun karena murid tersebut yang sudah kebangetan banget dah. akhirnya nasib sang guru kebalik jeruji besi. manakah keadilan itu?

Namun ada keyakinan yg patut diacungkan jempol buat guru. Mereka mengajar ikhlas karena Allah,meski kadang beban hidup menghimpit.
Jika kau bertanya kepada guru, apakah yang membuat mereka bahagia? Mereka akan menjawab,"Saat kami melihat kesuksesan pada anak didik kami"
Jika kau bertanya, apa yang mereka inginkan? Mereka hanya menginginkan keberkahan hidup. Biarlah gaji kecil, namun ilmu berkah dan hidup berkah. Biarlah Allah yang menambahkan kekurangan itu.

Jika kau bertanya apa harapan mereka kelak di akherat? Mereka akan menjawab,"Aku berharap bisa masuk syurga bersama murid muridku,mereka yg menuntunku masuk kedalam syurga".
Jika gurumu masih hidup, hampiri dia, cium tangannya, boleh jadi kesuksesanmu adalah buah dari doa doa mereka, saat hanya mereka dan Allah saja yang tahu.

Selamat hari guru
Semoga ikhlas dengan ilmu dan amalmu