Minggu, 02 Juli 2017

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS (Bag. 1)



A.      Identifikasi Surat
·         Urutan Surat ke-112
·         Termasuk kedalam surat Makiyyah, ini pendapat Ibnu Mas’ud, Atha, Ikrimah, Al Hasan dan Jabir. Sedangkan menurut Qatadah, Ad Dhahaq dan As Sudi serta salah satu pendapat Ibnu Abbas, merupakan Madaniyah.[1]
·         Terdiri dari 4 ayat 15 kalimat dan 47 huruf.[2]
·         Nama Lain Surat Al Ikhlas:[3]
-          Surat Al Ma’rifah (Pengetahuan)
-          Surat Al Jamâl (Keindahan)
-          Surat Tauhid ( Keesaan Allah)
-          Surat An Najat (Keselamatan)
-          Surat An Nur (Cahaya)
-          Surat Al Muawizah (Perlindungan)
-          Surat Al-Mani’ah (karena ia dapat menyelamatkan dari fitnah kubur dan api neraka)
-          Surat Bara’ah ( karena ia merupakan pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan)
-          Fakruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib menambahkan nama-nama surat ini menjadi 18 nama, termasuk didalamnya nama Al-Ikhlas.

B.      Sabab Nuzul

·         Menurut Imam At –Thabari
ذُكر أن المشركين سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نسب ربّ العزّة، فأنزل الله هذه السورة جوابا لهم. وقال بعضهم: بل نزلت من أجل أن اليهود سألوه، فقالوا له: هذا الله خلق الخلق، فمن خلق الله؟ فأُنزلت جوابا لهم. ذكر من قال: أنزلت جوابا للمشركين الذين سألوه أن ينسب لهم الربّ تبارك وتعالى
“Telah disebutkan bahwa kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah Shalallah alaihi wasallam, tentang nasab Allah yang Maha Mulia, kemudian Allah turunkan surat ini sebagai jawaban atas mereka. Sebagian mereka berkata,”Akan tetapi turun atas perkara Yahudi yang bertanya kepada Rasulullah, mereka berkata,”Ini Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah? Lalu Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban kepada mereka. Telah disebutkan orang yang berkata,”Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan tentang nasab Allah Tabaraka Wa Ta’ala.[4]

·         Menurut Ibnu Katsir

وَقَالَ عِكْرِمَةُ: لَمَّا قَالَتِ الْيَهُودُ: نَحْنُ نعبد عُزيرَ ابْنَ اللَّهِ. وَقَالَتِ النَّصَارَى: نَحْنُ نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ. وَقَالَتِ الْمَجُوسُ: نَحْنُ نَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. وَقَالَتِ الْمُشْرِكُونَ: نَحْنُ نَعْبُدُ الْأَوْثَانَ -أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
Berkata Ikrimah,”Kaum Yahudi berkata,” Kami menyembah ‘Uzair putra Allah, dan kaum Nashara berkata,” Kami menyembah Al-Masih putra Allah, berkata kaum Majusi,”Kami menyembah matahari dan bulan,  serta berkata kaum Musyrikin,” Kami menyembah patung berhala”- kemudian Allah menurunkan ayat ini:

{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
“ Katakanlah Dia-lah Allah Yang Maha Esa” (QS. Al-Ikhlas:1)

·         Menurut Muhammad An Nawawi Al-Bantani

Beliau menyebut hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas,

أن عامر بن الطفيل وأربد بن ربيعة أتيا النبي صلّى الله عليه وسلّم فقال عامر: إلى من تدعونا يا محمد؟ فقال: «إلى الله تعالى» قال: صفه لنا أمن ذهب هو، أم من فضة، أم من حديد، أم من خشب؟ فنزلت هذه السورة، وأهلك الله تعالى أربد بالصاعقة، وعامر بن الطفيل بالطاعون
Bahwasanya ‘Amir bin Thufail dan Arbad bin Rabi’ah datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wasallam, lalu berkata ‘Amir,” Kepada siapakah kita berdoa wahai Muhammad?” lalu Rasulullah bersabda,” Kepada Allah”, lalu ia bertanya lagi, “ Gambarkan kepadaku terbuat dari apakah Dia, emas, perak, besi atau kayu? Lalu turunlah surat ini, dan Allah membinasakan Arbad dengan sebuah suara yang keras, dan ‘Amir bin Thufail dengan penyakit Tha’un”.[5]


C.      Mengapa Surat Ini Dinamakan Surat Al Ikhlas?

Fakhruddin Ar Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib beliau menyebutkan, salah satu nama surat ini adalah Al-Ikhlas ( الاخلاص ) dengan memberikan keterangan:

وَلِأَنَّ مَنِ اعْتَقَدَهُ كَانَ مُخْلِصًا فِي دِينِ اللَّهِ، وَلِأَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَيْهِ كَانَ خَلَاصَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang berkeyakinan secara ikhlas dalam agama Allah, dan orang yang wafat dalam agama Allah ia akan terbebas dari api neraka”. [6]

Artinya memurnikan tauhid dan keyakinan dalam berketuhanan hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain, atau menyamakan Allah dengan yang lain. Dan orang yang wafat dalam bertauhid ia akan diselamatkan dari siksa neraka.

D.      Keutamaan Surat Al Ikhlas

·         Setara dengan sepertiga Al-Qur’an
Hadits yang bersumber dari Qatadah bin Nu’man saat seseorang shalat pada malam hari dengan membaca surat Al Ikhlas dan tidak membaca yang lain lalu nabi bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya sesungguhnya ia (surat Al Ikhlas ) setara dengan sepertiga Al-Qur’an” (HR. Bukhari No. 4627)

Dalam riwayat Imam Ahmad juga menyebutkan:

 عن أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارًا يَقُومُ اللَّيْلَ لا يَقْرَأُ إِلا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ كَأَنَّهُ يُقَلِّلُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Dari Abu Said Al Khudri menceritakan, ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah,” Aku memiliki tetangga yang shalat malam tidak membaca surat lain selain Qul Huwallahu Ahad, seperti ia menyederhanakan shalatnya. Maka Nabi bersabda,” Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya sesungguhnya ia (surat Al Ikhlas ) setara dengan sepertiga Al-Qur’an”. (Musnad Ahmad No. 10965)



·         Surat perlindungan dari segala marabahaya

وعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, bahwa Nabi Shalallah alaihi wasallam jika hendak tidur setiap malamnya beliau mengumpulkan kedua telapak tangan, kemudian meniupkan pada keduanya, dan membaca,” Qul Huwallahu Ahad, Qul A’uzubirabbil Falaq, dan Qul A’uzubirabbinnas lalu mengusapkan sebisa mungkin keseluruh badan dimulai dari kepala lalu ke wajah dan keseluruh tubuh sebanyak tiga kali”. (HR. Bukhari No. 4630)

·         Barangsiapa yang membaca Surat Al Ikhlas akan dicintai Allah

وعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ رواه البخاري 6827
Dari Aisyah bahwasanya Nabi Shalallahu alaihi wasallam mengutus seorang laki-laki  kepada rombongan pasukan, orang tersebut membaca Qul Huwallahu Ahad pada setiap akhir shalatnya. Saat ia kembali, orang-orang menyebutkannya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam, dan beliau bersabda,”Tanyakan kepadanya, mengapa ia lakukan hal tersebut?”. lalu mereka bertanya kepada laki-laki tersebut dan ia menjawab,”Karena surat Al-Ikhlas adalah sifat Ar Rahman dan aku cinta untuk membacanya. Lalu Rasulullah bersabda,” Kabarkan kepada laki-laki tersebut, bahwasanya Allah mencintainya.” (HR.Bukhari No. 6827)

·         Berhak mendapat Syurga

و عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَالَ وَجَبَتْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا وَجَبَتْ قَالَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ .
Dan dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam mendengar seseorang membaca Qul Huwallahu Ahad, lalu beliau bersabda,” Wajabat”. Para sahabat bertanya,” Apakah makna wajabat wahai Rasulullah?”, beliau menjawab,”Wajib untuknya syurga”. (HR. Ahmad No. 7669)

E.       KANDUNGAN UMUM SURAT AL IKHLAS
Menurut Ibnu Asyur, kandungan surat Al Ikhlas adalah sebagai berikut:[7]
a.       Mengukuhkan Ke-Esaan Allah
b.      Mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak untuk Allah
c.       Menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang tidak memiliki keturunan dan tidak pula berasal dari makhluk lain, seperti tuduhan kaum Nasrani dan Yahudi.
d.      Menguatkan bahwa Allah tidak ada yang bisa menyamai-Nya dalam segala hal.

والله أعلم




[1] Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 20/244
[2] Sirajuddin Amr bin Ali, Al-Lubab Fi Ulum Al Kitab, 20/559
[3] Muhammad An Nawawi Al-Bantani, Murah Labid, 2/678
[4] Tafsir AT Thabari, 24/687
[5] Muhammad AN Nawawi Al- Bantani, Murah Labid, 2/678
[6] Fakhruddin Ar Raji, Mafatih Al Ghaib, 32/357
[7] Ibnu Asyur, At Tahrir wa tanwir, 30/612