Selasa, 18 Juli 2017

TAFSIR SURAT AL IKHLAS (BAG.2)


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah,’ Dialah Allah Tuhan yang Esa”

Islam memiliki konsep Ketuhanan yang sempurna, tidak seperti penganut agama dan kepercayaan lain, yang memiliki beragam asumsi terhadap “Tuhan”.  Ada yang meyakini benda sebagai sesembahan, ada juga yang, Buktinya ayat pertama ini menjelaskan  bahwa Allah merupakan Illah, sesembahan yang tunggal. Tidak seperti keyakinan Nasrani dengan ajaran Trinitas, juga tidak seperi keyakinan kaum musyrikin yang menganggap banyak sesembahan (Politheis). Tidak juga seperti kaum yang anti Tuhan (Atheis). Tiada sekutu bagi Allah,  dan Dia adalah Dzat yang paling berhak disembah.

1.      Sabab Nuzul Ayat

Sebab turun ayat ini seperti telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, pendapat dari Ikrimah:
Saat kaum Yahudi mengatakan, “Kami menyembah  Uzair anak Allah, kaum Nashrani  mengatakan,”Kami menyembah Al Masih anak Allah, lalu kaum Majusi  mengatakan,”Kami menyembah matahari dan bulan, dan orang-orang musyrik mengatakan,” Kami menyembah patung”, kemudian Allah menurunkan ayat ini kepada Rasulullah Shalallah alaihi wasallam.[1]

2.      Makna Illah

Secara bahasa illah berasal dari kata:

اَلَهَ - يَأْلَهُ –اِلَاهًا و آلـِهَةً

Bentuk dasar الإله menjadi الله  artinya sesembahan.[2] Artinya Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.

Perbedaan al-Illah dan Rabb

Menurut Ibnu Taiymiyah perbedaan antara Illah dan Rabb terkait pada:

 الإله - يتضمن غاية العبد ومصيره ومنتهاه وما خلق له وما فيه صلاحه وكماله وهو عبادة الله والاسم الثاني – 

الرب - يتضمن خلق العبد ومبتداه وهو أنه يربه ويتولاه

Makna Al illah, mencakup esensi penghambaan yang paripurna, apa yang diciptakan-Nya terdapat kebaikan dan kesempurnaan, yaitu penyembahan kepada Allah. Sedangkan makna Ar-Rabb, mencakup makna penciptaan makhluk dan permulaannya, dan Allah mengatur. [3]

Artinya, jika disebut kata Al Ilah atau Allah, maknanya adalah Allah saja yang berhak dijadikan sesembahan. Sedangkan jika disebut makna Ar-Rabb, maka Allah saja yang mengatur, menciptakan dan mencukupi seluruh kebutuhan makhluk-Nya.

3.      Makna Ahad ( لأحد ا)

Menurut Ibnu Asyur, kata Ahad ( احد ) adalah isim (kata benda) yang bermakna Wahid (واحد).


قُلِبَتِ الْوَاوُ هَمْزَةً عَلَى غَيْرِ قِيَاسٍ لِأَنَّهَا مَفْتُوحَةٌ وَمَعْنَاهُ مُنْفَرِدٌ

“Berubah Wawu (و ) menjadi al-Hamzah (ا ) tanpa Qiyas karena berharakat Fathah, artinya tunggal (munfarid).[4]

فَوَصْفُ اللَّهِ بِأَنَّهُ أَحَدٌ مَعْنَاهُ: أَنَّهُ مُنْفَرِدٌ بِالْحَقِيقَةِ الَّتِي لُوحِظَتْ فِي اسْمِهِ الْعَلَمِ وَهِيَ الْإِلَهِيَّةُ الْمَعْرُوفَةُ
وَإِذَا قِيلَ: اللَّهُ وَاحِدٌ، فَالْمُرَادُ أَنَّهُ وَاحِدٌ لَا مُتَعَدِّدٌ فَمَنْ دُونَهُ لَيْسَ بِإِلَهٍ. وَمَآلُ الْوَصْفَيْنِ إِلَى مَعْنَى نَفْيِ الشَّرِيكِ لَهُ تَعَالَى 
فِي إِلَهِيَّتِهِ.

Sifat Allah dengan kata Ahad (احد ) maknanya,” Dia tunggal dalam hakikat, yang artinya Sesembahan yang diketahui, jika sifat Allah Wahid ( (واحد, maka maksudnya adalah tunggal, tidak berbilang tiada Tuhan selain Allah, kedua makna diatas menafikan sekutu bagi-Nya dalam penyembahan.[5]

Imam As Syaukani menukil pendapat Al-Azhari,”Tidaklah disifati dengan Ke-Esa-an melainkan hanya Allah saja.[6]

4.      Pendapat para Mufassirin

a.      Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi
Beliau menyebutkan dalam tafsirnya, Tafsir Al-Maraghi:

قل لمن سألك عن صفة ربك: الله هو الواحد المنزه عن التركيب والتعدّد، لأن التعدد فى الذات مستلزم لافتقار المجموع إلى تلك الأجزاء والله لا يفتقر إلى شىء
“Katakanlah bagi siapa saja yang bertanya tentang sifat Tuhan-mu ( Muhammad),”Allah Dia-lah yang Esa, suci dari gabungan dan penjumlahan, karena penjumlahan dalam Dzat yang Pasti tidak menerima gabungan pada bagian-bagian tersebut, dan Allah tak kurang apapun”.[7]

b.      Syekh Wahbah Az-Zuhaily

Beliau menyebutkan dalam tafsir Al-Munir:

واحد في ذاته وصفاته، لا شريك له، ولا نظير ولا عديل. وهذا وصف بالوحدانية ونفي الشركاء. والمعنى: هو اللَّه الذي تعرفونه وتقرّون بأنه خالق السموات والأرض وخالقكم، وهو واحد متوحد بالألوهية، لا يشارك فيها

Allah adalah Tunggal dalam Zat dan Sifat-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang setara dengan-Nya. Inilah sifat Wahdaniyah (Ke-Esaan) yang menafikan sekutu-sekutu. Maknanya Dialah Allah yang kau ketahui, kau yakini, Dia-lah Pencipta langit dan bumi, Dia-lah Esa dalam penyembahan, tiada sekutu didalamnya.[8]

c.       Menurut Ats Tsa’labi

وَاحدٌ فَرْدٌ مِنْ جميعِ جِهَاتِ الوَحْدَانِيَّة، ليس كمثله شيء
Allah Maha Esa, Yang Tunggal dalam segala kondisi Ke-Esaannya, tiada yang serupa dengan-Nya. [9]

5.      Kesimpulan

a.      Konsep Ketuhanan dalam Islam sangat sempurna tidak seperti penganut kepercayaan lain.
b.      Allah Maha Esa, dalam segala hal dan tiada sekutu bagi Allah
c.       Makhluk tiada yang serupa dan setara dengan Al Khaliq.


والله أعلم



[1] Tafsir Ibnu Katsir, 8/527
[2]  Al Jauhari, Mukhtarus Shihah, 6/2223
[3] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 14/12
[4] Ibnu Asyur, At Tahrir wa At Tanwir, 30/613
[5]  Ibnu Asyur, At Tahrir wa At Tanwir, 30/614

[6] As Syaukani, Fathul Qadir, 5/633
[7] Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Mesir: Syarikah Musthafa Al Halbi, 1365H), 30/265
[8] Syekh Wahbah Az-Zuhaily, ( Tafsir Al Munir, (Damaskus:Dar Al-Fikr Al Muashir, 1418H), 30/465
[9] Ats-Tsa’labi, Al Jawahirul Hisan, 5/638