Minggu, 10 April 2016

KISAH NABI MUSA YANG DIDUSTAKAN OLEH KAUMNYA



Firman Allah
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ 
الْفَاسِقِينَ

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya,”Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu”. Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) Allah memalingkan hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.(QS. As Shaff:5)

Tinjauan Bahasa

لِمَ تُؤْذُونَنِي

Menyakitiku

زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ

Mereka berpaling, Allah palingkan mereka

وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik

Kandungan Ayat

Sosok nabi Musa Alaihissalam yang dijadikan ibrah (pelajaran) pada ayat ini memiliki berbagai keistimewaan, dari sekian banyak ujian kesabaran dalam kehidupan. Perjalanan nabi Musa Alaihissalam dalam mengajak kaumnya untuk menyembah dan taat hanya kepada Allah, merupakan kisah hidup terhadap beragam pembangkangan mereka.  bahkan nyata-nyata menyakiti Rasul yang diutus Allah. Belum lagi kisah Musa dengan pemimpin zalim, Fir’aun beserta tukang sihirnya. Menyeruak tegas dalam sejarah para nabi yang penuh dengan perjuangan menyebarkan kalimat tauhid kepada manusia. Bahwa selalu akan ada golongan pada suatu masa yang hendak menghalangi kebenaran dan memadamkan cahaya Allah.
 
Berikut ini beberapa bentuk pembangkangan Bani Israil kepada nabi Musa yang tecantum di dalam Al Qur’an, diantaranya:

1.      Meminta kepada nabi Musa agar membuatkan berhala untuk mereka
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, Bani Israil berkata,” Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagai mana mereka mempunyai nbeberapa berhala.”Musa berkata,” Sesungguhnya kamu ini kaum yang tak mengetahui (jahil) “.(QS Al A’raf:138)

Kaum nabi Musa yang baru saja diselamatkan dari kejaran Fir’aun, langsung membangkan perintah Nabinya, sungguh ini adalah penistaan terhadap kehormatan nabi Musa.

2.      Membangkang  perintah nabi Musa
قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ (24)

“ Mereka berkata,”Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasuki selama-lamanya, selagi mereka berada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja ( QS. Al Maidah:24)

Bani Israil enggan menuruti perintah nabi Musa agar mereka masuk ke tanah yang suci ( ardhul Muqadasah). Karena takut kepada penduduk negeri tersebut yang kuat.

Imam Al Mawardi menyebutkan dalam tafsirnya yang dimaksud dengan Ardhul Muqadasah adalah[1]:
·         Baitul Maqdis di Palestina ( pendapat Ibnu Abbas, As Suddy)
·         Damaskus, Palestina dan sebagian Yordania ( pendapat Az Zujaj)
·         Syam ( pendapat Qatadah)

3.      Meminta kepada Musa agar memperlihatkan Tuhannya

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُون
“Dan (ingatlah) ketika kalian berkata,” Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, nyata, karena itu kalian disambar petir, sedang kamu menyaksikan.”(QS. Al Baqarah:55)

Ayat ini salah satu ciri, betapa “keras kepala”  kaum Bani Israil, yang meminta kepada Allah agar bisa melihat-Nya secara kasat mata, kemudian Allah mengutus halilintar yang menyambar tubuh mereka, merekapun terbakar dan mati.[2]

4.      Meminta kepada nabi Musa dengan makanan pengganti

{وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata,” Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu, sayur mayur, ketimun, bawang putih, kacang Adas dan bawang merahnya……(QS. Al Baqarah:61)

Makanan mereka selama di Mesir adalah as Salwa ( sejenis burung Merpati)  dan minumannya disebut al Manna (minuman sejenis madu).[3]  Karena pembangkangan merekalah akhirnya Allah menghukum Bani Israil dengan berbagai macam hukuman, namun tetap saja mereka menekan nabi Musa agar menuruti keinginan-keinginan mereka tersebut, agar Musa meminta kepada Allah untuk mengeluarkan makanan dari bumi seperti sayuran, ketimun, bawang dan sejenisnya.

5.      Melenceng dari jalan kebenaran

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُم
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) Allah memalingkan hati mereka ( QS. As Shaff:5)

Al Qusyairi dalam tafsirnya menyebutkan[4]:
لمّا زاغوا عن طريق الرّشد أزاغ الله قلوبهم بالصدّ والردّ والبعد عن الودّ.
لمّا زاغوا بظواهرهم أزاغ الله سرائرهم.
لمّا زاغوا عن خدمة الباب أزاغ الله قلوبهم عن التشوّق إلى البساط.
لمّا زاغوا عن العبادة أزاغ الله قلوبهم عن الإرادة.
Ketika mereka berpaling dari jalan petunjuk, maka Allah akan palingkan hati mereka, tertutup dari kebenaran, jauh dari sifat kasih sayang.  Ketika mereka berpaling secara lahir, maka Allah akan palingkan bathin mereka. Ketika  mereka berpaling dari jiwa berkhidmat, maka hati mereka akan dipalingkan  dengan hasrat kepuasan tanpa batas.
Ketika mereka berpaling dari ibadah, maka Allah akan palingkan hati mereka dari iradah (keinginan baik)

Allah tidak memberi petunjuk kaum yang fasik

  وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”

Al Baidhawi menyebutkan dalam tafsirnya:
فَلَمَّا زاغُوا عن الحق. أَزاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ صرفها عن قبول الحق والميل إلى الصواب. وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفاسِقِينَ هداية موصلة إلى معرفة الحق أو إلى الجنة
Saat mereka ( Bani Israil ) berpaling dari kebenaran, maka Allah palingkan hati mereka sehingga menjauh dari kebenaran atau condong kepadanya. Allah tak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik, petunjuk yang menyampaikannya kepada pengetahuan tentang kebenaran atau surga[5].

Menurut tafsir Abi Su’ud, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik yang masuk dalam kategori berikut[6]:

·         Keluar dari ketaatan dan manhaj (system) kebenaran
·         Musirrun (terus-menerus) dalam kefasikan, tidak mau taubat
·         Fasik secara umum atau fasik sebagian (memiliki salah satu  dari sifat fasik) jika dilakukan secara terus-menerus.

والله أعلم



[1] Al Mawardi, An Nakat wal Uyun, jilid 2 (Libanon: Dar al Kutub Al Ilmiyah)  h. 55
[2] Wahbah Zuhaili, Tafsir al Munir  jilid 1 ( Beirut: Dar Fikr, 1418H) h. 164
[3] Imam At Thabari, Tafsir at Thabari, jilid 2 ( Muasasah Ar Risalah, 1420H). H. 125
[4] Abdul Karim bin Hawazin Al Qusyairi, Lathaiful Isyarat, jilid 3 ( Mesir: Haiah al Mishriyah al Amah lil Kutub) h. 576
[5] Al Baidhawi, Anwaru Tanzil wa Asrar Ta’wil, jilid V (Beirut:Dar Ihya Turats, 1418H) h. 286
[6] Abu Suud (w.982H), Irsyad  Al “Aql As Salim Ila Mazaya al Kitab Al Karim, jilid VIII ( Beirut: Dar Ihya Turats) h. 243