Selasa, 04 Juni 2013

Semua Tentang Nikah Siri


 

Akhir-akhir ini berkembang fenomena baru dikalangan masyarakat kita yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan alasan tertentu pula, baik perilaku mereka  bisa diterima ataupun tidak, yang jelas tren baru ini sudah berkembang ditengah-tengah kita. Muali dari kalangan politisi, pejabat publik, tokoh kondang, ulama, artis, bahkan sampai tukang becak sekalipun. Berbagai statemen dan justifikasi atas perilaku mereka menghiasi berbagai media cetak dan elektronik dan  dikonsumsi oleh siapa saja tanpa pandang usia dan latar belakang pendidikannya. Nah, bagaimanakan Islam menyikapi fenomena nikah siri tersebut? Berikut pembahasannya.
 
Pengertian nikah siri

Secara bahasa siri artinya rahasia atau sembunyi-sembunyi.
Secara istilah, nikah siri mengandung dua pengertian yaitu:
A.    Nikah tanpa wali dari pihak wanita
Menikah tanpa wali dari pihak wanita, hukumnya tidak sah karena wali merupakan syarat selain kedua calon mempelai, ijab qabul, mahar  dan saksi.
Salah satu syarat bila tidak terpenuhi  dengan sesuatu maka tidak sah hukum sesuatu itu tersebut.
Sehingga Ibnu Qudamah menyatakan:
"ما يلزم من عدمه عدم الحكم، ولا يلزم من وجوده وجود ولا عدم لذاته"
 “ Apa apa yang karena ketiadaanya hukum menjadi tidak ada, namun tidak berarti keberadaanya menjadi hukum menjadi ada atau tidak ada zatnya”[1]
Nikah siri  dengan pemahaman yang pertama, statusnya tidak sah, sebagaimana yang ditegaskan mayoritas ulama. Karena di antara syarat sah nikah adalah adanya wali dari pihak wanita. Di antara dalil yang menegaskan haramnya nikah tanpa wali adalah:
Pertama, hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
Tidak ada nikah (batal), kecuali dengan wali.”[2]
Kedua, hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
Wanita manapun yang menikah tanpa izin wali, maka nikahnya batal.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan baihaqi)

Dan masih banyak riwayat lainnya yang senada dengan keterangan di atas, sampai Al-Hafidz Ibn Hajar menyebutkan sekitar 30 sahabat yang meriwayatkan hadis semacam ini.  (At-Talkhis Al-Habir, 3:156).

Kemudian, termasuk kategori nikah tanpa wali adalah pernikahan dengan menggunakan wali yang sejatinya tidak berhak menjadi wali. Beberapa fenomena yang terjadi, banyak di antara wanita yang menggunakan wali kiyai gadungan atau pegawai KUA, bukan atas nama lembaga, tapi murni atas nama pribadi. Sang Kyai dalam waktu hitungan menit, didaulat untuk menjadi wali si wanita, dan dilangsungkanlah pernikahan, sementara pihak wanita masih memiliki wali yang sebenarnya.

Jika nikah siri dipahami sebagaimana di atas, maka pernikahan ini statusnya batal dan wajib dipisahkan. Kemudian, jika keduanya menghendaki untuk kembali berumah tangga, maka harus melalui proses pernikahan normal, dengan memenuhi semua syarat dan rukun yang ditetapkan syariah.


B.     Nikah tanpa dicatatkan secara resmi dilembaga pernikahan atau Kantor Urusan Agama ( KUA).

Selanjutnya, jika yang dimaksud nikah siri adalah nikah di bawah tangan, dalam arti tidak dilaporkan dan dicatat di lembaga resmi yang mengatur pernikahan, yaitu KUA maka status hukumnya sah, selama memenuhi syarat dan rukun nikah. Sehingga nikah siri dengan pemahaman ini tetap mempersyaratkan adanya wali yang sah, saksi, ijab-qabul akad nikah, dan seterusnya.

Hanya saja, pernikahan semacam ini sangat tidak dianjurkan, karena beberapa alasan:

Pertama, pemerintah telah menetapkan aturan agar semua bentuk pernikahan dicatat oleh lembaga resmi, KUA. Sementara kita sebagai kaum muslimin, diperintahkan oleh Allah untuk menaati pemerintah selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat. Allah berfirman,



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa: 59). Sementara kita semua paham, pencatatan nikah sama sekali tidak bertentangan dengan aturan Islam atau hukum Allah.

Kedua, adanya pencatatan di KUA akan semakin mengikat kuat kedua  lah pihak. Dalam Alquran, Allah menyebut akad nikah dengan   perjanjian yang kuat (مِيثَاقًا غَلِيظًا), sebagaimana yang Allah tegaskan di surat An-Nisa: 21.
Nah, surat nikah ditujukan untuk semakin mewujudkan hal ini. Dimana pasangan suami-istri setelah akad nikah akan lebih terikat dengan perjanjian yang bentuknya tertulis. Terlebih kita hidup di zaman yang penuh dengan penipuan dan maraknya kezhaliman. Dengan ikatan semacam ini, masing-masing pasangan akan semakin menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami atau sebagai istri.

Ketiga, pencatatan surat nikah memberi jaminan perlindungan kepada pihak wanita.
Dalam aturan nikah, wewenang cerai ada pada pihak suami. Sementara pihak istri hanya bisa melakukan gugat cerai ke suami atau ke pengadilan. Yang menjadi masalah, terkadang beberapa suami menzhalimi istrinya berlebihan, namun di pihak lain dia sama sekali tidak mau menceraikan istrinya. Dia hanya ingin merusak istrinya. Sementara sang istri tidak mungkin mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama, karena secara administrasi tidak memenuhi persyaratan.


Hukum Positif Indonesia

Undang-Undang (UU RI) tentang Perkawinan No. 1 tahun 1974 diundang-undangkan pada tanggal 2 Januari 1974 dan diberlakukan bersamaan dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yaitu Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Menurut UU Perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 UU Perkawinan). Mengenai sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan terdapat pada pasal 2 UU Perkawinan, yang berbunyi: "(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku."
Dari Pasal 2 Ayat 1 ini, kita tahu bahwa sebuah perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Ini berarti bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabul telah dilaksanakan (bagi umat Islam) atau pendeta/pastur telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya, maka perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata agama dan kepercayaan masyarakat. Tetapi sahnya perkawinan ini di mata agama dan kepercayaan masyarakat perlu disahkan lagi oleh negara, yang dalam hal ini ketentuannya terdapat pada Pasal 2 Ayat 2 UU Perkawinan, tentang pencatatan perkawinan . Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam pencatatan dilakukan di KUA untuk memperoleh Akta Nikah sebagai bukti dari adanya perkawinan tersebut. (pasal 7 ayat 1 KHI "perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah"). Sedangkan bagi mereka yang beragama non muslim pencatatan dilakukan di kantor Catatan Sipil, untuk memperoleh Akta Perkawinan.
Mengenai pencatatan perkawinan, dijelaskan pada Bab II Pasal 2 PP No. 9 tahun 1975 tentang pencatatan perkawinan. Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di KUA. Sedangkan untuk mencatatkan perkawinan dari mereka yang beragama dan kepercayaan selain Islam, cukup menggunakan dasar hukum Pasal 2 Ayat 2 PP No. 9 tahun 1975. Tata cara pencatatan perkawinan dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9 PP No. 9 tahun 1975 ini, antara lain setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan secara lisan atau tertulis rencana perkawinannya kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan, selambat-lambatnya 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Kemudian pegawai pencatat meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan perkawinan menurut UU. Lalu setelah dipenuhinya tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tidak ditemukan suatu halangan untuk perkawinan, pegawai pencatat mengumumkan dan menandatangani pengumuman tentang pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan dengan cara menempel surat pengumuman pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum .

Kesimpulan

A.    Nikah siri mengandung dua pengertian, yaitu nikah tanpa wali dan nikah yang tidak dicatatkan di KUA.
B.     Secara agama nikah siri bila bermakna dibawah tangan ( tidak dicatatkan di KUA ) hukumnya sah asal syarat dan rukun nikah terpenuhi:
-          Calon mempelai
-          Mahar
-          Ijab Kabul
-          Wali dari pihak perempuan
-          Dua orang saksi
C.     Nikah siri hanya dilakukan oleh laki-laki pengecut
D.    Wanita yang mau dinikahi dengan cara siri, dipertanyakan akhlaknya
E.     Wanita dan anak- anah hasil nikah siri menjadi korban.
F.      Melihat perkembangan zaman yang terjadi sekarang adalah wali dan saksi bisa dibayar, dan diakali keberadaannya.
G.    Melihat fenomena sekarang nikah siri dilakukan hanya untuk melampiaskan nafsu syahwat terhadap wanita yang diinginkan.
H.    Melihat fenomena sekarang nikah siri hanya kedok saja, sementara tanggung jawab dan tujuan pernikahan ( litaskunu ilaiha ) artinya: agar tercipta ketenangan , malah sebaliknya pertengkaran yang terjadi antara istri yang sah dan istri siri.
I.        Dari sinilah kaidah fikih berbunyi:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
"Meninggalkan mudharat lebih didahululan dari pada mengambil manfaat"

Wallahu A’lam


[1] Ibnu Qudamah w 620 H, Raudhatun Nadzir Wa Jannat al Manadzir,( Muasasah Rayyan, 1423 H ) juz 1 h. 179
[2] (HR. Abu Daud, At Tirmudzi, Ibn Majah, Ad-Darimi, Ibn Abi Syaibah, At Thabrani, dsb.)

Senin, 03 Juni 2013

الناسخ والمنسوخ في القرآن الكريم






خطة البحث
1-   المقدمة
2-   الباب الأول : في مفهوم الناسخ والمنسوخ
الفصل الأول: معنى الناسخ والمنسوخ لغة واصطلاحا
الفصل الثاني : فضل هذا العلم
الفصل الثالث : الفرق بين الناسخ وبين البدء والتخصيص
                     المطلب الأول : الفرق بين الناسخ وبين البدء
المطلب الثاني : الفرق بين الناسخ والتخصيص
3-   الباب الثاني : الناسخ والمنسوخ بيان جواز و شروطه وأقسامه  
الفصل الأول : بيان جواز الناسخ والمنسوخ
المطلب الأول : عقلاً
المطلب الثاني: شرعاً
الفصل الثاني : شروط الناسخ
الفصل الثالث : أقسام المنسوخ
4-   الباب الثالث: ذكر السور التي تضمن الناسخ والمنسوخ
الفصل الأول : تسمية السور التي فيها ناسخ وليس فيها منسوخ
الفصل الثاني: تسمية السور التي دخلها المنسوخ ولم يدخلها ناسخ
الفصل الثالث :السور التي دخلها الناسخ والمنسوخ
الفصل الرابع : بعض النماذج  للناسخ والمنسوخ في القرآن الكريم
5-   الخاتمة
6-   الفهارس
7-   المراجع







المقدمة
       الحمد لله رب العالمين الذي جعل الناسخ والمنسوخ رحمة للمؤمنين , أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمداً عبد الله ورسوله , صلاة ً وسلاماً دائمين متلازمين على نبينا ورسولنا محمد الذي بين لنا الشريعة الإسلامية لها أحكام وحكم ودروس وعبر وعلى آله وأصحابه الطاهرين  أما بعد
 فهذه عرائس تجلى للناظرين ونفائس تشرى بالدر الثمين جمعت فيها آيات الناسخ والمنسوخ بعد أن كانت لطول كلام الأئمة مفرقة بالغت حسب الطاقة في ضمها وقدمت بعض فوائدي إليها فإذا هي عرائس مشرقة هذا وقد صنف الأئمة من العلماء الأعلام في ناسخ القرآن ومنسوخه كتبا جمة إرشادا لأهل الإسلام .
ونقدم هذا البحث المتواضع إرشادا وزيادة لفهمنا عن هذا العلم الجليل عسى أن ينفعنا ولكم جميعا .




الباب الأول
في مفهوم الناسخ والمنسوخ

الفصل الأول: معنى الناسخ والمنسوخ لغة واصطلاحا
معنى النسخ في اللغة الاصطلاح:
يأتى النسخ في كلام العرب على ثلاثة أوجه:
 الأول:  أن يكون مأخوذا من قول العرب: نسخت الكتاب، إذا نقلت
ما فيه الى كتاب آخر، فهذا لم يغير المنسوخ منه إنما صار نظيرا له، أى نسخة ثانية منه.
وهذا النسخ لا يدخل في النسخ الذى هو موضوع بحثنا.
 والثانى أن يكون مأخوذا من قول العرب: نسخت الشمس الظل، إذا أزالته وحلت محله، وهذا المعنى هو الذى يدخل في موضوع ناسخ القرآن ومنسوخه. والثالث أن يكون ماخوذا من قول العرب: نسخت الريح الاثار، اذا أزالتها فلم يبق منها عوض ولا حلت الريح محل الاثار.
هذا هو معنى السنخ في اللغة [1]
معنى النسخ في الاصطلاح
أما النسخ في الاصطلاح فهو رفع الحكم الشرعى بدليل شرعى متأخر.
فالحكم المرفوع بسمى (المنسوخ)، والدليل الرافع يسمى (الناسخ) ويسمى الرفع (النسخ).
فعملية النسخ على هذا تقتضى منسوخا وهو الحكم الذى كان مقررا سابقا، وتقتضى ناسخا، وهو الدليل اللاحق [2]
الفصل الثاني : فضل هذا العلم
قال العلماء بهذا العلم الجليل: لا يجوز لأحد أن يفسر كتاب الله تعالى، إلا بعد أن يعرف حق المعرفة الناسخ والمنسوخ.
وقالوا أيضا: إن كل من يتكلم في شئ من علم هذا الكتاب العزيز ولم يعلم الناسخ والمنسوخ كان ناقصا [3]
وروى عن على بن ابى طالب رضي الله عنه أنه دخل يوما مسجد الجامع
بالكوفة فرأى فيه رجلا يعرف بعبد الرحمن بن دأب، وكان صاحبا لأبي موسى الأشعرى، وقد تحلق عليه الناس يسالونه، وهو يخلط الامر بالنهى والاباحة بالحظر، فقال له على (رض): أتعرف الناسخ والمنسوخ ؟ قال: لا، قال هلكت وأهلكت [4]

الفصل الثالث : الفرق بين الناسخ وبين البدء والتخصيص
المطلب الأول : الفرق بين الناسخ وبين البدء
فالبداء استصواب شئ علم بعد أن لم يعلم، وذلك على الله عز وجل غير جائز.
فمعنى البداء اذن في اللغة والاصطلاح هو: أن يستصوب المرء رأيا ثم
ينشأ له رأى جديد لم يكن معلوما له.
فالنسخ غير البداء لان الاول ليس فيه تغيير لعلم الله تعالى، والثانى يفترض وقوع هذا التغيير. والبداء يستلزم سبق الجهل وحدوث العلم، وكلاهما محال على الله عزوجل، لانه عالم بكل شئ ومحيط به: ما كان، وما هو كائن، وما سيكون.
والنسخ جائز عقلا، وواقع فعلا في القرآن الكريم [5]
المطلب الثاني : الفرق بين الناسخ والتخصيص
هناك تشابه بين النسخ والتخصيص، فالنسخ يفيد تخصيص الحكم ببعض الازمان، لذا سمى بعض العلماء النسخ تخصيصا، وأدخل بعضهم صورا من التخصيص في باب النسخ، ومن هنا جاء الخلاف في عدد المنسوخ.
أما الفرق بينهما: فالنسخ لايقع في الاخبار، والتخصيص يكون في الاخبار وغيرها. فالنسخ مقصور على الكتاب والسنة، أما التخصيص
فيكون بهما وبغيرهما كالحس والعقل.
وتراعى في التخصيص قرينة سابقة أو لاحقة أو مقارنة، أما النسخ فلا يقع الا بدليل متراخ عن المنسوخ





الباب الثاني
الناسخ والمنسوخ بيان جوازه و شروطه وأقسامه

الفصل الأول : بيان جواز الناسخ والمنسوخ
الحكم بالجواز في هذا العلم ينظر من الناحيتين:  من ناحية العقل والشرع .
المطلب الأول : عقلاً
أما العقل فلا يمتنع أن يكون الشيء مصلحة في زمان دون زمان
ولا بعد في أن الله يعلم مصلحة عباده في أن يأمرهم بأمر مطلق حتى يستعدوا له فيثابوا ويمتنعوا بسبب العزم عليه عن معاص وشهوات ثم يخففه عنهم  [6]
والمراد من هذا أن الله يفعل ما يشاء لحكمة ولا يمتنع أن الله يفعل الفعل في زمن معين لمصلحة العباد , ويمكن أ يضا أنه يأمر بأمر للمكلف لمصلحة ونهاه عن أمر لمصلحة . 


المطلب الثاني: شرعاً
فأما دليله شرعا فقال الله تعالى (  ما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها) [7]  , وجه الاستدلال من هذه الأية أن هذه الأية تدل على جواز  النسخ على الله شرعاىوهي حجة على من أنكر النسخ [8]
 وقوله تعالى ( وإذا بدلنا آية مكان آية )[9] وجه الاستدلال أن التبديل يشتمل على رفع واسباط  والمرفوع هنا إما الحكم وإمل التلاوة وكلاهما يسما النسخ .
الفصل الثاني : شروط الناسخ
للنسخ خمسة الشروط كما ذكره ابن الجوزي في كتابه نواسخ القرأن وهي :
- الشرط الأول
 أن يكون الحكم في الناسخ والمنسوخ متناقضا بحيث لا يمكن العمل بهما جميعا فإن كان ممكنا لم يكن أحدهما ناسخا للآخر وذلك قد يكون على وجهين
الوجه الأول أن يكون أحد الحكمين متناولا لما تناوله الثاني بدليل العموم والآخر متناولا لما تناوله الأول بدليل الخصوص فالدليل الخاص لا يوجب نسخ دليل العموم بل يبين أنه إنما تناوله التخصيص لم يدخل تحت دليل العموم
والوجه الثاني أن يكون كل واحد من الحكمين ثابتا في حال غير الحاله التي ثبت فيها الحكم الآخر مثل تحريم المطلقة ثلاثا فإنها محرمة على مطلقها في حال وهي ما دامت خالية عن زوج وإصابة فإذا أصابها زوج ثان ارتفعت الحالة الأولى وانقضت بارتفاعها مدة التحريم فشرعت في حالة آخرى حصل فيها حكم الإباحة للزوج المطلق ثلاثا فلا يكون هذا ناسخا لاختلاف حالة التحريم والتحليل
 والشرط الثاني[10]
 أن يكون الحكم المنسوخ ثابتا قبل ثبوت حكم الناسخ فذلك يقع بطريقتين أحدهما من جهة النطق كقوله تعالى الآن خفف الله عنكم وعلم أن فيكم
الشرط الثالث
 أن يكون الحكم المنسوخ مشروعا أعني أنه ثبت بخطاب الشرع فأما إن كان ثابتا بالعادة والتعارف لم يكن رافعه ناسخا بل يكون ابتداء شرع وهذا شئ ذكر عند المفسرين فإنهم قالوا كان الطلاق في الجاهلية لا إلى غاية فنسخه قوله الطلاق مرتان وهذا لا يصدر ممن يفقه لأن الفقيه يفهم أن هذا ابتداء شرع لا نسخ
والشرط الرابع
 أن يكون ثبوث الحكم الناسخ مشروعا كثبوت المنسوخ فأما ما ليس بمشروع بطريق النقل فلا يجوز أن يكون ناسخا للمنقول ولهذا إذا ثبت حكم منقول لم يجز نسخه بإجماع ولا بقياس
والشرط الخامس
 أن يكون الطريق الذي ثبت به الناسخ مثل الطريق الذي ثبت به المنسوخ أو أقوى منه فأما إن كان دونه فلا يجوز أن يكون الأضعف ناسخا للأقوى

الفصل الثالث : أقسام المنسوخ
وقد قسمه العلماء على ثلالة أقسام وهي :
1-          نسخ الحكم وبقا التلاوة
ومن أمثلة [11] ذلك مما يلي :
أ‌-               وقد جار في أول الإسلام أن الإنسان الذي يطيق الصيام يجوز له ترك  الصيام وتكون الفدية واجبة عليه وذلك في الأية: ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ )[12] فقد نسخ ما تفيد هذه الأية وبقي تلاوتها و والناسخ هو: ( كُتِبَ عَليكُم الصّيام ) [13] 
ب‌-         نسخ حكم الوصية للولدين ولأقربين ثابت بقوله تعالى :
( كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ ) [14]  و الناسخ هي أية الموارث .

2-          نسخ التلاوة وبقا الحكم
ويمثل بعض الأصوليين في هذا الموضوع , في صوم كفارة اليمين في قرأة ابن مسعود رضي الله عنه , وبقي حكمها وهو قد قرأ ( فصيام ثلاثة أيام متتبعات ) فأما الجمهور قرأ : ( فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ )[15]
3-          نسخ التلاوة والحكم معا
وذلك ما أخرجه الإمام مسلم والترميذي وأبو داود وغيره عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت (( كان فيما أنزل من القرآن عشر رضعات معلومات يحرمن , ثم نسخن بخمس معلومات فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وهن فيما يقرأ من القرآن )
فكانت العشر منسوخة الحكم والتلاوة معا بخمسة رضعات [16]







الباب الثالث
ذكر السور التي تضمن الناسخ والمنسوخ

الفصل الأول : تسمية السور التي فيها ناسخ وليس فيها منسوخ
 وهي ستة سور: أولهم الفتح والحشر والمنافقين والتغابن والطلاق والأعلى.
الفصل الثاني: تسمية السور التي دخلها المنسوخ ولم يدخلها ناسخ
وهي أربعون سورة : وهي أربعون سورة: أولهن الأنعام ثم الأعراف ثم يونس ثم هود ثم الرعد ثم الحجر ثم النحل ثم بني إسرائيل ثم الكهف ثم طه ثم المؤمن ثم النمل ثم القصص ثم العنكبوت ثم الروم ثم لقمان ثم المصابيح ثم الملائكة ثم الصافات ثم ص ثم الزمر ثم الزخرف ثم الدخان ثم الجاثية ثم الأحقاف ثم محمد ثم الباسقات ثم النجم ثم القمر ثم الامتحان ثم نون ثم المعارج ثم المدثر ثم القيامة ثم الإنسان ثم عبس ثم الطارق ثم الغاشية ثم التين ثم الكافرون.



الفصل الثالث :السور التي دخلها الناسخ والمنسوخ
 وهي: خمس وعشرون سورة.
أولها البقرة ثم آل عمران ثم المائدة ثم الأنفال ثم التوبة ثم إبراهيم ثم الكهف ثم مريم ثم الأنبياء ثم الحج ثم النور ثم الفرقان ثم الشعراء ثم الأحزاب ثم سبأ ثم مؤمن ثم الشورى ثم الذاريات ثم الطور ثم الواقعة ثم المجادلة ثم المزمل ثم الكوثر ثم العصر.
الفصل الرابع : بعض النماذج  للناسخ والمنسوخ في القرآن الكريم
ذكر بعض العلماء نموذجا من نماذج الآية في باب الناسخ والمنسوخ منها [17]:
1-           (فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ )  [18]  ونسخت هذه ما كان قبلها من أمر القبلة (فأينما تولوا فثم وجه الله) [19]
2-           وعن قتادة: (وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) [20]   ثم أنزل الله عزوجل الاية التى بعدها فيها تخفيف ويسر وعافية: (لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا) [21] أى:
طاقتها، (لها ما كسبت)، فنسختها هذه الأية. [22]
3-           يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ( 4)
 فقرض الله عز وجل قيام الليل في أول هذه السورة فقام أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى انتفخت أقدامهم فامسك الله خاتمتها حولا، ثم أنزل الله عز وجل التخفيف في آخرها [23]،


قال عز وجل:
 (عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ) [24]











الخاتمة
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وأصحابه أجمعين . أما بعد :
فإن من أعظم النعم التي أنعم الله للباحث حيث أنه تيسر لنا الطريق في اتمام هذا البحث المتواضع و بفضله توصلنا إلى أهم النتائج منها :
1-           أن القرآن كتاب شامل كامل يحتوي العلوم المعارف الشتى ولن نجدها في كتب آخرى سوى القرآن الكريم .
2-           أن هذا البحث لا يكفي لاشباع المعلومات , ولكن هذا البحث إنما هو المقدمة بسيطة للناسخ والمنسوخ .
4-           أن الناسخ والمنسوخ ينقسم إلى : نسخ الحكم وبقا التلاوة , نسخ التلاوة وبقا الحكم و نسخ التلاوة والحكم معا فمن أراد أن يتوسع في هذا الموضوع فعلين ان يرجع إلى المصادر الموجودة .
3-           كثرة الاختلافات و المذاهب في هذا الموضوع وهذا مما يجعل الباحث أن يختصر في أمثلة البحث .
وهذا مانستطيع أن نقدم في هذا البحث المتوضع عسى الله ان ينفعنا ولكم جميعاً
الفهارس

خطة البحث.............................................................1
المقدمة ..................................................................2
الباب الأول : في مفهوم الناسخ والمنسوخ....................................4
الفصل الأول: معنى الناسخ والمنسوخ لغة واصطلاحا..........................5
الفصل الثاني : فضل هذا العلم.............................................5
الفصل الثالث : الفرق بين الناسخ وبين البدء والتخصيص.....................6
المطلب الأول : الفرق بين الناسخ وبين البدء.................................7
المطلب الثاني : الفرق بين الناسخ والتخصيص...............................7
الباب الثاني : الناسخ والمنسوخ بيان جواز و شروطه وأقسامه .................8
الفصل الأول : بيان جواز الناسخ والمنسوخ..................................8
المطلب الأول : عقلاً......................................................8
المطلب الثاني: شرعاً.......................................................8
الفصل الثاني : شروط الناسخ..............................................9
الفصل الثالث : أقسام المنسوخ...........................................11
الباب الثالث: ذكر السور التي تضمن الناسخ والمنسوخ......................12
الفصل الأول : تسمية السور التي فيها ناسخ وليس فيها منسوخ..............12
الفصل الثاني: تسمية السور التي دخلها المنسوخ ولم يدخلها ناسخ............12
الفصل الثالث :السور التي دخلها الناسخ والمنسوخ..........................15
الفصل الرابع : بعض النماذج  للناسخ والمنسوخ في القرآن الكريم.............15
الخاتمة.................................................................18
الفهارس...............................................................19
المراجع................................................................21









المراجع

1-           الاتقان في علوم القرآن: السيوطى، جلال الدين، ت 911 ه، تح ابى الفضل ابراهيم، مصر 1967.
2-           أحكام القرآن: ابن العربى، ابو بكر محمد بن عبد الله، ت 543 ه، تح البجاوى، البابى الحلبى بمصر 1967.
3-            أسباب نزول القرآن: الواحدى، على بن احمد، ت 468 ه، تح سيد صقر، القاهرة 1969.
4-           اتحاف ذوي البصائر أ. د. عبد الكريم النملة  مكتبة الرشيد  2006 م
5-           ابن قدامة وأثره الأوصولية  د. عبد العزيز بن عبد الرحمن السعيد , جامعة الإمام محمد ابن سعود الطبعة الرابعة 1978 م .
6-           تفسير الرازى (مفاتيح الغيب): الفخر الرازى، محمد بن عمر، ت 606 ه مط التهية المصرية.
7-            تفسير الطبرى (جامع البيان): ابو جعفر محمدبن جرير الطبرى، ت 310 ه، البابى الحلبى بمصر 1954.
8-            تفسير القرطبى (الجامع لاحكام القرآن): القرطبى، محمد بن احمد، ت 671 ه، القاهرة 1967.
9-           صحيح مسلم: مسلم بن الحجاج، ت 261 ه، تح محمد فؤاد عبد الباقي، البابي الحلبي بمصر 1955.
10-    القرآن الكريم
11-     الناسخ والمنسوخ لعن قتادة بن دعامة السدوسي أعده للشاملة : موقع مكتبة المسجد النبوي www.mktaba.org
12-      الناسخ والمنسوخ في القرآن الكريم المؤلف : ابن سلامة  مصدر الكتاب  موقع الوراق http://www.alwarraq.com











[1]  الناسخ والمنسوخ , عن قتادة بن دعامة السدوسي 1/ 7

[2] - انظر في معنى النسخ: مقاييس اللغة 5 / 424 الايضاح لناسخ القرآن ومنسوخه 41، مفردات الراغب 511، الاعتبار للحازمى 5، اللسان والتاج (نسخ).
 - [3] الناسخ والمنسوخ لابن سلامة 4، البرهان 2 / 29، الاتقان 3 / 58.
[4] - الناسخ والمنسوخ لابن سلامة 4.

[5]   انظر في الفرق بين النسخ والبداء: الناسخ والمنسوخ للنحاس 9، المغنى في أبواب التوحيد والعدل 16 / 65، الملل والنحل 2 / 16، النسخ في القرآن الكريم 22، فتح المنان 50، نظرية النسخ في الشرائع السماوية 14.

[6]  روضة الناظر وجنة المناظر المؤلف : عبد الله بن أحمد بن قدامة المقدسي أبو محمدالناشر : جامعة لإمام محمد بن سعود - الرياضالطبعة الثانية ، 1399تحقيق : د. عبد العزيز عبد الرحمن السعيد
ج 1/73
[7]  البقرة: 106
[8]  اتحاف ذوي البصائر أ. د. عبد الكريم النملة  مكتبة الرشيد  ج 2 ص 699
[9]  النحل : 101
[10] نواسخ القرآن لجمال الدين عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي 1\13
[11]  اتحاف ذوي البصائر أ. د. عبد الكريم النملة  مكتبة الرشيد  ج 2   ص 712
[12] القرة:184
[13]  البقرة : 183
[14]  البقرة : 80
[15]  المائدة : 89
[16] اتحاف ذوي البصائر أ. د. عبد الكريم النملة  مكتبة الرشيد  ج 2 ص 712
[17] تفسير الطبرى 2 / 19، زاد المسير 156 1.
[18]  البقرة :144
[19]  ابقرة 115
[20] البقرة : 284
[21]  البقرة : 285
[22]  ينظر: ابن حزم 125، النحاس 85، ابن سلامة 27، مكى 167، ابن الجوزى 201.
[23]  الناسخ والمنسوخ لعن قتادة بن دعامة السدوسي 1\50

[24]  المزمل : 20