Kamis, 18 Juli 2013

Mengapa Hatimu Sekeras Batu?




Hati bisa membatu...

Hatipun bisa sakit...

Seperti badan manusia lainnya, penyakit hati sangatlah variatif seperti penyakit yang menimpa tubuh.  Berbanding lurus dengan kekuatan panyakit yang menyerang dan pertahanan internal dari hati itu sendiri. Jika penyakit lebih kuat dan pertahanan hati pun kuat, maka pengaruh penyakit itu tidaklah banyak. Namun sebaliknya jika pertahanan hati lemah, penyakit sekecil apapun bisa berakibat fatal.
Akibat dari penyakit yang menyerang hati pun bermacam-macam, dari  noda yang mengotori, keras membatu dan paling parah adalah hatinya mati,  tertutup dari kebenaran. Naudzubillah min dzalik.

Tanda-tanda hati yang keras 

Hati yang keras bermacam-macam ciri dan tandanya, paling tidak sebagai berikut:



1.       Malas beribadah

Salah satu tanda orang yang memiliki hati keras malas beribadah, tidak peduli dengan seruan adzan meski tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid.  Orang seperti ini meskipun dia melakukan shalat, ia melakukannya tidak tenang dan jauh dari sifat khusyuk.
Mereka itulah yang di sebutkan Allah di dalam Al Qur’an:

وَلاَ يَأْتُونَ الصَّلاَةَ إِلاَّ وَهُمْ كُسَالَى وَلاَ يُنفِقُونَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُونَ

dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [1]

Imam At Thabari ketika menafsirkan ayat ini beliau berpendapat:

لا يأتونها إلا متثاقلين بها لأنهم لا يرجون بأدائها ثوابًا، ولا يخافون بتركها عقابًا، وإنما يقيمونها مخافةً على أنفسهم بتركها من المؤمنين، فإذا أمنوهم لم يقيموها

“ Mereka tidak melakukan shala melainkan dengan berat, karena tidak mengharap pahala dari pelaksanannya, tidak takut adzab bila meninggalkannya, akan tetapi kekhawatiran menghinggapi diri mereka karena kaum muslimin. Jika kaum muslimin tidak ada mereka tidak melakukan shalat. Mereka berinfak pun  karena terpaksa[2]


2.       Tidak tersentuh dengan ayat Al Qur’an atau nasehat


Ketika hati sudah membatu, ia tidak akan mendengarkan nasehat kebaikan, sesungguhnya nasehat terbaik adalah Al Qur’an.
Orang yang hatinya keras malas membaca Al Qur’an, malas mempelajarinya dan malas berkumpul  dan menghadiri dengan majelis-majelis Al Qur’an dan pengajian-pengajian, dengan nasehat mereka jauh, dengan Al Qur’an mereka acuh.

Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.[3]

Syekh Sayid At Thantawi ketika menafsirkan ayat ini mengatakan:

فى الدنيا فلا طمأنينة له ، ولا انشراح لصدره ، بل صدره ضيق لضلاله ، وإن تنعم ظاهره ولبس ما شاء ، وأكل ما شاء ، وسكن حيث شاء ، فإن قلبه ما لم يخلص إلى اليقين والهدى . فهو فى قلق وحيرة وشك ، فلا يزال فى ريبة يتردد فهذا من ضنك المعيشة

“ Didunia tidak memiliki ketenangan dan kelapangan hati, bahakan hatinya sempit, meski memiliki kenikmatan fisik, mengenakan pakaian, makan dan bertempat tinggal sesuka hatinya. Sungguh hatinya tidak memiliki keyakinan dan petunjuk, ia dalam kondisi selalu resah gelisah, galau dan tidak tenang, itulah kesempitan hidup.[4]


3.       Tidak tersentuh dengan kejadian sekitarnya seperti kematian, sakit ataupun bencana alam.

Rasulullah bersabda:
أكثروا ذكر هاذم اللذات } [الترمذي وحسنه]

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan   ( mati ).[5]


Kematian akan datang menjelang tanpa disadari, ketika ruh terpisah dengan jasad, maka selesailah kehidupan dunia ini, mulailah gerbang akherat didaki. Setiap manusia akan mempertanggung jawabkan atas apa yang telah diperbuat selama didunia. Jika baik akan mendapat balasan yang setimpal, jika buruk pun akan mendapat balasan yang setimpal. Seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Firman Allah:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain [6]

Orang yang berhati keras tidak akan tersentuh dengan hal ini.


4.       Gemar bermaksiat

Setiap manusia ada potensi kebaikan dan keburukan sekaligus, tinggal dirinya sendirilah yang bertanggung jawab, kea rah mana akan menuju. Kepada kebaikan atau kepada keburukan dan maksiat.  Maksiat yang dilakukan oleh anak Adam pada dasarnya ibarat debu yang mengotori hatinya, hati yang terkukung dengan maksiat lama kelamaan akan berkarat dan mengeras.

Sabda Rasulullah:

إذا أذنب العبد نكت في قلبه نكتة سوداء ، فإن تاب صقل منها ، فإن عاد زادت حتى تعظم في قلبه ، فذلك الران الذي ذكره الله - عز وجل - ( كلا بل ران على قلوبهم

“Jika seorang hamba melakukan dosa, ada titik hitam dihatinya, bila bertaubat maka terlepaslah noda itu, jika ia kembali melakukan dosa maka titik hitam itu akan kembali dan bertambah besar dihatinya, itulah noda yang disebutkan Allah dalam ayat:[7]
 Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. ( Al Muthaffifin:14 )


5.       Terlalu berlebihan dalam masalah dunia


Dunia ibarat fata morgana, dikejar seolah tak bertepi.  Didiamkan seolah merayu. Itulah dunia. Orang yang berlebihan dalam masalah dunia hatinya lama kelamaan akan mengeras dan membatu.

Dunia hanyalah kesenangan yang melenakan.




Firman Allah:
وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور
 Dan tidaklah dunia hanya kesenangan yang menipu “[8]

6.       Berteman dengan teman yang buruk perangai

Sahabat yang buruk dapat mempengaruhi sahabt yang lain, solah jika berteman dengan pedagang minyak wangi maka bau harum akan tercium, begitu pula sebaliknya. Maka pandai-pandailah memilih teman.








7.       Makan harta haram.


Harta yang haram akan menghalangi terkabulnya doa, membuat hati menjadi keras dan malas melakukan amal kebaikan. Karena harta yang haram hanya akan melahirkan fikiran-fikiran haram sejenis.











Obat hati yang keras
1.       Mengingat Allah ( Dzikrullah )
2.       Ingat mati
3.       Berteman dengan orang shalih
4.       Kerjakan ibadah
5.       Cukup dengan dunia
6.       Makan makanan yang halal
7.       Bertaubat





[1] At Taubah:54
[2] At Thabari, Jamiul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, ( Beirut: Muasasah Ar Risalah 1420 H) j 14 H. 295
[3] Taha:124
[4] Sayid At Thantawi, Tafsir Al Wasith 1/2871
[5] HR. Tirmidzi
[6] Az Zumar:7
[7] HR. Al Hakim dalam Mustadrak
[8] Al Imran:185