Jumat, 19 Juli 2013

Jujur Itu...



Akhir akhir ini sering muncul di media baik cetak maupun online istilah jujur, dari JUJUR ITU BEJO, BERANI JUJUR HEBAT, JUJUR ITU INDAH,  bahkan menjadi sebuah plesetan JUJUR KACANG IJo  ungkapan yang mirip nama makanan khas Indonesia, bubur. 

 Semua sepakat bahwa jujur itu disukai oleh orang yang jujur  dan orang yang tidak jujur. Meski ada sebagian orang yang tidak jujur tidak suka kepada orang jujur. Semoga anda tidak bingung dengan kalimat ini. 

Islam agama yang jujur, dari prinsip dasar dan tujuannya. Rukun iman, Islam dan Ikhsan merupakan prinsip yang sangat jujur. Rasulullah  Al Amin, pun orang yang paling amanah, sejarah mencatat bahwa penduduk Mekkah ketika awal –awal Islam banyak yang menitipkan rumah dan barang-barang berharga kepada  Rasulullah, Abu Bakar juga dikenal dengan gelar As Shidik yang artinya benar. Umar terkenal dengan sifat-sifat pemberani, jujur dan amanah begitu juga Utsman dan Ali Bin Abi Thalib para sahabat ridhwanullah alaihim adalah teladan terbaik dalam kejujuran berkata dan bersikap.

Dalam istilah hadits dikenal dengan ilmu al jarh wa ta’dil, sebuah disiplin ilmu untuk menimbang kualitas hadits berdasarkan perawi-perawinya, apakah perawi itu jujur, kuat hafalannya, amanah, tepat waktu atau sebaliknya.

Namun sekarang kita berada di masa akhir zaman, masa yang penuh fitnah. Mulai dari fitnah harta, tahta dan wanita. Pertanyaannya adalah kemanakah kejujuran itu sekarang? Saat ini begitu mudahnya orang berucap janji, namun celakanya mudah juga mengingkari.
 Seperti  syair dalam sebuah lagu:

 Kau yang berjanji,  kau yang mengingkari

Kau yang mulai, kau yang mengakhiri

Padahal ucapan yang keluar dari lisan begitu besar akibatnya. Sebuah hadits Rasulullah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ:إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ ، عَزَّ وَجَلَّ ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً ، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.أخرجه أحمد 2/334(8392) . والبُخاري (6478) .

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan perkataan yang mengundang keridhaan Allah Azza wa Jalla tanpa disadarinya Allah akan mengangkat derajatnya, dan seorang hamba berkata dengan perkataan yang mengundang murka Allah tanpa disadarinya hingga menyebabkannya masuk neraka Jahannam.[1]

Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} 

“ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.[2]

Imam At Thabari ketika menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa jalan keselamatan dari adzab akherat adalah keimanan yang benar, bertakwa kepada Allah dengan terus mendekati-Nya, menjauhi larangan Allah ketika didunia, dengan keimanan yang dipraktekkan dalam perbuatan dan tidak berbuat nifak.[3]
Imam An Nawawi menyebutkan hadits-hadits dalam kitab Riyadus Salihin bab As Sidq, diantara hadits yang beliau tuliskan adalah:

عَن ابْنِ مَسْعُودٍ رضي اللَّه عنه عن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: "إِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ ليصْدُقُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقاً، وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفجُورِ وَإِنَّ الفجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً" متفقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Mas'ud r.a. dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya
kebenaran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sungguh kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang itu niscaya melakukan kebenaran sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli melakukan kebenaran. Dan sesungguhnya  berdusta itu menunjukkan kepada kecurangan
dan sesungguhnya kecurangan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya
seseorang itu niscaya berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli
berdusta." [4]




عَنْ أبي مُحَمَّدٍ الْحَسنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أبي طَالِبٍ، رَضيَ اللَّهُ عَنْهما، قَالَ حفِظْتُ مِنْ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَريبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ" 

Dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahuanhuma berkata, aku mengingat ucapan dari Rasululla Shalallahu Alaihi wa Sallam: “Tinggalkan perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu, kejujuran adalah ketenangan, dusta adalah kegalauan.[5]

عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنيْفٍ رضي اللَّه عنه، أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: "مَنْ سَأَلَ اللَّهَ، تعالَى الشِّهَادَة بِصِدْقٍ بَلَّغهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهدَاء، وإِنْ مَاتَ عَلَى فِراشِهِ"

Dari sahl bin Hunaif Radhiyallahu Anhu bahwa  nabi Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda: “ barangsiapa  yang  meminta kepada Allah mati Syahid dengan sebenarnya, Allah akan sampaikan derajatnya kepada syuhada meski meninggal diatas tempat tidur. [6]




[1] HR. Ahmad 2/334 (no.  8392 ) , Bukhari no. 6478
[2] At Taubah:119
[3] At Thabari, Jamiul Bayan Fi Tawilil Qur’an ( Muasasah Ar Risalah, 1420H ) 14 hal 558
[4] (Muttafaq 'alaih)
[5] HR. Tirmidzi hasan shahih
[6] HR. Muslim