Minggu, 21 Juli 2013

Pacaran Itu Dosa !



Pacaran
 Ya,  istilah ini memang sudah popular sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Bahkan aktifitas ini terkadang diwariskan dari kakek, ayah hingga anak. Mereka berdalih bahwa  dengan pacaran akan mendekatkan hubungan, meningkatkan prestasi sekolah atau kuliah, memahami tingkah laku dan bisa memilih mana jodoh yang nanti pas untuk menjalani rumah tangga. Celakanya lagi dilegalkan oleh media TV, Artis dan orang-orang tenar.  So, seolah tujuannya mulia ya…tapi tunggu dulu semulia itukah pacaran sekarang?
Bukti empirik di lapangan sangat banyak yuk kita lihat sedikit data tentang  dampak dari pacaran:

 Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfah Anshor, mengatakan usia anak pacaran saat ini semakin muda.

Dari hasil survei kesehatan reproduksi remaja yang diselenggarakan BKKBN, kata dia, remaja pacaran pertama kali pada usia 12 tahun. "Dibanding 10 tahun lalu usia pacaran anak semakin muda," kata dia ketika berada di Banyuwangi, Rabu, 6 Juni 2012.

Perilaku pacaran remaja, kata dia, juga semakin permisif. Sebanyak 92 persen remaja berpegangan tangan saat pacaran, 82 persen berciuman, 63 persen rabaan petting. Perilaku-perilaku tersebut kemudian memicu remaja melakukan hubungan seksual.

Perilaku seksual di usia belia itu menyebabkan jumlah anak yang menderita HIV/AIDS terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Tahun 2004 kasus HIV/AIDS sebanyak 154 kasus dan pada 2010 angkanya melonjak menjadi 1.119 kasus. "Angka ini naik 700 persen," kata dia.

Maria mengatakan berbagai faktor menyebabkan remaja melakukan hubungan seksual, mulai dari tayangan televisi, mudahnya mengakses situs porno, dan pengasuhan anak yang kurang di keluarga.

Menurut dia, dengan kenyataan semakin mengkhawatirkan itu, pemerintah harus memberlakukan kurikulum pendidikan seks secara nasional. Sebab dengan pengajaran di sekolah remaja mengetahui tentang kesehatan reproduksi langsung dari guru. "Sehingga remaja tahu bukan dari website atau komik," katanya. ( Tempo.co

Ngeri sekali…

Mau jadi apa generasi muda kita kedepan?

Eh,  katanya pacaran ada tahap tahapnya lho, ada perkenalan dilanjutkan dengan janjian, dilanjut dengan keintiman, nah pada fase inilah sang pacar rela menyerahkan apa saja demi sang pacar tersayangnya, mulai dari uang, waktu, bahkan ‘kehormatannya’. Dengan alas an CINTA ! ! !
Belum yakin??? Nih saya kasih tambahan datanya:

Seks pranikah dilakukan oleh para remaja dengan berbagai macam alasan yang melatarbelakanginya. Lembaga Fakta yang diperoleh dari Perkumpulan Keluarga Berencan Indonesia Keluarga Berencana (PKBI), United Nations Populations Fund (UNFPA) dan Badan Koordonasi Keluarga Berencana (BKKBN), melakukan poling terhadap 1.000 remaja di Bandung, di mana hasil poling yang diperoleh menunjukan 20% telah melakukan seks pranikah (Agupena,2011). 

Senada dengan hal tersebut penelitian yang dilakukan oleh Taufiq dan Nisa Rachmah (2005) tentang perbedaan seksualitas pada remaja juga menunjukan bahwa 13,12% remaja telah melakukan hubungan seksual. Sebagian besar subyek melakukan hubungan seksual pranikah karenasebagai bukti rasa cinta terhadap pasangan, pengaruh teman-teman lain, dan tergoda oleh pasangan (rayuan) serta
tidak memiliki kemampuan untuk menolak rayuan pasangan. 

Salah satu dampak dari hubungan seksual pranikah yaitu kehamilan tidak dikehendaki (KTD).KTD menyebabkan pikiran-pikiran irasional bagi remaja. Citra Puspitasari (2008:1) kasus kehamilan tidak dikehendaki menunjukan perasaan-perasaan ketidakberdayaan remaja, di mana 

51% dihantui perasaan bersalah,

 63% merasa dirinya adalah wanita kotor

41% tidak percaya diri,  59% merasa cemas tidak diterima di masyarakat. 

Kasus kehamilan tidak dikehendaki tercatat ada 92 kasus kehamilan tidak diinginkan pada tahun 2001, 97 kasus pada tahun 2002, 6 kasus pada 2003 penelitian Wijaya (Anissa, K., 2009), dan tercatat 4 hingga tahun 2006 total kehamilan tidak diinginkan mencapai 638 kasus yang diadukan ke lembaga konseling PKBI DIY (Aliyah, 2006). Selain itu, karena perasaan malu seringkali yang terpikirkan dalam benak remaja yang mengalami KTD adalah melakukan aborsi. Aborsi memberi dampak yang sangat berbahaya antara lain: pendarahan, infeksi, kemandulan, bahkan kematian (Aliyah, 2006). 


 Data survey yang dilakukan oleh Paulinus Soge pada tahun 2008 menyebutkan angka kejadian 2 juta kasus aborsi per 1.000 tahun wanita usia 15-19 tahun atau 43 aborsi per 100 kelahiran hidup atau 30% dari kehamilan (Farida Harahap dkk, 2009). Senada dengan hal tersebut, survey yang dilakukan oleh BadanKesehatan Rumah Tangga (2005) dan diperkuat oleh “Buku Fakta”yang dikeluarkan UNFPA dan KantorMenteri Negara Pemberdayaan Perempuan (2000), di mana survey dilakukan di Surabaya menunjukan bahwa:

Setiap hari rata-rata ada 100 kasus aborsi yang pelakunya 60% ibu rumah tangga dan 40% ABG Republika, 24 Oktober 2000 (Ita Mussarofa, 2011).

So belum cukupkan wahai saudaraku seiman, data yang ada?
Pacaran itu hanya dusta dan sex kok isinya gak ada positifnya sama sekali. Padahal jika anda sudah tidak disukai pasangan yang terjadi adalah stress, sementara dampak lain adalah:


Pembunuhan pasangan













WTS













Miras




Narkoba

 










 

HIV AIDS


Mulai sekarang berhentilah pacaran, perbaikilah diri dengan belajar ilmu agama islam, manfaatkan waktu dengan mengasah kemampuan diri, dan yakin saja bahwa orang yang baik akan mendapat jodoh yang baik, begitupula sebaliknya.