Rabu, 31 Juli 2013

Lima Tanda Diterimanya Amal



Ramadhan akan segera berpamitan dengan kita, ia akan pergi entah kapan  kembali lagi. Tinggallah kenangan indah terukir bersamanya. Dalam buaian dzikir, shalat, tilawah dan shaum serta qiyamullail dan sadaqah. Namun hati bertanya-tanya apakah amal-amal yang  sudah dilakukan diterima oleh Allah atu tidak. Semua berharap dengan harapan seperti tercantum dalam doa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".  ( Al Baqarah:127 )

Kita juga berharap agar dikelompokkan Allah dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ 

Habil berkata, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” ( Al Maidah:27 )

Tanda-tanda diterima amal 

1.      Amal tidak diterima kecuali jika sah.

Dr. Yusuf Al Qaradhawi  ketika ditanya apa tanda diterimanya amal, beliau menyebutkan bahwa amal akan diterima Allah manakala dikerjakan dengan sah, sah ada dua unsur, lahir dan bathin.

Unsur lahir:  Tercukupinya syarat, rukun dan pelaksanannya berdasarkan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.
Unsur bathin: niat yang ikhlas. Dua hal ini harus dipenuhi jika ingin amal ingin diterima Allah.
Misal: seseorang berniat ikhlas melakukan shalat, namun tidak berwudhu, tidak menghadap kiblat, tidak bisa membaca Al fatihah dengan benar, rukuk dan sujudnya ‘ngebut’ tidak khusyu maka akan sulit shalatnya diterima.

سئل أبو علي الفضيل بن عياض عن قوله تعالى {..لِيَبْلُوَكُمْ أيَُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلَا..}[هود:7]،[الملك:2]، قالوا يا أبا علي، ما                   أحسن العمل؟ قال أحسن العمل أخلصه وأصوبه، إن الله لا يقبل العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا أو كان صوابا ولم يكن خالصا، إنما يقبله إذا كان خالصا صوابا وخلوصه أن يكون لله وصوابه أن يكون على السنة

Abu Ali Al fudhail Bin Iyadh ditanya tentang firman Allah: Allah menguji kalian siapa yang terbaik amalnya. ( Hud:7 ) ( Al Mulk:2 ) mereka bertanya: Wahai Abu Ali, apakah yang dimaksud dengan ahsanu amala ( amal terbaik ) ia menjawab : “ Paling baik dan paling ikhlas. Allah tidak akan menerima amal yang dilakukan meski benar namun tidak ikhlas, atau sebaliknya amal yang ikhlas namun tidak benar. Amal yang dilakukan harus  sesuai sunnah.

2.      Tidak kembali melakukan dosa

Jika seorang hamba benci kembali melakukan kemaksiatan dan dosa, ketahuilah bahwa itu tanda amalnya diterima. Karena orang yang bertaubat sungguh –sungguh terbetik rasa penyesalan mendalam didalam hatinya, ia bertekad sekuat tenaga agar tidak kembali terjerumus kedalam kubangan  dosa dan maksiat.

واعلموا أن فيكم رسول الله لو يطيعكم في كثير من الأمر لعنتم ولكن الله حبب إليكم الإيمان وزينه في قلوبكم وكره إليكم الكفر والفسوق والعصيان أولئك هم الراشدون [1]

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,  ( Al Hujurat:7 )

Imam Al Syaukani menyebutkan dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan “menjadikan iman indah dihati” adalah:

جعله أحب الأشياء إليكم ، أو محبوبا لديكم فلا يقع منكم إلا ما يوافقه ويقتضيه من الأمور الصالحة وترك التسرع في الأخبار وعدم التثبت فيها
Menjadikan iman sesuatu yang paling kalian cintai, kalian tidak akan menjatuhkan diri dalam perkara kecuali yang sesuai dengan iman dan amal shalih serta meninggalkan sifat tergesa-gesa dalam menerima kabar tanpa cek dan ricek terlebih dahulu. [2]


3.      Bertambah ketaatan

قال الحسن البصرى: "إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئةُ بعدها، فإذا قبل الله العبد فإنه يوفقه إلى الطاعة، ويصرفه عن المعصية، وقد قال الحسن: "يا ابن آدم إن لم تكن فى زيادة فأنت فى نقصان".

Imam Hasan Al Bashri berkata: “ Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan sejenis setelahnya, dan sanksi keburukan adalah keburukan setelahnya, jika Allah menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memudahkannya melakukan ketaatan, menjauhkan dari kemaksiatan. Beliau juga berkata: “ Wahai anak Adam, jika tidak bertambah maka ketaatan kalian akan berkurang.[3]

Hati yang bersih

Hati yang bersih adalah bekal terbaik ketika menghadap Allah, hati yang bersih pula sebagai indicator diterima amal seseorang atau tidak.
Firman Allah:

يوم لا ينفع مال ولا بنون ( 88 ) إلا من أتى الله بقلب سليم 89

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, ( As Syuara: 88-89 )

Imam ibnu katsir menyebutkan:
Pada hari kiamat tidak berguna lagi harta benda yang berlimpah ketika didunia, juga orang ataau tokoh sekalipun dimuka bumi, pada saat itu yang berguna adalah iman, ikhlas dan bebas dari syirik. [4]

قال محمد بن سيرين : القلب السليم أن يعلم أن الله حق ، وأن الساعة آتية لا ريب فيها ، وأن الله يبعث من في القبور .

Muhammad bin Sirin berkata: “ Al Qalbu As Salim adalah hati yang mengetahui kebenaran Allah, tidak ragu akan hari kiamat, dan hari kebangkitan dari alam kubur.

وقال سعيد بن المسيب : القلب السليم : هو القلب الصحيح ، وهو قلب المؤمن; لأن قلب [ الكافر و ] المنافق مريض ، قال الله : ( في قلوبهم مرض  البقرة : 10
Said bin Musayib berkata; “al qalbu As Salim adalah: hati yang sehat dan tidak berpenyakit, yaitu hati orang mukmin, karena hati orang munafik terindikasi penyakit. Seperti firman Allah: “didalam hati mereka ada penyakit ( 2:10 )

  5.      Selalu mengingat akherat

Kehidupan akherat adalah kehidupan yang kekal selamanya, tiada bertepi tiada berujung, hanya Allah yang Maha tahu. Orang –orang yang diterima amal perbuatannya senantiasa mengaitkan segala kehidupan dunia dengan kesudahan akherat, baik dan buruk pasti ada pertanggung jawabannya dihadapan Allah.

Firman Allah:

وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. [5]
وللآخرة خير لك من الأولى
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). [6]


[1] Al Hujurat:7
[2] As Syaukani, Fath Al Qadir, ( Darul Marifah,2004) juz 1 hal.1390
[3] Fatwa Ammah Biladil Imarat, Dr. Abdul Alim Al Mutawaly no. 2107
[4] Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul Adzhim, ( Dar At Thayebah, 2000) hal 149
[5] Al Al’laa: 17
[6] Ad Dhuha: 4