Sabtu, 02 Agustus 2014

MUDIK




Percaya atau tidak, acara televisi yang paling heboh dan update menyiarkan beritanya hanya ada dua, saat Quick Count Pilpres dan mudik.
Mudik istilah yang digunakan untuk pulang kampung secara massal pada waktu tertentu, biasanya menjelang Idul Fitri. Hanya di Indonesia yang paling seru. Penduduk yang berasal dari wilayah yang tersebar di pelosok Indonesia yang mencari peruntungan di kota-kota besar Jakarta utamanya. 

Meluangkan waktu pada moment Idul Fitri, alasannya libur kerja dan libur tahunan, sungguh indah lebaran di kampung, meski macet berjam-jam dan panas terik, tak terasa. Yang terbayang adalah wajah kampung halaman tempat beta di lahirkan dan wajah keluarga ortu terutamanya. Mereka yang telah bekerja di Jakarta atau kota-kota besar lainnya dengan bangga menunjukkan hasil jerih payah mereka selama merantau; yang tadinya merantau tak memiliki apa-apa sekarang sudah memiliki segalanya, yang tadinya tidak punya mobil sekarang sudah beli mobil, motor , hp baru, baju baru, yang tadinya belum berkeluarg, mereka ingin mengenalkan keluarga, pacar kepada keluarganya. Semuanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemudik, tak heran ajang mudik hanya di jadikan ajang “ pamer’ kepemilikan yang lumrahnya disebut Silaturahmi. 

Koran Republika mencatat perputaran uang selama arus mudik dan libur Lebaran pada 2014 diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Ini sebagaimana hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan."Ternyata data yang kami kumpulkan dan olah itu sampai Rp 15 triliun, itu kan lumayan besar," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, Elly Sinaga, seusai pemaparan survei "Potensi Permintaan Angkutan Lebaran 2014" di Jakarta, Senin.Elly mengatakan perputaran uang tersebut terjadi selama dua minggu ketika arus mudik dan libur Lebaran.Rata-rata setiap orang, lanjut dia, membawa sekitar Rp 800.000 hingga Rp 1 juta ke kampung halamnnya."Ini cukup besar uang yang dia (pemudik) bawa ke kampung,'' katanya. ''Oleh karena itu, kami antisipasi kemacetannya. Sarananya harus kami siapkan."

Berdasarkan hasil survei, perputaran uang tujuan mudik paling banyak di Jawa Tengah, yakni mencapai Rp 4,44 triliun disusul Jawa Barat Rp 3,24 triliun, Jawa Timur Rp 2,5 triliun, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Rp 835 miliar, Sumatera Utara Rp 785 miliar dan Sulawesi Selatan Rp 543 miliar.

Namun sisi ibadah nyaris terlewat saat mudik, sedikit sekali yang melaksanakan shalat lima waktu, alasannya repot di kendaraan dan sebagainya. Apalagi kebanyakan mudik pada akhir Ramadhan, saat terakhir yang penuh berkah saat turunnya lailatul qadar. Banyak sekali kaum muslimin yang menyia-nyiakannya. Hanya untuk bersilaturahmi, atas nama silaturahmi shalat di tinggalkan, korban meninggal terus meningkat. Agaknya mudik harus di atur, tidak hanya mensucikan kata silaturahim tapi mengabaikan yang lain.

Griya Bhakti Asri Depok, 3 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar