Senin, 18 Mei 2015

Sudahkah Anda Berbakti Kepada Kedua Orang Tua


 وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 
  
 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S. Al Isrā:23 )

Secara biologis orang tua adalah orang yang telah melahirkan kita ke dunia. Mencukupi kebutuhan, biaya sekolah. Mereka tempat berlindung saat kita dirundung masalah, mereka tempat terbaik kita menumpahkan keluh kesah, kasih sayang mereka selalu tercurah saat kita gundah, doa-doa mereka selalu mengiringi kita setiap langkah, ridha mereka mengiringi kita gapai bahagia dunia hattal akhirah.

Allah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, bahkan perintah itu diawali dengan perintah untuk menjauhi syirik, dan kita tahu bahwa satu-satunya dosa yang tak kan terampuni adalah dosa syirik.

Firman Allah:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. ( Al Isra:23)

Bayangkan saat ayah berangkat bekerja di pagi buta, menerobos dinginnya pagi, memeras keringat dan membanting tulang, memenuhi kebutuhan keluarga. Bayangkan pula wajah ibu, wajah itu selalu tersenyum ditengah kelelahan mengurus rumah,  dia telah mengandung kita dalam kondisi wahnan ala wahnin ( kesusahan diatas kesusahan ) dialah sosok yang rela berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan kita, mendidik dengan kasih sayangnya. Lalu setelah kita besar seenaknya kita membantah perintahnya, durhaka kepadanya tidak mengindahkan petuahnya, oh sungguh celaka orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

            Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyalahuanhu menuturkan, “Seorang pria datang kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling patut saya perlakukan dengan baik didunia ini?” Tanya pria itu. Beliau menjawab, “Ibumu." “Siapa lagi?” Tanyanya kembali. “Ibumu,” jawab beliau. “Siapa lagi?” Tanyanya. “Ibumu,” jawab beliau. “Terus siapa lagi?” Tanyanya. Beliau pun menjawab, “Ayahmu.” (HR.Bukhari, 5514 dan Muslim, 4621)

Sejarah telah bercerita saat Rasulullah memerintahkan kepada Umar bin Khattab RA,” Wahai Umar, jika engkau bertemu dengan seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni, ia berasal dari Yaman, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun atas dosa-dosamu kepada Allah.

Jika kita cermati bagaimana mungkin tokoh sekaliber Umar bin Khattab, manusia mulia nan pemberani, adil dan bersahaja diperintahkan untuk meminta doa kepada Uwais Al Qarni, keheranan ini kemudian mendorong Umar untuk mencari tahu siapakah Uwais Al Qarni, ternyata ia adalah seorang anak yang shalih, yang rela menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah utnuk menunaikan ibadah haji, subhanallah. Jarak Yaman- Mekkah adalah 820 km selama 16 hari berjalan kaki, bayangkan! Bakti kepada ibu inilah rupanya yang menyebabkan doa Uwais Al Qarni langsung dikabulkan oleh Allah jika ia berdoa.

Itulah kenapa Rasulullah pun bersabda:
رِضَى الله فيِ رِضَى الوَالِدَين وَسُخْطُ الله فيِ سُخْطِ الوَالِدَين"

Riha Allah ada pada ridha kedua orangtua, dan murka Allah ada pada murka keduanya” ( HR. Tirmidzi )

            Kisah yang cukup melegenda di negeri kita adalah kisah Maling Kundang, anak durhaka yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu, karena kedurhakaannya, atau kisah Al Qamah yang sulit dalam menghadapi sakaratul maut karena ia lebih mencintai istrinya disbanding ibunya yang tinggal sebatang kara.
Kisah-kisah diatas hendaknya membuka mata hati kita betapa kedua orang tua wajib kita taati dan muliakan.

Lalu bagaimanakah cara berbakti kepada kedua orang tua
Pertama, saat orang tua masih hidup, kita sudah seharusnya berlaku baik dan memuliakan mereka didunia. Mendengarkan arahannya, tidak membantah dan berkata-kata kasar kepada keduanya.

Allah SWT berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S. Al Isrā:23 )

Kedua, jika mereka telah meninggal dunia maka kita wajib meneruskan kebaikannya, menyambung tali silaturahim dengan saudara dan teman mereka serta melaksanakan wasiatnya.

Kesimpulan, berbakti kepada kedua orang tua adalah perintah mulia didalam Al Qur’an, dan durhaka kepada keduanya merupakan dosa besar
Demikianlah pidato yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya kami mohon maaf dan terimakasih