Selasa, 10 April 2018

ANTARA MAAF, AMPUNAN DAN RAHMAT




وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ 

…Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (QS. Al Baqarah: 286)

Bahasa Arab Al A’fwu  (العفو  ), wa’fu ana  adalah permohonan maaf, karena ayat ini berupa perintah seseorang yang lebih rendah kedudukannya, karena ia bersalah  kepada Dzat  yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal ini adalah Allah maka dimaknai sebagai doa. Agar 


Allah tidak mengazabnya karena lalai dalam urusan dan terbatas dalam melakukan perintah. Dalam konteks manusiawi  meminta maaf terjadi jika salah satu pihak melakukan kesalahan, baik ringan atau fatal, sehingga pihak yang bersalah meminta agar kesalahanya tersebut tidak naik ke proses lanjut.

Maghfirah adalah ampunanan, waghfirlana (ampuni kami) lebih kepada doa agar Allah menutup rapat-rapat dosa, aib dan kesalahan kita. 

Permohonan agar Allah tidak membuka aib-aib secara terang-terangan dihadapan manusia, saat masih didunia atau kelak saat Yaumul Hisab. 

Rahmat adalah kasih sayang Allah, warhamna ( rahmati kami, kasihi kami) rahmat yang meliputi ampunan dan maghfirah-Nya. Karena seseorang tidak masuk surga dengan sendirinya, atau mengandalkan amal-amalnya saja, namun Allah-lah yang menurunkan rahmat-Nya, hingga Dia memasukkan hamba-hamba-Nya ke surga.

Ketiga hal diataslah yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bersalah pada saat yang bersamaan, ia butuh meminta maaf dan pemaafan sebagai manusia yang tak luput dari salah dosa, agar Allah tidak memproses lebih lanjut dan mengazabnya. Ia juga butuh agar Allah menutupi kesalahan-kesalahannya, tidak disebarkan ke khalayak, karena fitrah orang yang bertaubat ia pasti punya malu. Dan yang ketiga ia butuh kasih sayang Allah, saat didunia, saat menghadapi mau, saat di alam kubur dan saat Hari Perhitungan kelak.

 Akhir ayat ini tidak menyebut lafaz ربنا  (Ya Tuhan kami) tidak seperti di awalnya, mengapa? Karena seruan biasanya untuk sesuatu yang jauh. Sedangkan seorang hamba yang disiplin dalam melaksanakan perintah Allah, tunduk dan taat kepada-Nya, memohon ampun, segera bertaubat jika ia bersalah, maka Allah akan dekat dengannya,  ia tak perlu berlantang suara dalam memohon, cukup lirih saja, Allah pasti mendengar karena ia sudah dekat dengan-Nya

(Imam Ar Razi, Abu Abdillah bin Umar bin al Hasan bin Husaini At Taimy (606H), Mafatihul Ghaib, Beirut, Dar Ihya Turats, 1420H, Juz 7, h. 124)

Menjelang Dini 

0.29
06/04/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar