Rabu, 22 Mei 2013

Tatapan Guruku




Sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku tidak bertemu dengan guruku, meski jarak yang tidak terlalu jauh dan kesempatan yang tidak terlalu jarang. Namun, yah sekali lagi dalih ‘ sibuk’  yang menghalangiku untuk bersilaturahim kerumah beliau.

Pagi itu Allah menakdirkanku bertemu dengan beliau, disebuah rumah yang masih seperti dulu. Nyaris tidak ada yang berubah. Bentuk tubuh beliau yang ramping bahkan cenderung kurus dengan puasa sunnah Senin Kamis yang rutin sejak muda. Tatapan mata yang tidak berubah kesemua murid-muridnya, ya tatapan itu masih aku ingat sejak dahulu. Tatapan penuh dengan kesejukan, ketenangan, kehati-hatian dan kewaspadaan. Tercermin dari gerak langkah dan kata-kata beliau yang tidak pernah memotong pembicaraan siapapun ketika sedang berbicara. Tenang dan santun.

Guru…

Meski sudah lama kita tidak bertemu, namun sikapmu tidak berubah tetap seperti dulu. Ramah, selalu menyapa terlebih dahulu, selalu menanyakan kabarku dan keluargaku.

Guru…

Meski sudah lama kita tidak bertemu, namun aku masih teringat perjuanganmu dalam memberikan, mewariskan, menggembleng kami dengan pengalamanmu yang tak bertepi, dengan aktifitasmu yang berfariasi, semua demi kebaikan, semua demi kemaslahatan orang lain terlebih dahulu.

Guru..

Semua tidak berubah
Rumahmu masih seperti dulu, ada pohon rambutan tempat dahulu aku memanjat untuk mengambil buahnya pada acara rutin pengajian pekanan, atap plafon rumah yang terbuat dari bambu pun masih seperti dulu, lubang disana sini. Sepeda motor pun masih yang dulu.

Sementara aku. Tubuhku semakin gemuk, rumahpun sudah berpindah ke komplek perumahan, motorku pun sudah berganti dua kali, namun….

Guru..

 Aku salut padamu. Dengan kesederhanaanmu. Dengan ilmumu. Dengan ketulusanmu. Dengan semua yang telah engkau berikan kepadaku. Dengan tatapan wajahmu yang tidak pernah menyimpan kebencian kepada siapapun. namun aku belum bisa sepenuhnya mengamalkan ajaranmu.

Guru…

Maafkan aku

Muridmu …