Senin, 29 Juli 2013

Senandung Syurga



Sangat indah, sehingga tidak bisa digambarkan oleh pelukis paling terkenal seantero dunia. Sangat megah, hingga tak dapat di buat sketsa oleh ahli arsitek kelas wahid. Sangat merdu, hingga tak dapat digubah oleh musisi manapun. Sangat damai, sehingga tak dapat diciptakan oleh angkatan bersenjata manapun. Serba ada dan lux, sehingga tak pernah ada dalam benak siapapun, belum pernah terlihat mata siapapun, 
Itulah syurga.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan hadits qudsi dari Abu Hurairah:

قال الله تعالى: أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر. وفي بعض رواياته: ولا يعلمه ملك مقرب ولا نبي مرسل 
.
Allah berfirman: “ Aku persiapkan bagi hamba-hambaku yang shalih surge yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Riwayat lain: Tidak pernah diketahui malaikat atau utusan dari para nabi.[1]

Sayang seribu sayang, indah, mewah, megah, damai dan semua kenikmatan syurga seolah hanya dongeng anak kecil pengantar tidur. Padahal Rasulullah menyebutkan doa-doanya ketika shalat malam bahwa surga adalah haq ( benar ) neraka juga haq ( benar adanya ) pertemuan dengan Allah juga benar, namun mengapa kita masih belum yakin?

Sebab terbesar mengapa syurga begitu jauh dalam benak kaum muslimin saat ini, karena syurga tidak tergambar dalam hati mereka, ada tempat dihati mereka yang mengganti posisi syurga dari singgasana hatinya. Dunia, ya dunia memang sudah mendominasi tempat hati manusia sekarang. Dunia dengan hitungan materi, dunia dengan hitungan harta, dunia dengan hitungan kemewahan, dunia dengan hitungan kemewahan, jabatan, kedudukan, pangkat dan gelar,  dunia dengan hitungan untung dan rugi. Padahal Allah tidak pernah berhitung dengan nikmat-Nya.

Firman Allah:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[2]

Allah tidak pernah menghitung begitu banyak nikmat yang telah diberikan dari Al Qur’an, bumi dan seisinya, alam semesta, kesempurnaan tubuh, kesehatan,kekayaan,ketenangan, rezeki berlimpah dan banyak sekali yang jika kita menghitung niscaya tidak akan mampu. 

وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها إن الله لغفور رحيم 

“ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  ( An Nahl:18 )

Manusia terlalu fokus dalam menumpuk, mengumpulkan dan menimbun dunia hingga mereka lupa bahwa ada nikmat yang lebih dari dunia dan seisinya yaitu nikmat akherat, nikmat syurga. Dunia ini fana, sementara, kecil dan sudah tua renta meski bersolek dengan indahnya tetap saja dunia sudah tua. Ibarat seorang nenek jompo yang bersolek susah payah tetap saja usia tidak bisa berdusta. Mengapa manusia masih terlalu ‘ngoyo’ mengejar dunia, sedang ia sebentar lagi binasa? Sungguh kasihan manusia. Bahkan dunia ini mengalahkan mereka dalam segala waktu. Subuh seharusnya shalat Subuh, ia sudah di perjalanan berangkat kerja, alasannya biar pagi nggak macet, nanti telat dimarahin bos. Dzhuhur yang seharusnya ia shalat Dzhuhur beralasan sibuk meeting di kantor. Ashar pun begitu, Maghrib masih diperjalanan pulang, Isya terlelap tidur. Hari jumat pun begitu, puasa Ramadhan pun begitu. Kasihan manusia, kasihan manusia, ia tidak ada waktu untuk bercengkrama dengan Dzat penguasa dunia.

Itulah sebab yang memalingkan manusia dari akherat dan syurga. Berbeda dengan generasi sahabat terdahulu. Gambaran dan persepsi syurga begitu dekat didepan mata mereka.

Inilah Umair bin Hammam, dalam perang Badar ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bangkitlah kalian menuju Surga yang lebarnya seluas langit dan bumi.” Umair bertanya, “Wahai Rasulullah, Lebar Surga seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Benar,” Umair berkata, “Bakh-bakh.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu mengatakan Bakh-bakh?” Umair menjawab, “Demi Allah, Tidak wahai Rasulullah, aku hanya berharap, mudah-mudahan aku termasuk penghuninya.” Rasulullah bersabda, “Sungguh, engkau termasuk penghuni Surga.”
Umair lalu mengambil beberapa biji kurma dari tempat makanannya lalu menyuapnya. Kemudian berkata, “Sekiranya aku masih hidup sehingga menghabiskan kurma ini, sungguh ini merupakan kehidupan yang sangat panjang.” Selanjutnya ia melemparkan kurma yang masih tersisa untuk maju berperang hingga Syahid menjemputnya.[3]
 
Itulah kerinduan yang mendalam akan kehidupan syurga yang kekal dengan bergelimang kenikmatan. Sungguh kenikmatan dunia begitu kecilnya, hingga tidak sebanding dengan syurga dan kenikmatannya. Masihkah kita mau berlama-lama didunia yang penuh dengan fitnah ini?

Imam Al Qurtubi menyebutkan,
 قلت: وهذه الكرامة إنما هي لأعلى أهل الجنة منزلاً؛ كما جاء مبيَّناً في صحيح مسلم عن المغيرة بن شُعبة يرفعه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: سأل موسى -عليه السلام- ربّه فقال: يا ربِّ ما أدنى أهل الجنة منزلةً قال: هو رجل يأتي بعدما يدخل أهل الجنة الجنة فيقال له ادخل الجنة فيقول أيْ ربّ كيف وقد نزل الناس منازلهم وأخذوا أَخَذَاتهم فيقال له أترضى أن يكون لك مثلُ مُلْك مَلِك من ملوك الدنيا فيقول رضيتُ ربِّ فيقول لك ذلك ومثله ومثله معه ومثله ومثله ومثله ومثله فقال في الخامسة رضيت رَبّ
Al Qurtubi berpendapat dalam tafsirnya: Aku mengatakan bahwa  al karamah ( kemuliaan ) adalah tempat tertinggi di syurga. Bertanya Musa Alaihi Salam kepada Allah. “ Ya Rabb apakah derajat paling rendah di Syurga? Allah berfirman: “Seseorang yang dimasukkan kedalam syurga setelah seluruh penghuni syurga masuk. Musa berkata: “ Ya Rabb bagaimana bisa semua penghuni surga sudah masuk dan membawa  bawaan mereka. Allah berfirman: “ Apakah engkau ridha aku jadikan raja dari seluruh raja didunia?. Musa berkata: “Mau ya Rabb. Allah berfirman: “ Bagimu itu, ( hingga lima kali lipat dan sepuluh kali lipat sesuai keinginanmu) [4]
Firman Allah:
فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءً بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. ( As Sajdah:17 )
Indahnya syurga tertutup oleh dunia fana, indahnya syurga tertutup oleh sakitnya kematian, darah, luka , hilangnya harta, istri, keluarga dan ketakutan-ketakutan. Padahal dibalik kematian, darah dan luka ada syurga yang menunggu kita. Allahumma amitna ala syahadati fi sabilik.
 






[1] HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim
[2] Ar Rahman:13
[3] HR. Muslim, no. 1901

[4]  Al Qurthubi, Al Jami’ liahkamil Quran ( Kairo: Darul Kutub Al Mishriyah, 1964) juz 14 hal 104