Senin, 11 April 2016

HUKUM ORAL SEX DALAM ISLAM


Pertanyaan:
Assalamualaikum wr. Wb….

Ustadz suami saya senang sekali untuk mencium kemaluan dan menjilat kemaluan saya saat kami sedang berhubungan, apakah hukumnya? Mohon pencerahan. Terimakasih ustadz..
Bunga. Di Jakarta Timur



Jawaban

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh…
Saudari Bunga yang dirahmati Allah…

Islam mengatur segala aspek hubungan dalam rumah tangga, termasuk hubungan seksual antara suami istri yang sah. Dan dianjurkan untuk melakukannya sebagai kesenangan halal antara suami istri. Secara umum aktivitas seksual antara suami dan istri adalah boleh, seperti tercantum dalam firman Allah:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُم
“Istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kau kehendaki… ( QS. Al Baqarah:223)

Imam At Thabari dalam tafsirnya menukil ucapan Ibnu Abbas Radhiyallahuanhuma dalam ayat ini:

عن ابن عباس:" فأتوا حرثكم أنّى شئتم"، قال: يأتيها كيف شاء، ما لم يكن يأتيها في دبرها أو في الحيض.

“Dari Ibnu Abbas,”Datangilah istrimu bagaimana saja kau kehendaki, dengan segala cara selama bukan pada area dubur atau saat haidh”.[1]

Diharamkan menggauli istri saat haid pada kemaluan atau duburnya, namun dibolehkan pada selain itu dengan bercumbu, sesuai dengan hadits Rasulullah.

Beberapa pendapat ulama dalam hal ini adalah:

1.       Ibnu Abidin  ( Hanafiyyah ) dalam kitab Radd Mukhtar mengatakan:

سَأل أبو يوسف أبا حنيفة عن الرجل يمس فرج امرأته وهي تمس فرجه ليتحرك عليها هل ترى بذلك بأساً؟ قال: لا, وأرجو أن يعظم الأجر".
“Abu Yusuf bertanya kepada Abu Hanifah, tentang hukum suami yang memegang kemaluan istri dan istri memegang kemaluan suami, untuk membangkitkan syahwatnya, apakah dilarang? Kemudian Abu Hanifah menjawab,”Tidak, Aku berharap pahalanya besar”. ( Radd Mukhtar)

2.       Imam Syafii

 Beliau membolehkan:
يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها, ولو بمص بظرها

Dibolehkan bagi pasangan suami istri untuk bersenang-senang selain area duburnya, meskipun dengan menjilat klitoris istrinya”.

3.       Al Mardawaih ( Hambaliyah ) berpendapat

يجوز تقبيل فرج المرأة قبل الجماع

“Boleh mencium kemaluan istri sebelum jima’ (Kitab Al Inshaf)
Namun  demikian, ketika melakukan dengan istri, perhatikan juga mood istri dan jangan memaksakan jika memang lelah, akibatnya tidak akan menikmati sebagaimana mestinya. Juga pastikan tidak ada bahaya yg dialami hal tersebut jika dilakukan.

Wallahu ‘A’lam


[1] Imam At Thabari, Tafsir at Thabari  ( Beirut: Muasasah Ar Risalah, 1420H) jilid 4 h. 398