Minggu, 18 September 2016

BELAJAR DARI IBRAHIM ALAIHIS SALAM



KHUTBAH IDUL ADHA 1437 H 
Perumahan Bukit Asri Cibinong, Bogor

TIGA TELADAN DARI KELUARGA NABI IBRAHIM

oleh: Ust. Fauzan Sugiyono, Lc. M.H


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ...لاإله إلا الله
والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا...لاإله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده , وأعز جنده وحزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر ولله الحمد...

الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثم الذين كفروا بربهم يعدلون, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير .وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صلي وسلم على نبيينا ورسلنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أم بعد :

ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.....
يا أيها الذين آمنوا اتقوالله والتنظر نفس ما قدمت لغد واتقواالله إن الله خبير بما تعملون ...
يا أيها الذين آمنوا اتقوالله وقولوا قولا سديدا..يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم...ومن يتق الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماً ..


Allahu Akbar 3X…

Pagi ini memori sejarah kita teringat kepada tiga sosok manusia agung, Ibrahim, Hajar dan Islamil. Bayangkan sekitar 4000 tahun yang lalu, mereka berjalan diatas muka bumi  sejauh 2000 KM ini hijrah menuju tempat yang tandus, membuka dan merintis peradaban baru, peradaban ketaatan kepada Allah, membangun ka’bah yang kini jutaan kaum muslimin sedang melaksanakan ibadah haji disana, teriring doa semoga mereka menjadi haji nan mabrur dan kembali lagi ke Indonesia dengan sehat dan kita yang belum haji semoga Allah berikan kemudahan jalan menuju Baitullah.amiin
Didalam Al Qur’an ada dua sosok Nabi yang diungkapkan Allah dengan ungkapan Uswatun Hasanah, Yaitu Nabi besar Muhammad Shalallalahu Alaihi wa sallam dan Nabiyullah Ibrahim Alaihis salam. Sosok pertama adalah Rasulullah SAW seperti dtercantum didalam Al Qur’an.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang  rahmat Allah dan kehidupan akherat dan yang banyak mengingat Allah”. ( Al Ahzab:21)

Uswatun hasanah adalah teladan yang baik dan shalih dalam kehidupan rasulullah disegala sisinya ( Tafsir Al Baghawi,6/335).Sosok kedua adalah Nabi Ibrahim , sejak muda telah menjadi teladan, bahkan keluarganya di abadikan didalam Al Qur’an:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…. ( QS. Al Mumtahanah[60]:4)

Imam Ats Tsa’labi menafsirkan
الَّذِينَ مَعَهُ: هم الأنبياء المعاصرون له أو قريباً من عصره،

Orang-orang yang bersamanya adalah mereka para Nabi yang berinteraksi dengannya atau zamannya berdekatan. ( Tafsir Ats Tsa’labi, 5/418)

A.    Terus berusaha meyakini Allah

Meyakini Allah tidaklah mudah, butuh perjuangan untuk memastikan dan kesungguhan sampai pada tahap haqul yaqin (keyakinan yang benar).
Sebuah contoh bagaimana Nabi Ibrahim sejak muda sudah mencari eksistensi Allah yang hendak disembah. Seperti tergambar dalam firman Allah:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)

Tatkala ia melihat bintang dikegelapan malam, ia berkata: inilah  Tuhanku, namun bintangpun tenggelam, dia berkata: aku tidak suka kepada yang tenggelam” (QS. Al An’am:76)

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) 

Tatkala ia melihat bulan ia berkata,” inilah Tuhanku, bulanpun tenggelam, saat itu ia berkata, jika Tuhanku tak memberi petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk orang yang sesat. (QS. Al An’am:77)

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)

Tatkala melihat matahari terbit ia berkata,”Inilah Tuhanku yang lebih besar, namun saat matahari tenggelam dia berkata,”Hai kaumku aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. (QS. Al An’am:78)
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)

Aku menghadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dengan mengikuti agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik (QS. Al Anam: 79)

Allahu Akbar 3 X…

B.     Taat kepada Allah

Ketaatan kepada Allah tanpa keluh kesah, sehingga menjadikan nabi Ibrahim nabi yang tergolong Ulul Azmi, dan mendapat gelar Khalilullah, artinya orang yang mencintai dan dicintai Allah. Sebuah pelajaran ketaatan yang istiqamah hingga Allah meletakkan cinta-Nya kepada hamba-Nya. Ketaatan yang dilakukan tentu tidaklah mudah, bak jalan mulus bertabur bunga. Namun ketaatan yang akan diuji oleh Allah sehingga benar-benar terpisah antara logam mulia dan sepuhan. Terpisah antara yang baik dengan yang buruk. Beberapa ujian Allah yang diberikan kepada Nabi Ibrahim  seperti disebutkan didalam Al Qur’an:


وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman,”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata,”(dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman,” Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim”. ( QS. Al Baqarah: 124)
Menurut Imam Ibnu Asyur, yang dimaksud dengan “kalimat” dalam ayat ini adalah taklif (pembebanan) perintah dan larangan Allah kepada nabi Ibrahim. (At Tahrir wa Tanwir, 1/701)

1.      Berdakwah kepada ayahnya (Azar) yang kafir.

Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (74) 

“Dang ingatlah diwaktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar,”Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. ( QS. Al An’am:74)

2.      Berdakwah kepada Namrudz yang zalim, yang berakibat dibakar ditengah api yang menyala.

Perjuangan dakwah nabi Ibrahim ke istana Namruz mengajaknya untuk menyembah Allah, namun dibalas dengan hukuman di bakarnya Ibrahim keadalam api yang menyala, namun Allah selamatkan Nabi Ibrahim, seperti tercantum dalam firman-Nya:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69)
Kami berfirman,”Hai api dinginlah dan jadilah keselamatan untuk Ibrahim” (QS. Al Anbiya:69)
Mengomentari ayat ini, Ibnu Asyur mengatakan:

فَأَمَرَ بِإِحْرَاقِهِ لِأَنَّ الْعِقَابَ بِإِتْلَافِ النُّفُوسِ لَا يَمْلِكُهُ إِلَّا وُلَاةُ أُمُورِ الْأَقْوَامِ
Namruz memerintahkan membakar Nabi Ibrahim, karena hukuman dengan menghilangkan nyawa tidak dimiliki kecuali oleh para pemimpin kaum. ( At Tahrir wa Tanwir, 17/105)

3.      Perintah hijrah meninggalkan kampung halamannya, ke sebuah tempat yang tiada tanaman dan air.

Firman Allah:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (37)

“Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. ( QS. Al Anbiya: 37)

 4.      Perintah menyembelih anaknya, Ismail.

Orang tua mana yang tega menghabisi anaknya, orang tua mana yang dengan sengaja membunuh anaknya, harimau yang buaspun tak akan memakan anaknya sendiri, namun itulah perintah Allah. Lagi-lagi Ibrahim alaihis salam dengan patuhnya melaksanakan perintah itu. Sejarah mencatat Ibrahim memiliki anak Ismail dari Hajar, pada saat itu Ibrahim berusia 86 tahun, seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Qashas Al Anbiya. (Qashshasul Anbiya, 1/292)

Firman Allah:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) 

       Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup, berusaha bersama Ibrahim, ia berkata,” Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku menyembelihmu, maka fikirkan apa pendapatmu,”Ia menjawab,”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang sabar ( QS. Ash Shafat:102)

Ismail adalah simbol, sesuatu yang dicinta sekian lama, dan boleh jadi sudah mengakar dalam darah dan hati manusia, Qurbankanlah Ismailmu, karena ia miliki Allah, bukan milikmu, kau hanya memakai, bukan memilikinya.

Allahu Akbar 3 X….

C.    Pengorbanan 

Qurban berasal dari kata qa-ru-ba artinya dekat, maksudnya qurban dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lihatlah bagaimana Ibrahim mempersembahkan sesuatu yang paling di cintainya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hukum qurban adalah sunnah Muakkad menurut Jumhur ulama, sedankan menurut Imam Hanafi hukumnya wajib. Menurut Imam Syafi’i hukum Qurban adalah sunnah Muakkad, akan tetapi Allah membenci orang yang telah mampu berkurban namun tidak berkurban, tanpa ada uzur syar’i. sedangkan Imam Nawawi menyebutkan dalam Ar Raudhah, bahwa qurban adalah syiar islam dan barangsiapa yang mampu, hendaklah ia menjaga syiar-syiar islam tersebut, sebagai bentuk berbuat baik kepada manusia dengan tujuan mengharap ridha Allah.

Dalam sejarah keturunan nabi Adam, bagaimana Habil dan Qabil juga diperintahkan untuk berkurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sehingga Habil mempersembahkan qurban terbaiknya, hewan yang sehat dan gemuk serta hasil bumi yang segar dan layak dionsumsi. Sedangkan Qabil mempersembahkan qurban asal-asalan, hewan yang kurus dan penyakitan, serta hasil bumi yang jelek dan rusak, maka Allah menerima qurban Habil yang dipersembahkan dengan segala keikhlasannya.

إن الله طيب لا بقبل الا طيبا

Allah itu baik, dan tak akan menerima kecuali yang baik.

Terkait dengan qurban Rasulullah bersabda

عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا تُقُرِّبَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى يَوْمَ النَّحْرِ بِشَيْءٍ هُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

“Dari Aisyah RA, berkata,” Rasulullah bersabda,”Tiada hal yang paling dicintai untuk mendekati Allah pada hari ini, selain mengalirkan darah hewan Qurban”. ( Al Hakim, Al Mustadrak Ala Shahihain, no 7523,  4/246)

Keihklasan dalam berkurban sudah menjadi harga mati, Rasululla mengarahkan kepada kita bahwa Allah hanya akan menerima amalan sesuai dengan niat baiknya. Dan sekali-kali darah dan daging itu tak akan sampai kepada Allah, namun ketakwaan sajalah yang akan diterima Allah. 

Firman Allah:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya ( QS. Al Hajj [22]: 37)

KHUTBAH KEDUA

Allahu Akbar 3X…

Marilah kita berdoa semoga Allah membimbing kita dalam ketaatan kepada-Nya dan dapat meneladani nabiyullah Ibrahim Alaihis salam.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتَكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى إليها مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami orang tua yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka