Rabu, 18 Januari 2017

SIAPAKAH MARGONDA ?




Jika anda masuk ke Depok via lenteng Agung pasti akan melewati Jalan Margonda yang merupakan penghubung antara kota Jakarta Selatan dan Kota Depok. Ya, memang Jalan Margonda menjadi etalasenya kota Depok, kota yang akrab disebut dengan ikon belimbing. Namun tahukah anda, siapakan Margonda itu? Hingga dijadikan sebagai nama jalan utama di kota Depok? Berikut sekelumit sejarahnya.

Margonda lahir dan dibesarkan di Bogor, tinggal di jalan Ardio Bogor tidak terekam kapan tahun Margonda di lahirkan. Nama aslinya Marganda, namun orang sering memanggilnya Margonda. Pendidikan yang ditempuhnya AMS ( Algemeene Middelbare School ) setingkat SMA kini. Saat itu jarang orang pribumi yang bisa sampai tamat AMS. 

Pada waktu revolusi fisik pecah, Margonda masuk anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bogor. Setelah ia mengenyam pendidikan latihan militer singkat di Bogor dengan pangkat Letnan Muda.

Memasuki paruh pertama 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda. Namun tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang. Margonda lantas bekerja untuk Jepang.

Saat Jepang takluk dengan bom atom Amerika di Nagasaki dan Hiroshima pada tahun 1945, Margonda ikut aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar. Margonda bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.

Sewaktu pecah penyerangan di markas tentara Inggris di wilayah Kalibata, Margonda gugur sebagai syahid.. Dan mereka adalah warga bogor pertama yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda dan Inggris. Margonda gugur 16 November 1945 di Kali Bata, Depok daerah bersungai di kawasan Pancoran Mas, Depok. Sungai yang bermuara di Kali Ciliwung itu menjadi saksi gugurnya Margonda. Dan dimakamkan di Bogor pada tahun 1955. Lalu di pindahkan ke Taman Makam Pahlawan Dreded, Bogor. Bersama Margonda ada rekannya yang bernama Sutomo, turut gugur

Nama Margonda tercatat di Museum Perjuangan Bogor bersama ratusan pejuamg yang gugur. Semasa berjuang, Margonda berkawan dekat dengan Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. TB Muslihat senasib dengan Margonda. Dia gugur dalam pertempuran.

Pemerintah Bogor membangun patung TB Muslihat di Taman Topi, sekitar stasiun Bogor. Sementara Ibrahim Adjie, berhasil selamat. Dia berkarir menjadi tentara dengan jabatan akhir Pangdam Siliwangi.

Secara umum warga Depok tidak mengetahui riwayat Margonda, karena minimnya informasi. Dan juga karena perjuangan Margonda dikenal baru sebatas wilayah Bogor dan local Depok, tidak menasional.

Sumber: Buku Jejak Langkah Islam di Depok, 2007