Selasa, 30 Juli 2013

Eropa Berniat Damaikan Mesir



KAIRO -- Konflik perpecahan berdarah di Mesir menemui titik terang setelah kedatangan juru damai dari Uni Eropa (UE), Catherine Ashton. Kedua pihak yang bertikai telah bersepakat untuk menghindari kekerasan.

Perdamaian ini, kata Ashton, merupakan kesimpulan pertemuannya dengan pemimpin militer, oposisi, dan Ikhwanul Muslimin. "Dari semua pertemuan, kesimpulan yang saya ambil, tidak ada tempat bagi kekerasan dan demonstrasi yang berlangsung damai itu jauh lebih penting," katanya, Selasa (31/7).

Kepala Kebijakan Luar Negeri UE ini menegaskan, kehadirannya di Negeri Piramid itu untuk mendamaikan Mesir, bukan mendikte rakyat Mesir. Ashton merupakan satu-satunya tokoh internasional yang diterima semua pihak yang berseteru.

Pada hari pertamanya di Mesir, Senin (29/7), Ashton bertemu pemimpin militer Jenderal Abdul Fatah al-Sisi, Presiden interim Mesir Adly Mansur, dan pemimpin oposisi sekaligus Wakil Presiden interim Mesir Muhammad el-Baradei.

Pada Selasa, militer membawa Ashton menggunakan helikopter meninggalkan Kairo menuju tempat penahanan Mursi. Bagi Mursi, pertemuan dengan Ashton merupakan kontak pertamanya dengan dunia internasional setelah terguling pada Rabu (3/7).

Pada awal pertemuan, Ashton menyampaikan salam dari semua orang kepada Mursi. Mursi pun membalas salam itu. Setelah berbicara dua jam dengan Mursi, Ashton mengatakan, Mursi dalam kondisi sehat. Dia menolak menyampaikan isi pembicaraan dengan tokoh Ikhwanul Muslimin itu.

Ashton ingin memastikan kepada keluarga Mursi bahwa Mursi baik-baik saja. Mursi tidak buta informasi dan tetap memiliki akses pada media massa. Namun, aktivis Partai Buruh di Inggris ini tidak mengetahui di mana dia berada. Mursi dikabarkan menjalani penahanan di sebuah fasilitas militer.

Meski begitu, kondisi di lapangan belum menunjukkan adanya perdamaian. Ikhwanul Muslimin tetap menjalankan aksi dalam skala kecil, menolak rekonsiliasi, dan menyerukan demonstrasi, Selasa ini. Pemerintah juga tampak tak ingin berdamai dengan pihak Ikhwanul Muslimin dan akan menegakkan hukum kepada kelompok yang mengganggu.

Delegasi Ikhwanul Muslimin, Ali Bishr, mengatakan, pertemuan Ashton bersama kelompok pendukung Mursi tidak menuntut harapan. Ali menegaskan, gagasan rujuk tidak akan digubris jika militer tidak memulihkan kepemimpinan Mursi. Ikhwanul Muslimin mengingatkan rekonsiliasi bisa berjalan jika semua faksi setuju menempatkan Konstitusi 2012 sebagai dasar hukum yang sah.Republika.co.id

Presiden terguling Moursi "sehat", punya akses baca surat kabar



Kairo (ANTARA News) - Presiden terguling Mesir Mohammad Moursi dalam keadaan sehat dan memiliki akses untuk memperoleh berita, kata Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton pada Selasa setelah bertemu dengannya di satu lokasi yang tak disebutkan.

"Moursi dalam keadaan sehat," kata Ashton kepada wartawan, seraya menambahkan dia memiliki akses untuk mendapatkan surat kabar dan menonton televisi, dan melukiskan pembicaraan mereka "bersahabat, terbuka dan sangat terus terang."

Dia mengadakan pembicaraan dua jam dengan Moursi Selasa dinihari, dengan sumber-sumber mengatakan kepada kantor berita Prancis AFP dia bertolak dari Kairo dengan helikopter militer.

Dia menolak mengatakan di mana Moursi ditahan atau menyebutkan komentar-komentarnya kepada dia.

Ashton tiba di Kairo pada Ahad malam untuk mengadakan pertemuan-pertemuan yang jadwalnya ketat dengan para pejabat pemerintah Mesir dan para wakil oposisi.

Kunjungan dia terjadi beberapa hari setelah kekerasan yang merenggut 82 jiwa di pihak pengunjuk rasa pro-Moursi di Kairo pada Sabtu pagi.

Dia mendesak daikhirinya pertumpahan darah dan transisi politik yang akan mencakup organisasi Ikhwanul Muslimin yang jadi organisasi asal Moursi.

Tetapi Ashton mengatakan Selasa bahwa dia di Mesir tak bermaksud mendesak masing-masing pihak untuk mengambil tindakan-tindakan khusus atau mengambil prakarsa.

"Saya di snini tidak meminta orang-orang melakukan sesuatu," kata dia, seraya menambahkan bahwa dia akan membantu menemukan "dasar sama" antara dua pihak.

"Saya tidak datang ke sini untuk mengatakan orang hendaknya berbuat ini, orang berbuat itu, ini negara Anda," kata dia. "Solusi untuk rakyat Mesir."

Sebelumnya Ashton mengatakan Uni Eropa akan meneruskan upaya penengahan guna mengakhiri kemelut di Mesir.

Ashton, yang berbicara di samping Wakil Presiden Sementara Mesir Mohamed El Baradei, mengatakan bahwa sejumlah diplomat Uni Eropa akan tetap berada di Mesir untuk melanjutkan upaya tersebut.

Polisi Mesir Larang Kaum Muslimin Shalat Isya da Tarawih Di Mesjid Tauhid

PORT SAID : Jamaah Muslimin dan Muslimat berdatangan ke masjid Tauhid di kota Port Said pada Ahad (28/7/2013) malam sebelum waktu Isya’. Mereka hadir ke masjid untuk menunaikan shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Namun, seperti dilansir Rassd, mereka dikejutkan oleh kehadiran pasukan kepolisian Mesir di dalam masjid. Aparat itu mengatakan, “Maaf, tidak ada kesepakatan untuk shalat.”

Rassd melaporkan, pasukan kepolisian dan tentara Mesir telah mengepung Masjid Tauhid sejak Senin (29/7/2013) pagi dengan tank-tank dan sejumlah panser. Beberapa orang dengan tutup kepala mulai membakar serambi masjid jami’ di kota Port Said tersebut. Pasukan keamanan membuat titik-titik pemberhentian untuk memeriksa mobil-mobil yang lalu lalang di jalan raya depan masjid.

Satu pasukan tentara Mesir juga naik ke atap-atap bangunan di sekitar masjid. Mereka membuat posko pertahanan dengan memasang karung-karung pasir. Tentara dan polisi di Port Said mengkhawatirkan kembalinya massa demonstran pendukung Mursi dan penentang kudeta militer ke komplek Masjid Tauhid.

Antisipasi dilakukan pasukan keamanan Mesir di Port Said setelah sehari sebelumnya massa demonstran pendukung Mursi terlibat bentrokan dengan massa pendukung kudeta militer. Seorang pendukung Mursi, seorang wartawan dan karyawan toko minyak wangi gugur dalam bentrokan tersebut. Lebih dari 30 orang mengalami cedera dalam bentrokan yang sama.

Rassd melaporkan sepanjang hari Senin massa liberal pendukung kudeta militer membakari sejumlah besar toko dan restoran milik aktivis Islam di Port Said. Video yang dirilis Rassd memperlihatkan seorang karyawan toko aktivis Islam terbakar bersama tokonya oleh serangan brutal massa pendukung kudeta militer. Karyawan toko itu pun gugur menemui sang maut. (arrahmah.com), salam-online

Pemerintah Mesir ancam pendukung Moursi

Kairo - Dewan Pertahanan Nasional Mesir mengingatkan para pendukung presiden terguling Mohamed Morsi bahwa pasukan keamanan akan mengambil langkah pasti dan keras jika aksi demonstran melewati batas.

Dewan ini menyeru demonstran untuk tidak melewati hak mereka untuk mengekspresikan pendapatnya dengan damai dan bertanggung jawab  serta mengingatkan bahwa mereka akan menghadapi langkah pasti dan keras terhadap segala kekerasan.

Anggota dewan ini termasuk Presiden Adly Mansour, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdel-Fattah al-Sisi, perdana menteri dan menteri dalam negeri, lapor kantor berita MENA.

Dewan ini juga menyeru pendukung Moursi yang berkumpul di dua situs di Kairo untuk menolak kekerasan dalam segala bentuk, serta menghentikan serangan verbal dan fisik terhadap warga negara.

72 orang pendukung Moursi terbunuh dalam demonstrasi berujung kekerasan di Rabaa al-Adawiya di Kairo, Sabtu pekan lalu. sumber: Antara

Uni Eropa serukan Mesir kembali ke pemerintahan sipil

Kairo- Kepala urusan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton pada Minggu menyerukan lagi agar Mesir kembali ke pemerintahan sipil di saat ia terbang ke Kairo untuk melakukan pembicaraan setelah bentrokan mematikan antara demonstran dan polisi.

Ashton mengatakan dia ingin berbicara kepada semua pihak setelah setidaknya 72 orang tewas pada Sabtu dalam satu protes untuk mendukung presiden terguling Mohamed Moursi.

Para pengunjuk rasa menuduh pasukan keamanan menembakkan peluru tajam kepada warga sipil yang tak bersenjata, tuduhan yang telah dibantah oleh pemerintah Kairo.

"Uni Eropa ingin "memperkuat pesan kami bahwa harus ada proses transisi yang sepenuhnya inklusif, dilakukan di semua kelompok politik, termasuk Ikhwanul Muslimin," kata Ashton dalam sebuah pernyataan.

"Proses ini harus dilakukan - sesegera mungkin - untuk memenuhi perintah konstitusi, pemilihan umum yang bebas dan adil dan pemerintahan yang dipimpin sipil," katanya.

"Saya juga akan mengulangi seruan untuk mengakhiri semua kekerasan. Saya sangat menyayangkan kerugian yang menyebabkan kematian."

Ashton mengatakan dia kembali ke Mesir, setelah seruannya berulang-ulang untuk transisi damai dan kunjungan awal bulan ini, dalam menanggapi permintaan "para pemangku kepentingan", meskipun dia tidak mengidentifikasi mereka.

Sebelumnya Minggu, pihak berwenang di Kairo mengatakan bahwa Ashton akan bertemu dengan Presiden Adly Mansour, Wakil Presiden untuk urusan Internasional Mohamed ElBaradei dan para pejabat lainnya.

Ashton mengatakan dia juga akan bertemu dengan Menteri Pertahanan Jenderal Abd Al Fattah Al Sisi dan akan mengadakan pembicaraan dengan kelompok-kelompok lain. Sumber:Antara

Fakta Dibalik Tragedi Kemanusiaan Mesir

Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Mesir pasca-kudeta militer pada awal Juli 2013. Lebih dari 100 orang tewas dan 4.500 luka-luka, saat pendukung pro-legitimasi berkumpul di lapangan Masjid Rabiah al-Adawiyah, Naser City (Kompas, 28/7).
Yang mengerikan sebagian besar mereka tertembak peluru aparat di bagian kepala atau dada. Penembakan terjadi justru di tengah malam hingga pagi hari, saat pendemo sedang melakukan shalat tarawih dan mempersiapkan sahur.
Tragedi itu melengkapi pembantaian yang dilakukan di depan markas Garda Republik, tempat penahanan Presiden Muhammad Mursi. Sedikitnya 56 tewas dan lebih dari 700 luka-luka (BBC, 8/7). Dinamika politik Mesir mengalami setback, dari fajar demokrasi kembali ke malam gelap otoriterianisme baru.
Dalam konteks Indonesia yang masih mengalami transisi panjang sejak reformasi 1998, tragedi Mesir memberi pelajaran berharga. Perluasan demokratisasi dan pembentukan pemerintahan sipil yang kuat adalah agenda penting abad 21 (Oxford Manifesto, 1997).

Karena itu, perlu jeli ketika menyorot dinamika politik di suatu negara. Komentator emosional justru meruntuhkan argumentasi paling mendasar, bahwa kedaulatan sungguh-sungguh di tangan rakyat.
Komentar aneh antara lain dilontarkan Zuhairi Misrawi, analis politik Timur Tengah lewat akun twitternya. Politisi muda yang mengaku memperjuangkan prinsip demokrasi itu menilai, “Ikhwanul Muslimin ingin mengesankan kepada dunia sebagai ‘korban’. Padahal, mereka telah memprovokasi militer untuk melakukan tindakan biadab. Jika IM tidak melawan militer, maka tragedi berdarah itu tidak akan terjadi. Jadi kesalahan tidak sepenuhnya pada militer.” (@zuhairimisrawi, 28/7)

Betapa naifnya pandangan Zuhairi, seakan IM menghargai nyawa rakyat begitu murah demi mencapai citra politik yang dibayangkannya.
Padahal, pimpinan IM tegas menyatakan, bahwa mereka memperjuangkan pemulihan legitimasi pemerintahan sipil berdasarkan konstitusi yang telah disetujui mayoritas rakyat dalam referendum 2012. IM tidak bergerak sendiri, tapi bersama kekuatan lain lintas-ideologi yang bernaung di bawah “National Coalition to Support Legitimacy”.

Lebih jauh Zuhairi menuding, “IM juga pegang senjata dan bom bunuh diri. Ini yang menyebabkan militer harus mengambil tindakan keras. Puluhan militer dan rakyat Mesir ditembak dan dibom oleh IM dalam dua pekan ini. Mesir menuju perang saudara,” (@zuhairimisrawi, 27/7).
Zuhairi menolak istilah pembantaian karena media Mesir yang dikutipnya menyebut “isytibakat” (bentrok).
Tudingan Zuhairi sungguh tak berdasar, karena insiden bentrok bersenjata terjadi di kawasan Sinai, kota el-Arish atau Rafah, yang memang selama ini dikuasai milisi bersenjata tak dikenal. Mereka tak ada hubungan organisatoris dengan IM. Bahkan, ada dugaan faksi militer Mesir yang selama ini membina, meski tak sepenuhnya bisa mengendalikan. Insiden itu justru memperlihatkan salah satu dampak kudeta adalah kerawanan di daerah perbatasan.

Problematika Demokrasi
Demokrasi menyisakan persoalan klasik, rakyat mana semestinya yang berdaulat? Rakyat yang ikut pemilihan umum (apapun pilihan politiknya) ataukah rakyat yang tak memilih alias Golput (apapun alasannya)?
Apakah rakyat yang mengeluarkan mosi tidak percaya lewat petisi atau turun ke jalan sama nilainya dengan rakyat yang datang ke bilik suara?
Pertarungan di kotak suara jelas lebih terukur untuk menentukan siapa pemenang dan siapa yang berhak memerintah. Tetapi, jika dua kubu demonstran sedang berhadapan, maka suara siapakah yang paling menentukan?
Dalam pemilu sekurangnya ada KPU selaku penyelenggara dan MK sebagai wasit, sedangkan adu kekuatan massa tak jelas siapa menjadi penengah. Itulah enigma demokrasi, misteri yang sulit dicerna.
Dalam kerangka problematik itu, simpulan Zuhairi tentang pergantian rezim di Mesir amat mencengangkan. Sebagai tokoh muda yang kencang menyuarakan demokrasi justru merayakan kudeta militer lewat artikel provokatif,
“Ikhwanul Muslimin Tumbang*” (Kompas, 5/7). Bukan kebetulan, Kompas pada hari sama menulis berita utama, “Demokrasi Tumbang di Mesir”. Bukankah itu bermakna IM pendukung utama demokrasi di negeri piramida dan, “mafhum mukhalafah”-nya, kelompok yang menjatuhkan Mursi adalah anti-demokrasi?
Zuhairi menyatakan Mursi hanya mementingkan kelompoknya sendiri dan memonopoli jabatan politik dan kantong ekonomi. Faktanya, Mursi yang mengangkat Menhan Abdul Fattah al-Sisi (menggantikan Marsekal Hussein Tanthawi, orang kuat Husni Mubarak) dan Ketua MK Adly Mansour (hakim agama yang sempat menjadi Wakil Ketua MA). Jika tidak dipromosikan Mursi, maka kedua tokoh itu tak akan tercatat dalam sejarah Mesir modern. Bukti lain, lima menteri dalam kabinet Mursi menyatakan mundur saat militer mengultimatum. Berarti mereka bukan loyalis Mursi atau IM.
Lalu, kelompok oposisi ingin jatah kekuasaan apa lagi?

Mengakhiri Darurat Militer
Tindakan drastik yang dilakukan Mursi dalam 100 hari pemerintahannya adalah mempercepat pensiun 70 jenderal loyalis Mubarak bersamaan dengan pencopotan Hussein Thantawi dan Sami Annan dari posisi Panglima dan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata.
Entah hal itukah yang dimaksud Zuhairi sebagai monopoli, padahal Mursi kemudian mengangkat perwira muda untuk mulai gerakan reformasi militer Mesir. Selain itu, sesuai konstitusi, Presiden Mursi berhak mengangkat Gubernur baru. Dari 27 posisi Gubernur, cuma 5 yang berafiliasi partai, selebihnya kaum profesional.
Figur baru yang menyulut kontroversi global adalah Gubernur Luxor yang dituduh tokoh Jamaah Islamiyah dan diduga terlibat dalam insiden penembakan turis asing di kota wisata itu pada 1997. Tuduhan itu tidak didukung oleh bukti peradilan dan semua orang tahu Jamaah Islamiyah telah berubah fundamental, menempuh jalur demokrasi-damai dan menjauhi cara kekerasan.
Kudeta militer saat ini justru dapat membangkitkan kembali bibit kekerasan yang coba dinetralisir di Mesir dalam satu dekade terakhir. Jika tokoh oposisi merasa diri mampu menjadi Gubernur, mereka dapat mengajukan nama dan ikut seleksi, bukan mendukung kudeta.
Sebenarnya Mursi telah melakukan gebrakan berupa mobilisasi militer Mesir menguasai kembali Gurun Sinai yang di masa Mubarak lepas ke tangan Israel. Hampir 70 persen lalulintas udara dan darat Mesir dulu dikuasai Israel.

Politik cerdas Mursi dicermati betul PM Israel Benyamin Netanyahu yang mengatakan, “Sikap Mursi jauh lebih berbahaya daripada nuklir Iran’. Sementara itu pemerintah AS memuji inisiatif Mursi memfasilitasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel, hingga terbukanya perbatasan Rafah mengakhiri blokade Jalur Gaza.
Militer Mesir memang “the real actor” dalam politik nasional, namun kini semua prajurit di bawah komando Panglima Tertinggi (Presiden).
Berdasarkan konstitusi baru, tak ada lagi kekuasaan Dewan Tinggi Militer (SCAF) yang tak terbatas. Dulu SCAF punya otoritas untuk membubarkan parlemen, membekukan partai hingga menangkap tokoh sipil tanpa proses peradilan.
Mursi mengakhiri kezhaliman itu lewat Dekrit yang membuka jalan bagi penetapan konstitusi. Demi menghilangkan ketergantungan atas bantuan militer AS, Mursi berinteraksi dengan Rusia dan Jerman. Hasilnya, dalam dua bulan saja telah dikirim dua kapal selam tercanggih dari Jerman, walau diprotes keras Israel.

Prioritas ekonomi
Alasan lain kudeta militer disebut Zuhairi karena Mursi mengabaikan pemulihan ekonomi, malah lebih sibuk mengutak-atik konstitusi yang bernuansa syariah. Benarkah?
Mursi mewarisi kondisi ekonomi terburuk dalam sejarah Mesir yang ditinggalkan Mubarak. Utang luar negeri menumpuk, defisit anggaran mengancam.
Menurut “Strategic Analysis” (The Henry Jackson Society, 2013), cadangan devisa Mesir menciut dari 13,5 miliar dolar AS (2010) tinggal 4,8 miliar dolar AS. (2012).
Tahun 2008, ekonomi Mesir masih tumbuh 7,2 persen. Kemudian turun jadi 4,7 persen (2009), 5 persen (2011), dan naik sedikit 5,5 persen (2012). Akibat eskalasi politik yang digoyang terus oposisi, pertumbuhan ekonomi Mesir kini terpuruk 2,2 persen (awal 2013). Angka inflasi 2012 (7,3 persen) uniknya lebih rendah dari 2011 (11,8 persen).

Karena itu harga sembako relatif stabil, hanya BBM melonjak. Angka pengangguran meningkat dari 12,06 persen (2011) menjadi 12,31 persen (2012). Begitu pula angka kemiskinan masih tinggi (40 persen).
Tak seorang pun sanggup melakukan keajaiban dalam waktu satu tahun, namun kebijakan ekonomi Mursi jelas-tegas memprioritaskan kecukupan pangan. Di era Mubarak produksi gandum domestik dibatasi maksimal 20 persen, sekarang sudah melampaui 60 persen. Dulu Mesir harus mengimpor gandung ke AS, sedang Mursi mengimpor dari negara yang lebih bersahabat demi menghemat belanja negara, sambil meningkatkan pendapatan petani lokal.

Sebagai bukti komitmen pro-kesejahteraan, Mursi menghapus utang 40.000 petani yang memiliki pinjaman di bawah 10.000 pounds (Rp 30 Juta). “Bail out” untuk rakyat kecil.
Investasi memang sulit datang di tengah krisis politik, tapi kunjungan Mursi ke China (Agustus 2012) menghasilkan perjanjian investasi senilai 4,9 miliar dolar AS. Bersama investor Korea, Mursi merintis pembangunan pabrik Samsung terbesar di kawasan Arab, di Provinsi Bani Suwef, agar barang elektronik terjangkau masyarakat.

Pembangunan pabrik otomotif nasional, komputer, hingga peralatan militer sudah masuk dalam program kabinet Mursi. Semua rencana itu kini hancur.
Yang paling membuat gerah sebagian kaum liberal mungkin pengaturan penjualan “khamar” (minuman keras), meski hal itu sama sekali tidak mengganggu sektor pariwisata.

Ada lagi, pergantian Direksi yang mengelola Pelabuhan Suez yang di era Mubarak menghasilkan pemasukan sebanyak 5,6 miliar dolar AS per tahun. Mursi menargetkan Suez sebagai hub ekonomi global dengan penghasilan meningkat 100 miliar dolar AS per tahun. Revitalisasi Suez mengancam perdagangan di Dubai dan Kuwait, karena itu negara Teluk mendukung kudeta.

Konstitusi Islam?

Isu menyesatkan seputar konstitusi baru disebut Misrawi sebagai “konstitusi prematur” dan dituding meminggirkan hak kaum perempuan dan kelompok minoritas. Bila kita cermati lebih teliti konstitusi baru itu justru mengakui hak kaum perempuan dan minoritas yang tak pernah disebut sekalimat pun dalam konstitusi lama produk militer.

Sangat aneh, apakah Zuhairi betul-betul membaca naskah Konstitusi 2012 atau sekadar mengutip pendapat komentator Arab? Bandingkan konstitusi itu dengan Dekrit 33 pasal yang dikeluarkan rezim boneka Adly Mansour, sangat kontradiktif.
Konstitusi baru Mesir disetujui mayoritas rakyat (71 persen) dalam referendum 2012 menegaskan berakhirnya kondisi darurat militer selama lima dekade, digantikan sistem presidensialisme yang dipilih untuk masa 4 tahun.

Pembatasan masa jabatan Presiden itu dinyatakan dalam pasal 133, sehingga tak ada lagi presiden yang berkuasa sesukanya. Pergantian pemerintahan dilakukan melalui Pemilu, bukan kudeta.
Secara khusus pasal 232 konstitusi baru Mesir mengisolasi petinggi Partai Nasional Demokrat (yang berkuasa di era Mubarak) selama 10 tahun. Klausul itu mirip dengan kebijakan Vaclav Havel ketika menjabat Presiden Ceko di masa transisi (1993-2003). Apakah konstitusi macam itu yang dikritisi Zuhairi dan lebih menyukai Dekrit darurat?

Akan halnya klausul terkait syariah Islam disebut dalam pasal pertama bahwa Mesir adalah “negara sipil” (bukan teokrasi) yang berdasarkan ajaran Islam Sunni. Dalam penjelasannya dinyatakan, posisi penting Al Azhar sebagai rujukan untuk merancang regulasi terkait warga Muslim. Jadi, tak ada yang disebut islamisasi konstitusi, karena ketentuan itu mirip dengan konstitusi di negara lain (seperti Malaysia yang menetapkan Islam sebagai agama negara dan Melayu jadi bahasa resmi).

Zuhairi begitu sengit mengecam “ikhwanisasi Mesir” — sebuah istilah yang absurd, karena tak ada dalam dokumen organisasi IM atau “Freedom and Justice Party” sebagai sayap politik, apalagi kebijakan resmi Presiden Mursi.
Zuhairi lupa sikap terbuka Muhammad Badie (Mursyid Aam IM) yang pada hari terpilihnya Mursi dalam Pilpres putaran kedua menandaskan: “Hari ini rakyat Mesir memilih pemimpin baru. Saya, tak terkecuali, sebagai warga negara Mesir tunduk kepada kepemimpinan baru yang dipilih rakyat.” Sejak itu, Mursi melepaskan tugas sebagai pimpinan FJP dan Maktab Irsyad IM (Ikhwan Web, 30 Juni 2012).
Ironisnya, Zuhairi kehilangan kritisisme tatkala menyinggung aksi kelompok Tamarrud (pembangkang), padahal itu mirip gejala awal Talibanisme. Kelompok yang tidak puas dengan pemerintahan sah, malah berkolaborasi dengan unsur militer menempuh jalan ilegal. Akan
halnya, pengaruh asing dalam kejatuhan Mursi cukup disimak kritik keras dari Dr. Aidh al-Qarni, dai yang disegani di Timur Tengah, atas dukungan Kerajaan Saudi dan Emirat Arab untuk aksi militer.
Demokrasi sebagai sistem politik modern mengandung janji dan misteri. Ada faktor substansi (kedaulatan rakyat), ada pula aspek prosedur (penyelenggara, peserta dan pengawas pemilu serta pemutus perkara jika terjadi sengketa).
Daulat individu akan berbaur dengan legitimasi kolektif. Prinsip “one man, one vote, one value” tidak membedakan seorang jenderal yang memimpin pasukan besar, seorang pengusaha yang memiliki aset dan pegawai melimpah, seorang ulama/pendeta yang memimpin lembaga berpengaruh, dengan rakyat jelata (penjual martabak atau kopi di pinggir kota Kairo), semua punya hak/kewajiban sama.
Para jenderal, konglomerat dan sebagian ulama itu mendukung kudeta dan membatalkan putusan rakyat dalam kotak suara.
Demokrasi mempersilakan mantan loyalis rezim masa lalu untuk bertarung memperebutkan suara setelah masa “iddah” politik, asalkan mereka terbukti tidak melanggar hukum/HAM. Demokrasi juga memberi peluang bagi pihak yang kalah dalam pemilu untuk beroposisi dan berdemonstrasi. Tapi, demokrat sejati tak membiarkan militer merampas legitimasi demi membentuk rezim boneka.
Sejumlah aktivis dan tokoh independen hadir dalam demonstrasi pro-legitimasi pasca-kudeta, karena mereka percaya konstitusi 2012 dan kebebasan sipil merupakan keniscayaan. Mereka terkejut dengan sikap Presiden interim Adly Mansour yang memberangus kebebasan, menangkap politisi tanpa peradilan, membredel media independen. Bahkan, Menhan Abdel Fattah el-Sisi yang jelas lebih berkuasa dari Presiden Adly, secara terbuka memobilisasi demonstran dan menembaki rakyat sendiri.
Jika rakyat Mesir telah memilih perubahan fundamental untuk mengakhiri dominasi militer, mengapa kaum demokrat dan liberal di negeri ini (termasuk Zuhairi) masih menyangsikannya. Padahal, Mesir adalah negara pertama yang mengakui Kemerdekaan RI tahun 1945 dan tokoh IM menjadi pelopor pembentukan Front Pembela Kemerdekaan Indonesia.
Jauh sebelum Zuhairi lahir, kaum Islamis telah menunjukkan komitmen dan kontribusinya untuk pembebasan negeri terjajah. Pengorbanan yang disaksikan dunia saat ini demi tegaknya legitimasi pemerintahan sipil hasil demokrasi yang beradab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/07/30/37411/konteks-indonesia-dari-enigma-demokrasi-di-mesir/#ixzz2aVfia4UG

Senin, 29 Juli 2013

Rezim Kudeta di Ambang Kehancuran.. Kenapa?

Oleh: Dr. Mohammed Kamal

Meskipun persiapan 'matang' yang disusun para pemimpin kudeta sejak keberhasilan revolusi 25 Januari cukup meyakinkan, akan tetapi melihat kenyataannya saat ini dampak buruk kudeta sudah bisa dipastikan dan ada di depan mata. Bahkan rezim kudeta sedang berada di ambang kehancuran.

Saat ini semua orang tercengang-cengang melihat buruknya kinerja dan langkah yang diambil oleh militer. Sekalipun mereka adalah raja dalam ilmu strategi, namun pengelolaan politik mereka yang paradoks dan ironis membuktikan bahwa militer gagal mencapai mimpi-mimpi kudeta.

Rezim kudeta sudah tiba di ambang kehancuran, inilah gambaran kondisi yang ada saat ini. Diantara pertanda dekatnya kegagalan dan kehancurannya dapat terlihat dari banyak aspek:

1. Penggunaan mekanisme yang mirip dengan negara-negara gagal.

Barangkali militer tidak memahami sebab-sebab jatuhnya rezim Mubarak yang terjadi di depan mata mereka. Obsesi terhadap kekuasaan telah membutakan mereka dan tidak bisa membaca peta perpolitikan dengan baik. Sehingga mereka kembali menggunakan cara-cara yang sama dengan rezim terdahulu:

1. Penangkapan dan penyitaan
2. Penyesatan media dan pengaburan fakta
3. Operasi intelijen State Security, kepolisian dan premanisme
4. Menjatuhkan hukuman sesuai permintaan

Pada kenyataannya cara ini tidak pernah menghasilkan apa-apa selain memancing perlawanan dan pemberontakan terhadap penguasa. Mungkin mereka lupa bahwa segala tekanan dan ancaman tersebut telah lenyap bersama revolusi 25 Januari. Buktinya saat ini Islamis sudah memperlihatkan keberanian yang tinggi melawan teror keamanan.

Maka seluruh aksi penangkapan dan pemberedelan yang dilakukan oleh rezim kudeta sejatinya hanya menunjukkan ketakutan mereka pada lawan-lawan politiknya, bukan sebaliknya.

Perputaran waktu tidak akan kembali ke belakang. Rakyat tidak akan menerima re-adopsi sistem politik lama. Generasi revolusi tidak akan membiarkan 'anjing-anjing penjaga' kembali menyerbu rumah majikannya. Bisa diperkirakan bahwa perlawanan terhadap sistem politik yang sedang diterapkan akan menjadi kejutan yang menggoyang rezim kudeta. Perang politik ini akan menjadi penyebab keruntuhan mereka.

Maka apa yang kita lihat saat ini sangat jelas menunjukkan adanya permainan para konspirator. Mantan Jaksa Agung Abdul Majid kembali memegang peradilan.. ia menolak Menteri Kehakiman untuk kembali. Sementara keputusan-keputusan komedian terus digulirkan dengan mencekal para petinggi Islamiyun dan membantai anggotanya. Penyitaan aset dan kurungan hingga penghinaan terhadap tawanan di penjara Tora, dan  para pengacara juga tidak diizinkan masuk untuk membela para tahanan. Semua peristiwa ini mengisyaratkan akan jatuhnya rezim dan memudahkan tugas presiden Mursi setelah kembali ke  istana dengan aman.

2. Kegelisahan dan kebingungan para perwira

Hal ini disebabkan kebohongan fakta yang dikeluarkan militer untuk menutupi rangkaian kejahatan yang telah dilakukan. Ada banyak fakta kejahatan yang senantiasa diputar balikkan. Seperti video di Abbasiah yang kemudian dipublikasikan untuk menganulir pembantaian di depan  Garda Republik, seakan-akan militer lah yang diserang. Demikian juga dengan video pidato Sisi yang penuh rekayasa.

Banyak lagi kasus pembantaian yang akhirnya menggelisahkan tubuh militer. Kini mereka tidak merasakan ketentraman hidup di tengah rakyat yang telah dikhianati. Mereka kini dianggap penjahat di setiap jalanan Mesir. Demikian juga yang dirasakan oleh prajurit kepolisian. Para pimpinan militer juga merasakan tekanan publik, ini akan mangubah pandangan mereka dan melakukan tekanan serupa kepada para peringgi kudeta.

3. Terburu-buru menerapkan sistem politik gaya  baru

Para petinggi militer tidak mempelajari situasi politik dengan baik, sehingga mereka buru-buru menetapkan presiden sementara, mengeluarkan dekrit konstitusi dan mengangkat pemerintahan baru. Barangkali mereka memandang dengan cara ini akan memastikan kekalahan kubu pendukung presiden Mursi. Namun kenyataannya tidak. Justru yang ada hanya memancing kemarahan rakyat terhadap militer karena sangat yakin bahwa rezim baru akan tercabut.

Dengan manipulasi fakta mereka mencoba bermain-main untuk melegserkan legitimasi. Pada akhirnya rakyat akan menyaksikan penipuan ini, dengan demikian pendukung pemerintahan Mursi akan semakin meluas.
Kita akan melihat siapa yang lebih kuat; presiden yang bekerja melayani dan memahami kepentingan rakyat atau rezim kudeta yang telah gagal mengendalikan situasi.
 
4. Kekhawatiran AS terhadap kekacauan Mesir

Seorang pemikir Inggris Robert Fisk dalam pernyataan terbarunya di CNN mengatakan bahwa meningkatnya tekanan akan mempercepat perpecahan internal militer. Militer tidak bisa menutupi kenyataan ini. Ada sejumlah informasi pengunduran diri beberaa perwira militer, namun Sisi berupaya menutup-nutupi dan berkilah.

Namun ada yang lebih penting dari semua itu, Amerika -yang melindungi kudeta ini- telah salah perhitungan. Reaksi pendukung Mursi ternyata menggoyahkan upaya intervensi ini. Keteguhan demonstran pendukung Mursi kenyataannya malah menjadi 'teror' bagi kepentingan Amerika. Washington berupaya mengakomodir dan memberikan dukungan tanpa henti dengan tujuan menekan atau menenangkan pendukung Mursi.

5. Keteguhan Pendukung Mursi

Beberapa petinggi koalisi pendukung legitimasi menyatakan sudah lebih seribu kali tekanan dan ancaman yang datang dari tentara terhaap demonstran. Sehingga perang moral pun terjadi dan demonstran menerimanya dengan lapang dada. Sehingga sikap militer dipandang banyak orang bagaikan sebuah lelucon.sinaimesir.net

Intelijen Israel Mengungkap Sebab Pelengseran Mursi

Aviv Kokhavi
Kepala intelijen militer Israel, Aviv Kokhavi menyebutkan diantara sebab utama pelengseran Mursi adalah karena ia membawa pemikiran Ikhwanul Muslimin yang hari ini berkembang pesat di Timur Tengah; di Mesir, Turki, Tunisia, Maroko, Libya, Gaza, dll. Kini mereka berupaya untuk membangun kekuatan di Suriah dan Yordania.

Kekuatan Ikhwanul Muslimin ada di berbagai bidang, tak hanya sebagai gerakan politik, mereka juga mengisi kehidupan sosial dan berinteraksi dengan manusia.

Ada dua agenda besar yang kini sedang digencarkan Ikhwan;

Pertama: Mempromosikan negara khilafah dan penerapan syariat. Definisinya ada di Mesir, sebagai negara demokrasi yang menerapkan sistem Syura..sebuah merupakan konsep mermusyawaratan yang diakui dalam Islam.

Kedua: Strategi lebih luas yaitu memperkuat pertahanan mereka di tengah-tengah pengaruh rezim non demokratis pada saat demokrasi tidak bisa menghapusnya dengan mudah, sebagaimana terlihat di Turki dan Gaza.

Masjid Al Azhar akan menjadi kekuatan penerapan Syari'at. Tapi ini akan menyusul, supaya fokus pada penguatan legitimasi hukum yang sedang diterapkan oleh pemerintah Mesir.

Dua misi besar tadi akan menguatkan Ikhwanul Muslimin di kawasan. Maka partai-partai Ikhwan yang baru-baru ini berkembang di Mesir, Gaza dan Tunisia sedang bergerak menuju kursi kepemimpinan yang kemudian akan menjadikan mereka sebagai penanggung jawab. Tanggung jawab ini tidak lagi diterjemahkan sebagai kuncup tunas kecil, tapi sudah menjadi kembang yang utuh.

Jadi kudeta terhadap Ikhwan adalah bertujuan untuk menghambat tegaknya Daulah Islamiyah di Mesir. Penggulingan atas Mursi sebenarnya karena takut pada kesuksesannya, bukan karena kegagalannya.( Sumber: Sinaimesir.net )

Senandung Syurga



Sangat indah, sehingga tidak bisa digambarkan oleh pelukis paling terkenal seantero dunia. Sangat megah, hingga tak dapat di buat sketsa oleh ahli arsitek kelas wahid. Sangat merdu, hingga tak dapat digubah oleh musisi manapun. Sangat damai, sehingga tak dapat diciptakan oleh angkatan bersenjata manapun. Serba ada dan lux, sehingga tak pernah ada dalam benak siapapun, belum pernah terlihat mata siapapun, 
Itulah syurga.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan hadits qudsi dari Abu Hurairah:

قال الله تعالى: أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر. وفي بعض رواياته: ولا يعلمه ملك مقرب ولا نبي مرسل 
.
Allah berfirman: “ Aku persiapkan bagi hamba-hambaku yang shalih surge yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Riwayat lain: Tidak pernah diketahui malaikat atau utusan dari para nabi.[1]

Sayang seribu sayang, indah, mewah, megah, damai dan semua kenikmatan syurga seolah hanya dongeng anak kecil pengantar tidur. Padahal Rasulullah menyebutkan doa-doanya ketika shalat malam bahwa surga adalah haq ( benar ) neraka juga haq ( benar adanya ) pertemuan dengan Allah juga benar, namun mengapa kita masih belum yakin?

Sebab terbesar mengapa syurga begitu jauh dalam benak kaum muslimin saat ini, karena syurga tidak tergambar dalam hati mereka, ada tempat dihati mereka yang mengganti posisi syurga dari singgasana hatinya. Dunia, ya dunia memang sudah mendominasi tempat hati manusia sekarang. Dunia dengan hitungan materi, dunia dengan hitungan harta, dunia dengan hitungan kemewahan, dunia dengan hitungan kemewahan, jabatan, kedudukan, pangkat dan gelar,  dunia dengan hitungan untung dan rugi. Padahal Allah tidak pernah berhitung dengan nikmat-Nya.

Firman Allah:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[2]

Allah tidak pernah menghitung begitu banyak nikmat yang telah diberikan dari Al Qur’an, bumi dan seisinya, alam semesta, kesempurnaan tubuh, kesehatan,kekayaan,ketenangan, rezeki berlimpah dan banyak sekali yang jika kita menghitung niscaya tidak akan mampu. 

وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها إن الله لغفور رحيم 

“ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  ( An Nahl:18 )

Manusia terlalu fokus dalam menumpuk, mengumpulkan dan menimbun dunia hingga mereka lupa bahwa ada nikmat yang lebih dari dunia dan seisinya yaitu nikmat akherat, nikmat syurga. Dunia ini fana, sementara, kecil dan sudah tua renta meski bersolek dengan indahnya tetap saja dunia sudah tua. Ibarat seorang nenek jompo yang bersolek susah payah tetap saja usia tidak bisa berdusta. Mengapa manusia masih terlalu ‘ngoyo’ mengejar dunia, sedang ia sebentar lagi binasa? Sungguh kasihan manusia. Bahkan dunia ini mengalahkan mereka dalam segala waktu. Subuh seharusnya shalat Subuh, ia sudah di perjalanan berangkat kerja, alasannya biar pagi nggak macet, nanti telat dimarahin bos. Dzhuhur yang seharusnya ia shalat Dzhuhur beralasan sibuk meeting di kantor. Ashar pun begitu, Maghrib masih diperjalanan pulang, Isya terlelap tidur. Hari jumat pun begitu, puasa Ramadhan pun begitu. Kasihan manusia, kasihan manusia, ia tidak ada waktu untuk bercengkrama dengan Dzat penguasa dunia.

Itulah sebab yang memalingkan manusia dari akherat dan syurga. Berbeda dengan generasi sahabat terdahulu. Gambaran dan persepsi syurga begitu dekat didepan mata mereka.

Inilah Umair bin Hammam, dalam perang Badar ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bangkitlah kalian menuju Surga yang lebarnya seluas langit dan bumi.” Umair bertanya, “Wahai Rasulullah, Lebar Surga seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Benar,” Umair berkata, “Bakh-bakh.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu mengatakan Bakh-bakh?” Umair menjawab, “Demi Allah, Tidak wahai Rasulullah, aku hanya berharap, mudah-mudahan aku termasuk penghuninya.” Rasulullah bersabda, “Sungguh, engkau termasuk penghuni Surga.”
Umair lalu mengambil beberapa biji kurma dari tempat makanannya lalu menyuapnya. Kemudian berkata, “Sekiranya aku masih hidup sehingga menghabiskan kurma ini, sungguh ini merupakan kehidupan yang sangat panjang.” Selanjutnya ia melemparkan kurma yang masih tersisa untuk maju berperang hingga Syahid menjemputnya.[3]
 
Itulah kerinduan yang mendalam akan kehidupan syurga yang kekal dengan bergelimang kenikmatan. Sungguh kenikmatan dunia begitu kecilnya, hingga tidak sebanding dengan syurga dan kenikmatannya. Masihkah kita mau berlama-lama didunia yang penuh dengan fitnah ini?

Imam Al Qurtubi menyebutkan,
 قلت: وهذه الكرامة إنما هي لأعلى أهل الجنة منزلاً؛ كما جاء مبيَّناً في صحيح مسلم عن المغيرة بن شُعبة يرفعه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: سأل موسى -عليه السلام- ربّه فقال: يا ربِّ ما أدنى أهل الجنة منزلةً قال: هو رجل يأتي بعدما يدخل أهل الجنة الجنة فيقال له ادخل الجنة فيقول أيْ ربّ كيف وقد نزل الناس منازلهم وأخذوا أَخَذَاتهم فيقال له أترضى أن يكون لك مثلُ مُلْك مَلِك من ملوك الدنيا فيقول رضيتُ ربِّ فيقول لك ذلك ومثله ومثله معه ومثله ومثله ومثله ومثله فقال في الخامسة رضيت رَبّ
Al Qurtubi berpendapat dalam tafsirnya: Aku mengatakan bahwa  al karamah ( kemuliaan ) adalah tempat tertinggi di syurga. Bertanya Musa Alaihi Salam kepada Allah. “ Ya Rabb apakah derajat paling rendah di Syurga? Allah berfirman: “Seseorang yang dimasukkan kedalam syurga setelah seluruh penghuni syurga masuk. Musa berkata: “ Ya Rabb bagaimana bisa semua penghuni surga sudah masuk dan membawa  bawaan mereka. Allah berfirman: “ Apakah engkau ridha aku jadikan raja dari seluruh raja didunia?. Musa berkata: “Mau ya Rabb. Allah berfirman: “ Bagimu itu, ( hingga lima kali lipat dan sepuluh kali lipat sesuai keinginanmu) [4]
Firman Allah:
فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءً بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. ( As Sajdah:17 )
Indahnya syurga tertutup oleh dunia fana, indahnya syurga tertutup oleh sakitnya kematian, darah, luka , hilangnya harta, istri, keluarga dan ketakutan-ketakutan. Padahal dibalik kematian, darah dan luka ada syurga yang menunggu kita. Allahumma amitna ala syahadati fi sabilik.
 






[1] HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim
[2] Ar Rahman:13
[3] HR. Muslim, no. 1901

[4]  Al Qurthubi, Al Jami’ liahkamil Quran ( Kairo: Darul Kutub Al Mishriyah, 1964) juz 14 hal 104