Kamis, 22 Juni 2017

KHUTBAH IDUL FITRI 2017




GRIYA TELAGA PERMAI, CILANGKAP  DEPOK- JAWA BARAT
1 SYAWAL 1438 H
Ust. Fauzan Sugiyono, Lc, M.Ag

Tiga Ruh Idul Fitri

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ...لاإله إلا الله  والله أكبر الله أكبر ولله الحمد . الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا...لاإله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده , وأعز جنده وحزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر ولله الحمد... الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثم الذين كفروا بربهم يعدلون, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير .وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صلي وسلم على نبيينا ورسلنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أم بعد : ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون..... يا أيها الذين آمنوا اتقوالله والتنظر نفس ما قدمت لغد واتقواالله إن الله خبير بما تعملون ... يا أيها الذين آمنوا اتقوالله وقولوا قولا سديدا..يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم...ومن يتق الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماً ..

1.      Ruh Kontinuitas Ketakwaan

Pagi ini kita bersimpuh dihadapan Allah, setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Kita berkumpul disini sebagai alumni dari universitas Ramadhan. Dengan harapan terindah agar ibadah kita diterima Allah, semoga Ramadan ini melahirkan kita menjadi manusia manusia baru. Manusia-manusia yang selama puasa, taubatnya telah menyingkap tabir antara dirinya dengan Allah,  yang munajat-munajatnya telah mencurahkan rahmat Allah ke dalam dirinya, yang tilawah dan i’tikafnya telah membebaskannya dari ancaman api neraka. Sedekahnya mengundang keberkahan rezeki dari langit dan bumi, menebar luas ke muka bumi.

Semoga kita terlahir menjadi manusia-manusia baru, suci bersih bak terlahir dari rahim ibu. Karena hanya manusia-manusia yang bersih lahir dan bathin mereka yang memahami orientasi hidupnya untuk mengabdi kepada Allah.

Kita hadir disini hadir sebagai ruh-ruh baru, , bahwa kita telah berusaha membersihkan semua debu yang menempel dalam hati, pikiran dan jiwa kita, bahwa kita telah membetulkan kembali arah hidup yang menuntun jalan hidup kita, bahwa kita telah menyiapkan energi fisik kita dalam mengarungi sebelas bulan kedepan. Atas anugerah hari Raya Idul Fitri inilah, mari saling bermaafan, hilangkan hasad dan dengki diantara kita salinglah bersilaturahim, hilangkan sekat dan dosa-dosa karena ulah manusia, semoga Allah ampuni kesalahan dan dosa kita semua, dan kita terlahir sebagai ruh baru nan suci  jiwa nan baru nan bersih selepas Ramadhan tahun ini. Amiin.

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ ولله الْحمْدُ

Ramadhan telah berlalu, ia telah pergi jauh meninggalkan kita, terlalu banyak kenangan bersamanya. Kita masih ingat bagaimana malam-malam Ramadhan diliputi tilawah dan qiyamullail, siang harinya diliputi ibadah sedekah dan amal-amal shalih lainnya. Kita menyadari, sebagai manusia biasa, belum sempurna memanfaatkan waktu mulia Ramadhan tahun ini, masih terlena dengan dunia, masih asyik dengan perkara-perkara ringan yang sia-sia. Namun kita berharap Allah ampuni dosa-dosa kita, Allah maafkan kesalahan kesalahan kita, Allah jauhkan kita dari siksa neraka, dan kelak Allah masukkan kedalam syurga. Amin ya Rabbal Alamin.
Ketakwaan yang diraih bukan hanya pada bulan Ramadhan saja, namun bisa berkanjut dibulan-bulan yang lain. Tilawah masih  menghiasi rumah-rumah, shalat malam masih hidup dalam aktifitas keseharian, puasa sunnah masih djalankan. Janganlah kita bak menenun kain, namun setelah kain tertenun rapi, kita cabuti satu persatu benangnya hingga terurai lalu tercampak dan berserak, sungguh sia-sia.

Firman Allah:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (QS An Nahl [16}: 92)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa ayat ini kisah dalam ayat tersebut adalah seorang wanita di Mekkah
كُلَمَّا غَزَلَتْ شَيْئًا نَقَضَتْهُ بَعْدَ إِبْرَامِهِ.

Setiap benang tertenun, lalu diurai setelahnya. Sedangkan Qatadah berpendapat bahwa ayat ini permisalan untuk orang yang mengingkari janji setelah ia berjanji.       (Tafsir Ibnu Katsir, 4/599).

Beribadah hanya karena Allah, tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja, karena Allah adalah tujuan seluruh aktifitas manusia:

قُلْ إنِ صلاتِي ونُسُكِي ومحْياي ومماتِي لله رب الْعالميِن

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ ولله الْحمْدُ

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

2.       Ruh Ketahanan Keluarga

Keluarga merupakan salah satu tonggak peradaban, didalamnya terdapat miniatur kepemimpinan dunia, dengan peran-peran yang luar biasa. Sang ayah sebagai nakhoda kapal yang bernama keluarga, ia memahami betul tugasnya bukan hanya mencari nafkah halal untuk keluarga, sudah selayaknya ia turut berbagi peran dengan ibu untuk membina ketahanan keluarga, tidak hanya bekerja,  sehingga kesalahan pembagian peran inilah yang terkadang urusan mendidik dan membina anak-anak hanya diserahkan kepada ibu, padahal keduanya memiliki peran yang sama, yaitu  mengarahkan rute kapal kearah kebahagiaan dan menjauhkan dari siksa neraka.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

Wahai orang-orang yang beriman, Peliharalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak durhaka kepada Allah, terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At Tahrim [66]:6)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil pendapat Ali Bin Abi Thalib, terkait makna dari “Qu Anfusakum wa ahlikum Nara” adalah:

 "أدِّبوهم وعلِّموهمُ الخيرَ

“Ajarkan Adab-adab (sopan santun) dan ajarkan kebaikan” ( Tafsir Ibnu Katsir, 4/391)

Seorang ibu memiliki peran sebagai sosok panutan selain ayah. Ibu adalah sekolah pertama bagi keluarga, perannya sangat sentral, dia mungkin berada dibelakang. Namun melalui kasih sayang dan kelembutannya lahirlah pemimpin-pemimpin dunia,  Ibu Nabi Musa, Ibunda nabi Isa Maryam, ibunda Aminah ibu Rasulullah  shalallah alaihi wasallam, yang begitu mulia, Muhammad Al Fatih sang Penakluk Konstantinopel memiliki ibu yang luar biasa yang turut mengantarkan mereka menjadi pemimpin Islam nan mendunia. Saatnya sang Ibu kembali menemukan perannya dalam keluarga. Tidak dilarang bagi kaum wanita berkarir sepanjang naluri dan kehormatan seorang wanita terjaga, dan ia dapat memberikan manfaat utama. Namun jikalau tidak mampu maka jihad seorang wanita adalah didalam rumah tangga, umat ini butuh keluarga dan sosok ibu yang mendidik dan mempersiapkan generasi kedepan menjadi pemimpin-pemimpin Islam dan dunia masa depan.

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ ولله الْحمْدُ
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Seorang anak merupakan harapan orang tuanya, bukan harta dan materi duniawi yang dinanti, bukan pangkat tertinggi yang menjadi tujuan ayah bunda. Namun seorang anak yang dengan keshalihannya dengan izin Allah mampu membimbing tangan kedua orang tuanya menuju syurga. Seorang anak yang sabar menghadapi dan melayani kedua orang tuanya saat mereka sudah lanjut usia, seorang anak yang mengharumkan nama keluarga di mata Allah dan dunia. Sehingga lirih doa sang anak melantun:

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik aku waktu kecil (QS. Al Isra [17]: 24)


Rasulullah juga menceritakan bagaimana orang-orang yang memiliki kedua orang tua sudah tua renta namun  ia tak dapat membimbingnya untuk taat dan masuk syurga didoakan celaka oleh Malaikat Jibril.
Rasulullah bersabda:

عن كعب بن عجرة رضي الله عنه   - أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : احضروا المنبر ... فحضرنا ، فلما ارتقى درجة قال : آمين ..فلما ارتقى الدرجة الثانية قال : " آمين " . فلما ارتقى الدرجة الثالثة قال : " آمين " . فلما نزل قلنا : يا رسول الله ، لقد سمعنا منك اليوم شيئا ماكنا نسمعه . ؟ قال : إن جبريل عرض لي فقال : بعد من أدرك رمضان فلم يغفر له . قلت : ( آمين ) ، فلما رقيت الثانية قال : بعد من ذكرت عنده فلم يصل عليك . فقلت : ( آمين ) ، فلما رقيت الثالثة قال : بعد من أدرك أبويه الكبر عنده أو أحدهما فلم يدخلاه الجنة . قلت : ( آمين

Dari Ka’ab bin ‘Ajrah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “ Datanglah kearah mimbar wahai sahabat”. Lalu kami datang. Saat Rasulullah naik tangga pertama, beliau berucap “Amin”, saat menaiki tangga kedua, belia berucap “Amin”. Dan saat meniki tangga ketiga beliau berucap “Amiin”. Setelah turun, kami bertanya kepada Beliau,” Ya Rasulullah, sungguh kamu mendengar darimu hari ini sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya”. Beliau bersabda,” Sesunguhnya malaikat Jibril datang kepadaku dan ia berkata,” Celakalah orang yang mendapati Ramadhan, naun dosa-dosanya belum diampuni Allah ( Amiin). Saat aku menaiki tangga kedua Jibril berkata,” Celakalah orang yang disebut namamu Muhammad namun ia tak bershalawat kepadamu (Amin) dan saat menaiki tangga yang ketiga Malaikat Jibril berkata,”Celakalah orang yang mendapati kedua orang tuannya sudah sepuh, atau salahsatunya sudah tua, namun ia tak dapat membimbingnya menuju syurga, dan aku mengucapkan (Amin).

Al-Mustadrak,  Al Hakim Shahih Lighairihi No.167- AL Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Thabrani dalam AL Kabir dan Shahih menurut Al Al Bani)

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ ولله الْحمْدُ
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

3.      Ruh Masa depan Islam

Hari ini kita berhari Raya, riuh gembira suka cita karena kita baru saja selesai dalam ajang kompetisi Ramadhan dan semoga kita adalah pemenangnya, namun tidakkah saudara-saudara menyaksikan umat Islam kini  tercabik-cabik di mana-mana?
a.      Di depan mata kita ada lebih dari 470 ribu mayat warga Syiria yang menjadi korban. Ada 12 juta sisanya yang menjadi pengungsi ke hampir seluruh penjuru dunia. Lalu berapakah jumlah saudara-saudara kita yang dibunuh dan dibantai di Irak, di Mesir, di Yaman, di Libya?
b.   Lalu berapa banyak pemuda-pemudi Palestina yang setiap hari berguguran sebagai syahid? Tidakkah saudara-saudara menyaksikan bagaimana para pemimpin Islam di Bangladesh digantung satu persatu secara bergiliran?
c.    Tidakkah saudara-saudara menyaksikan bagaimana bom telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Pakistan, di Afghanistan, bahkan di Turki? Baik karena perang saudara, atau kebengisan rezim sekuler, atau intervensi militer negara lain, yang pasti semua itu telah melahirkan wajah dunia Islam yang carut marut, penuh darah dan air mata. Saya bahkan tidak tahu apakah kita yang hadir di sini punya hak untuk tertawa di hari lebaran ini, sementara saudara-saudara kita di belahan bumi lain bersimbah darah dan air mata?
d.  Tidakkah kita menyaksikan harga-harga semakin membumbung tinggi, sehingga daya beli masyarakat kian lemah, yang miskin semakin miskin, kekayaan hanya dimiliki oleh segelintir orang bermodal, pendidikan mahal, kesehatan juga mahal,  kebutuhan hidup semakin tinggi.  
e.   Saya bahkan tidak mengetahui apakah kita punya alasan untuk bergembira hari ini sementara saudara-saudara kita di belahan bumi lain Afrika Timur, Sudan, Somalia, Ethiopia krisis kelaparan dahsyat 10 persen penduduknya tidak punya sesuatu yang bisa mereka makan dan bisa mereka pakai di hari lebaran ini? Itulah umat kita. Itulah dunia Islam kita. Kebodohan, kemiskinan dan perang adalah kosa kata yang memenuhi wajah kita. Seakan-akan misi agama ini membawa rahmat tak pernah hadir di tengah umat kita.

 

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ ولله الْحمْدُ
Maasyiral muslimin rahimakumullah

Kita dihadapkan pada dua kondisi, Umat yang tersakiti, terlilit kemiskinan, kebodohan dan kezhaliman, konflik, perpecahan bahkan peperangan tak kunjung usai. Umat ini berusaha untuk bangkit dan mengobati lukanya sendiri, meski terus diadu domba pada permasalahan klasik, perbedaan fikih dan interpretasi mazhab, yang memicu umat terkotak-kotak menjadi golongan-golongan kecil nan lemah. Disisi lain, ada kekuatan peradaban bangsa-bangsa besar yang terus memaksakan diri untuk mencari korban-korban ketamakan nafsu kekuasaan dan kapitalisme mereka. Kita yakin kepada Allah suatu saat nanti umat Islam akan berjaya.

Firman Allah:

وتِلْك الأْيامُ نداولها بين الناسِ وليِعْلم اللهُ الذِين آمنوُا ويتخِذ مِنكُمْ شُهداء

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (Ali Imran: 140)
Dan kitapun yakin, suatu saat nanti Allah akan memenuhi janjinya.

وعد اللهُ الذين آمنوُا مِنكْمْ و عمِلُوا الصالِحاتِ ليسْتخلفِنهُمْ فِي الأْرض كما اسْتخلف الذين مِنْ قبلْهمْ و ليمكنن لهُمْ دينهُمُ الذِي ارتْضى لهُمْ و ليبُدلنهُمْ مِنْ بعْدِ خوْفِهِمْ أمْناً يعْبدُونني لا يُشْركون بي شيئْاً و منْ كفر بعْد ذلِك فأوُلئِك هُمُ الْفاسِقُون

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan #ada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)



Tapi janji Allah itu hanya akan terwujud dengan kerja manusia, kerja keras kita.

Umat Islam kini membutuhkan jiwa-jiwa baru selepas Ramadhan

Pemimpin yang bisa mengayomi kepentingan umat Islam, karena sejarah mencatat  saat Islam berkuasa, maka kemakmuran dan keberkahan di atas muka bumi akan terwujud. Inilah symbol dari islam Rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Kita membutuhkan jiwa-jiwa baru yang telah ditempa dalam ibadah Ramadhan, jiwa baru yang bergelora, semangat mendakwahkan Islam, untuk diri, keluarga dan lingkungannya, jiwa-jiwa baru yang bisa menyatukan lidi-lidi yang berserakan dalam tubuh umat Islam, yang dapat menyatukan keyakinan umat islam dibawah naungan kalimat tauhid, la ilaha ilallah.

Kita membutuhkan jiwa-jiwa baru yang yakin akan janji Allah, sabar dalam menghadapi ejekan dan celaan seperti sabarnya Rasulullah dalam berdakwah di Mekkah, sabarnya Nabi Nuh yang diejek oleh kaumnya saat ia membuat perahu dan kesabaran para salafusshalih dalam menyebarkan agama ini. Yang senantiasa beramar ma’ruf dan nahi munkar serta menjauhi kemaksiatan baik yang tersembunyi maupun yang terang terangan.

Kita membutuhkan jiwa-jiwa baru yang dapat membawa ruh islam kesetiap lini kehidupan mereka, berusaha menjalankan ajaran Islam dalam berbagai bidang yang digelutinya, perdagangan, perkantoran, pendidikan dan pemerintahan, dalam semua aktifitas kehidupan. Itulah islam, ruhun wal hayat islam menjadi ruh dan menjadi kehidupan. Semoga Allah mengabulkan permohonan kita, amin ya rabbal alamin.


Khutbah Kedua

لله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

Marilah kita berdoa kepada Allah semoga Allah selalu membimbing kita semua dalam kebaikan dan meridhai langkah-langkah kita.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا، عَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ وَخَطَّ بِهِ قَلَمُكَ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُك، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْلنا ولوالدين وارحمهم كما ربيانا صغارا ولجميع الْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاِت، وَياَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, sayangi keduanya sebagaimana mereka menyayangi kami diwaktu kecil.
Jika mereka masih hidup, berkahi usia mereka agar tetap bisa beribadah kepadamu, menyebut asma-Mu, membaca Al Qur’an dan taat kepada-Mu, jika mereka sudah tiada ya Allah, luaskanlah alam kuburnya, ampuni kesalahan dan  dosanya, jadikan kuburnya bak taman-taman di syurga dan jauhkan mereka dari siksa kubur dan siksa neraka.
 Ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat yang hidup dan yang mati sungguh Engkau Maha Mendengar doa dan mengabulkan keinginan.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صلاتناوصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا  وركوعنا وسدودنا وتضرعنا وتخشعنا وتلاوتنا وصدقاتنا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا يا رب العالمين

Ya Allah terimalah ibadah shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, rukuk dan sujur kami, kerendahan hati dan khusyuk kami, tilawah kami, sedekah kami dan semua amal kebaikan kami, jadikanlah ia sebagai penolong kami dari siksaan api neraka.

Ya Allah jadikanlah kami selepas Ramdahan menjadi manusia-manusia baru, jiwa-jiwa yang bersih bak terlahir dari Rahim ibunda kami.  Ya Allah jadikanlah kami hamba yang istiqamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.

Ya Allah berikanlah keberkahan dalam diri kami, dalam harta kami, dalam keluarga kami dalam usaha kami, dalam pekerjaan kami, dalam ilmu dan aktifitas kami. Jadikanlah keluarga kami menjadi keluarga yang mencintai-Mu, gemar membaca dan membaca Al Qur’an petunjuk Mu,  beribadah hanya kepada-Mu, gemar menunaikan shalat berjamaah.

Ya Allah lindungi putra dan putri kami, selamatkan mereka dari segala mara bahaya, mudahkan mereka dalam menggapai cita-citanya, agar kelak menjadi anak anak shalih yang menyejukkan hati kami ya Allah kumpulkan kami bersama keluarga dan anak-anak kami di surge-Mu kelak ya Allah dan jangan jadikan salah satu dari anggota keluarga kami sebagai ahli neraka ya Allah.

Ya Allah jika hari ini ada yang sakit diantara saudara-saudara kami, sembuhkanlah ya Allah, jadikan sakitnya menjadi pembersih dosa dan kesalahannya, jika ada yang berhutang lunaskanlah, jika ada yang memiliki hajat mudahkan dan lancarkan Ya Allah.

Ya Allah berikanlah keberkahan rezeki bagi kami seluruh kaum muslimin,  sehingga bisa berkunjung ke Baitullah rumah-Mu, bisa berziarah ke makam Rasulullah kekasih-Mu juga para sahabat orang-orang yang Engkau ridhai.

اللهمَّ انْصُرْ إخوانَنَا الْمُسْتَضْعَفِين في فِلِسْطِين اللّهُمَّ انْصُرْ إخْوانَنَا الْمُجاهِدِين في سوريا و في فِلِبِّينَ وفي قطر وفي كل بلدان وفي كل الزمان ياأرحم الراحمين  اللهم انصرهم نصراً مؤَزَّرَاً اللهم وَحِّدْ كَلِمَتَهُم وسَدِّدْ رَمْيَهُم وَأَنْزِلْ فِي قُلُوْبِهِم السَكِينةَ اللهم أنهم مَظْلُومُون فَانْتَصِرْ لَهُمْ، إِنَّهُمْ فُقَرَاءُ فَأَغْنِهِمْ.اللّهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَاهُمْ وَاشْفِ جُرْحَاهُمْ. وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ، اللهمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزُ 
.
Ya Allah tolonglah saudara-saudara sesama muslim, yang ada di Palestina, negeri para syuhada, merdekakan mereka dari Yahudi laknatullah, ya Allah tolonglah saudara-saudara kami yang ada di Suriah dari kekejaman dan kezaliman musuh-musuhmu Ya Allah. Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami yang berada di Filiphina, Rohingya, Pakistan, Qatar dan seluruh kaum muslimin dibelahan bumi dan masa. Satukan mereka, berikan ketenangan untuk mereka tolonglah mereka dari kezaliman yang menimpa, rahmati yang telah wafat, sembuhkan yang sakit dan terimalah amal amal para syuhadanya Ya Allah. Jaga mereka dengan tangan Mu dan Penjagaan-Mu ya Allah.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَ وَالْبَلاَءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إندونيسيا  خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ .
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Minggu, 04 Juni 2017

Apakah Anak yang Wafat akan Berkumpul dengan Orang Tuanya di Syurga?



Hukum anak dari kaum muslimin (beragama Islam) yang wafat, tanpa diagukan lagi bahwa mereka Insya Allah akan masuk syurga. Inilah pendapat yang dianut oleh banyak ulama seperti Imam Ibnu Katsir, Imam Ahmad dan Imam Abu Daud. ( Tafsir Ibnu Katsir, 3/33)

Imam Ahmad berkata,”Tak diragukan lagi bahwa anak muslim yang wafat ia akan masuk syurga.  Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa, 

أجمع من يعتد به من علماء المسلمين على أن من مات من أطفال المسلمين فهو من أهل الجنة ؛ لأنه ليس مكلفا

“Para ulama Islam bersepakat bahwa siapa saja dari anak kaum muslimin meninggal dunia ia bagian dari penghuni syurga, karena ia belum termasuk orang mukallaf (mendapatkan tanggun jawab ibadah) ( Syarah Muslim Lin Nawawi, 16/207)
 
Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Thuur: 21)

Rabu, 10 Mei 2017

MERAWAT NIKMAT HIDAYAH


Petunjuk Allah, itulah hidayah. Petunjuk kepada kebenaran, keimanan, ketaatan, keselamatan, kebaikan dan kebahagiaan dunia akherat. Banyak orang bertanya bagaimana mendapat hidayah? Jawabannya adalah mendekat kepada Sang Pemberi Hidayah.

Terkadang ada orang berkelit saat ditanya, mengapa anda tidak shalat, ia menjawab ringan saja,”Aku belum mendapat hidayah”.
 

Atau seorang wanita muslimah, namun belum berbusana muslimah, saat dinasehati mengapa belum menutup aurat layaknya muslimah, ia menjawab,”Belum siap, belum mendapat hidayah, katanya”.
Karena hidayah tidaklah datang dengan sendirinya, ia datang karena ada sebab. Sebab dalam diri adalah dengan berfikir, merenung atas tindakan yang sudah jauh menyimpang, mengaitkan peristiwa apapun dengan Allah Sang Maha Pengatur.

Ketika seseorang mendapatkan cahaya itu, sontak kenikmatan bermaksiat akan lenyap, teringat telah jauh diri melangkah, jauh dari Allah. Lihatlah bagaimana kisah sang pembunuh 100 jiwa, ia terus mencari hidayah itu, hingga Allah wafatkan dia dalam mencari petunjuk-Nya. Syurga Allah janjikan untuknya, meski ia belum beramal shalih.
Ketika seseorang mendapat hidayah, perlahan ia akan menjauhi bisikan-bisikan keburukan, dan akan membiasakan dengan bisikan-bisikan keimanan, dekat dengan ketaatan dan orang-orang yang shalih, tenang hidupnya.

Rawatlah hidayah itu, dengan terus mendekat kepada Allah, karena jika ia terkotori dengan noda dosa, perlahan cahayanya akan redup, terhalang bisikan hawa nafsu lawamah. Ingatlah usiamu dihadapan Allah.

Firman Allah:

اهدنا الصراط المستقيم

Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS. Al-Fatihah: 6)


Gang Haji Sairi
11 Mei 2017