Rabu, 03 Juli 2013

HATI - HATI DENGAN LIDAHMU


Lidah tak bertulang, begitulah pepatah mengatakan, sebagai gambaran betapa luka yang diakibatkan lidah lebih lama sembuh dari pada luka diakibatkan senjata tajam. Banyak orang tersakiti  secara tidak sengaja karena lidah yang ‘ keceplosan’. Ringan ketika mengucapkan namun besar efek yang ditimbulkannya.  Sehingga seseorang yang menulis sesuatu, padahal belum jelas baginya benar atau salah lalu menyebarkan ‘keburukan orang lain tersebut ’ melalui media hukumnya sama dengan mengatakan sesuatu yang  belum jelas duduk persoalannya, bisa jadi ia berdosa. Analogi yang bisa ditarik adalah efek yang ditimbulkan  dari tulisan itu sangatlah besar, orang lain bisa tertuduh padahal belum terbukti secara legal formal.
Oleh karena itu seseorang dapat menjadi mulia karena ucapan lisannya bahkan sebaliknya seseorang menjadi tercela dan hina karena tidak dapat menjaga lisannya meski secara.
Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasalam telah mengingatkan kita akan bahaya lisan. Diantara hadits- hadits tentang menjaga lisan adalah sebagai berikut:
1.       أكثر خطايا بن آدم في لسان
“ Paling banyak dosa anak Adam disebabkan karena lidah “ ( HR. Thabrani )

2.       عن أبي هريرة رضي اللّه عنه  عن النبي صلى اللّه عليه وسلم قال: "مَنْ كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أوْ لِيَصْمُتْ"

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam”. ( HR. Bukhari Muslim )

3.      عن أبي موسى الأشعري قال: قلتُ يا رسولُ اللّه، أيُّ المسلمين أفضلُ؟ قال: "مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِهِ".
Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata, aku bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, muslim terbaik seperti apa?. Beliau bersabda: “ Dia adalah orang yang kaum muslimin selamat dari  lisan dan tangannya.” ( HR. Bukhari Muslim )

4.       عن أبي هريرة، عن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم قال: "إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعالى ما يُلْقِي لَهَا بالاً يَرْفَعُ اللَّهُ تَعالى بها دَرَجاتٍ، وَإنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مِنْ سَخْطِ اللَّهِ تَعالى لا يُلْقِي لَها بالاً يَهْوِي بِها في جَهَنَّمَ" صحيح البخاري

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:” Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat tanpa disadari, yang menyebabkan ridha Allah dan  diangkat derajatnya, sesungguhnya seorang hamba mengucapkan perkataan yang mengundang murka Allah tanpa disadari, hingga menyebabkan ia dimasukkan ke neraka Jahannam. ( HR. Bukhari )

5.       عن سفيان بن عبد اللّه رضي اللّه عنه قال: قلت: يا رسول اللّه! حدّثني بأمر أعتصم به، قال: "قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ" قلت: يا رسول اللّه! ما أخوف ما يخاف عليّ؟ فأخذ بلسان نفسه ثم قال: "هَذَا".  رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه  قال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Dari Sofyan bin Abdillah Radhiyallahu Anhu, berkata: Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku sebuah perkara yang aku dapat berpegang teguh kepadanya. Rasulullah bersabda: “Katakanlah Rabbku adalah Allah, lalu istiqamahlah. Aku berkata: “ Ya Rasulullah apakah yang Engkau takutkan ? lalu beliau memegang lidahnya dan berkata. “ ini ‘. ( HR. Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah,Tirmidzi berkata Hasan Sahih )

6.       عن عقبة بن عامر رضي اللّه عنه قال: قلتُ يا رسولَ اللّه، ما النجاة؟ قال: "أمْسِكْ عَلَيْكَ لِسانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ على خَطِيئَتِكَ" قال الترمذي: حديث حسن.

Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah” Ya Rasulullah apakah kesuksesan itu?. Beliau bersabda:” Jagalah lidahmu, tenanglah di rumahmu, tangisilah dosa-dosamu. ( HR. Tirmidzi )

7.       وعن الحسن البصري قال "كانوا يقولون"إن لسان المؤمن وراء قلبه فإذا أراد أن يتكلم بشيء تدبره بقلبه ثم أمضاه بلسانه، وإن لسان المنافق أمام قلبه، فإذا هم بشيء أمضاه بلسانه ولم يتدبره بقلبه" رواه الخرائطي في مكارم الأخلاق.

Dari  Hasan Al Bashr berkata: orang-orang berkata: “Lisan seorang mukmin ada dibelakang hatinya, jika ia hendak mengatakan sesuatu, ia fikirkan terlebih dahulu baru diungkapkan denga lisan. Sedangkan lisannya orang munafik ada didepan hatinya, jika ia ingin mengatakan sesuatu ia katakana saja tanpa difikirkan terlebih dahulu oleh hatinya (dari Kharaiti dalam Makarim Al Akhlak )