Minggu, 05 April 2015

Nu'aim Bin Mas'ud Al Asyja'i ( Pemecah Belah Pasukan Kafir Pada Perang Ahzab )



Nuaim Bin Mas’ud


Dia adalah Nu’aim bin Mas’ud bin ‘Amir bin Anif Al Asyja’i Al Ghathafani, dikenal dengan Abu Salamah berasal dari suku Gahtafan.

Dia masuk islam pada saat peristiwa perang Ahzab, namun ia menyembunyikan ihwal keislamannya hingga menghadap kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, Beliau bersabda,” Ada maksud apa engkau kemari wahai Nu’aim?”. Lalu Nuaim berkata,”Maksud kedatanganku untuk membenarkan agama yang engkau bawa dan mengikuti ajaranmu, kaumku tidak mengetahui hal ini wahai Rasulullah, untuk itu perintahkanlah apa saja kepadaku aku akan melaksanakannya.
Lalu Rasulullah berkata:

إنما أنت فينا رجل واحد، فاذهب إلى قومك وخذّل عنا إن استطعت فإن الحرب خدعة

Pergilah seorang diri kepada kaummu, lalu pecah belah mereka, karena perang adalah tipu muslihat.
Nabi SAW amat gembira mendengar pengakuan Nu'aim ini. Seolah-olah Allah mengirimkan Nu'aim sebagai jalan keluar bagi suasana kritis dan sulit yang dialami oleh kaum muslimin. Setelah memba'iatnya, beliau bersabda, "Engkau adalah orang satu-satunya, berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu, karena sesungguhnya perang itu adalah tipu muslihat!!"
Nu'aim mengerti apa yang dimaksudkan Nabi SAW. Ia pamit kepada beliau dan pergi kepada kaum Yahudi Bani Quraizhah yang tinggal di Madinah. Mereka adalah kawan karibnya semasa jahiliah. Setelah bertemu mereka,  ia berkata, "Kalian tahu cintaku kepada kalian, khususnya antara diriku dengan kalian!!"
"Engkau benar!!" Kata mereka.
Nu'aim mulai melancarkan strateginya memecah-belah musuh dengan memanfaatkan kemampuannya dalam diplomasi dan negosiasi, ia berkata, "Orang-orang Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Negeri ini milik kalian, di sini ada harta benda, istri dan anak-anak kalian. Tidak mudah bagi kalian meninggalkan negeri ini untuk pindah ke tempat lain. Sementara  Quraisy dan Ghathafan datang memerangi Muhammad, dan kalian menampakkan dukungan kepada mereka, padahal negeri, harta benda, istri dan anak-anak mereka berada di tempat lain. Jika mereka kalah, dengan mudah pulang ke negeri mereka sendiri, sedangkan kalian akan menghadapi Muhammad, yang akan melampiaskan dendam kepada kalian…."
Tampaknya kaum Yahudi tersebut terpengaruh oleh penjelasan yang disampaikannya, yang memang sangat logis. Karena itu mereka berkata, "Lalu, bagaimana baiknya wahai Nu'aim?"
"Kalian jangan terjun ke pertempuran dan berperang bersama mereka sebelum mereka memberikan jaminan, yakni mintalah salah seorang pemimpin mereka untuk tinggal bersama kalian….!!" Kata Nu'aim.
"Engkau memberikan pendapat yang sangat tepat!!"
Mereka berterima-kasih atas saran yang diberikan Nu'aim, setelah itu ia berpamitan dan diam-diam menuju tempat berkumpulnya pasukan Quraisy. Setelah bertemu Abu Sufyan dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya, ia menyebut  dan menceritakan tentang hubungan harmonis mereka yang telah terjalin selama ini, kemudian ia berkata, "Kalian semua tahu bagaimana kadar kecintaanku kepada kalian dan nasehat-nasehat yang pernah kusampaikan selama ini. Dan aku mempunyai informasi sangat penting untuk kalian, tetapi kalian harus merahasiakannya bahwa itu berasal dari aku!!"
"Baiklah, kami akan melakukannya..!!"
"Sesungguhnya kaum Yahudi (Bani Quraizhah) merasa menyesal telah melanggar perjanjiannya dengan Muhammad. Ia telah mengirim utusan kepada Muhammad untuk memperbaharui kesepakatan dan berjanji akan mengirimkan seorang tokoh Quraisy sebagai tebusannya. Karena itu, jika mereka meminta jaminan salah seorang pemimpin kalian, janganlah kalian memberikannya…!!"
Kaum Quraisy amat berterima kasih dengan informasi tersebut, kemudian Nu'aim "pulang" ke kaumnya sendiri, Ghathafan. Ia berkata kepada mereka, "Wahai orang Ghathafan, kalian semua adalah keluargaku, dan orang-orang yang paling kucintai. Kulihat kalian selalu mempercayaiku!!"
Mereka membenarkannya. Kemudian Nu'aim berkata kepada mereka seperti perkataannya kepada kaum Quraisy, dan mereka dengan senang hati akan melaksanakan nasehatnya tersebut.
Beberapa hari berlalu, di suatu hari jum'at, di bulan Syawal tahun 5 hijriah, para pemimpin Quraisy dan Ghathafan mengirim Ikrimah bin Abu Jahal sebagai utusan kepada Bani Quraizhah. Pesannya adalah mereka akan menyerang keesokan harinya, dan diminta Bani Quraizhah untuk menyerang dari arah belakang kaum muslimin, yakni dari dalam kota Madinah sendiri. Dengan begitu mereka dengan mudah bisa menghancurkan kaum muslimin.
Setelah utusan Quraisy pulang, kaum Yahudi Bani Quraizhah ganti mengirim utusan kepada mereka. Pesan yang disampaikannya adalah sbb, "Besok adalah hari sabtu, dan kami tidak boleh mengerjakan apa-apa pada hari itu. Lagipula, kami tidak akan memerangi Muhammad bersama kalian, kecuali kalian mengirimkan beberapa pemimpin kalian bersama kami, karena kami khawatir jika pertempuran telah berkobar, kalian pulang ke negeri kalian begitu saja dan membiarkan kami sendirian menghadapi Muhammad…!!"
Setelah utusan tersebut pulang, orang-orang Quraisy dan Ghathafan berkata, "Demi Allah, sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nu'aim bin Mas'ud…!!"
Setelah itu mereka mengirimkan utusan lagi ke Bani Quraizhah, dengan menyampaikan pesan, "Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan seorang pun dari pemuka-pemuka kami. Kalau kami ingin berperang, kami akan berperang sendiri. Kalau kalian ingin berperang, berangkatlah dan berperanglah sendiri…!!"
Setelah utusan tersebut menyampaikan pesan ini kepada Bani Quraizhah, mereka berkata, "Demi Allah, sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nu'aim bin Mas'ud, mereka hanya ingin mengambil kesempatan untuk kepentingannya sendiri, tidak memperdulikan kita sama sekali…!!"
Begitulah, kekacauan terjadi di antara pasukan sekutu yang mengepung Madinah. Quraisy dan Ghathafan tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya dalam menyerang kaum muslimin. Di samping halangan parit yang cukup merepotkan, mereka juga khawatir kalau kaum Yahudi Bani Quraizhah ternyata benar bergabung dengan pasukan muslimin, sehingga hampir tidak mungkin mereka mengalahkannya.
Tidak lama kemudian, Allah SWT melengkapi kekacauan itu dengan mengirimkan angin topan yang memporak-porandakan perkemahan mereka, sehingga mereka bergegas meninggalkan pinggiran kota Madinah.