Jumat, 29 Agustus 2014

TIGA HAL YANG MEMBUATMU BAHAGIA



Kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan, hidup tenang dengan berlimpah harta dan kekayaan materi adalah keinginan siapapun. Namun benarkah kekayaan itu hanya terukur dengan materi? Rasulullah menggambarkan bagaimana ketenangan dan kebahagiaan diraih.

عن أبي ذر ومعاذ بن جبل رضي الله عنهما ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها ، وخالق الناس بخلق حسن رواه الترمذي وقال : حديث حسن

Dari Abu Dzar Al Ghifari dan Muadz Bin Jabbal Radhiyallahuanhuma, Rasulullah SAW bersabda,”Bertakwallah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk, berakhlak baik dengan manusia-HR. Tirmidzi ( Hadits Hasan )

a.      Bertakwallah kepada Allah dimanapun kamu berada

Takwa berasal dari kata waqa- yaqi- wiqayatan- yang berarti menjadikan sesuatu sebagai pelindung.
Dalam al-Qur’an kata taqwa disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam konteks yang bermacam-macam. Kata taqwa yang dinyatakan dalam bentuk kata kerja lampau (fiil madhi) ditemukan sebanyak 27 kali, yaitu dengan bentuk ittaqa (اتقى) sebanya 7 kali, antara lain dalam QS. Al-Baqarah: 189,  dalam bentuk ittaqau (اتقوا)sebanyak 19 kali, seperti dalam QS. Al-Maida: 93, dan dalam bentuk ittaqaitunna (اتقيتن) hanya satu kali ditemukan di dalam QS. Al-Ahzab: 32. Dalam bentuk-bentuk di atas, kata taqwa pada umumnya memberi gambaran mengenai kedaan dan sifat –sifat serta ganjaran bagi orang-orang bertaqwa.

Kata taqwa yang diungkapkan dalam bentuk kata kerja yang menunjukkan masa sekarang (fi’il mudhri’) ditemukan sebanyak 54 kali. Dalam bentuk ini, al-Qur’an mengunaan kata itu untuk :
Menerangkan berbagai ganjaran, kemenangan, dan pahala yang diberikan kepada orang yang beraqwa, seperti dalam QS. Ath-Thalaq: 5

Menerangkan keadaan atau sifat-sifatyang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia diharapkan dapat mencapai tingkat taqwa, yan diungkapkan bentuk la’allakum tattaqun (
لعلكم تتقون), seperti dalam QS. Al-Baqarah: 183
Menerangkan ancaman dan peringatan bagi oran-orang yang tidak bertaqwa, seperti dalam QS. Al-Mu’minun: 32

Kata taqwa yang dinyatakan dalam kalimat perintah diemukan sebanyak 86 kali, 78 kali di antanya mengenai perintah untuk bertaqwa yan ditunjukkan kepada manusia secara umum. Objek taqwa dalam ayat-ayat yang menyatakan perintah tersebut brvariasi, yaitu:
Allah sebagai objek ditemukan sebanyak 56 kali, misalnya dalam QS. Al-Baqarah:231 dan QS. Al-Syu’ara’: 131.
Neraka sebagai objek dijumpai sebanyak dua kali, misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 24 dan QS. Ali Imran: 131

Finah ( siksaan ) sebagai objek taqwa didapati satu kali, yaitu dalam QS. Al-Anfal:25
Objek berupa kata-kata rabbakum (
ربكم), alladzi khalaqakum (الذين خلقكم), dan kata-kata lain yang semakna berulang sebanyak 15 kali, misalnya dalam QS. Al-Hajj: 1.

Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertaqwa pada umumnya (sebanyak 82 kali)vobjeknya adalah Allah, dan hanya 4 kali yang objeknya bukan Allah melainkan neraka, Hari kemudian, dan siksaan.  

Kata taqwa yang dinyatakan dalam bentuk mashdar, ditemukan dalam al-Qur’an sebanyak 19 kali. Diungkapkan dalam bentuk tuqah (
تقاة) sebanyak dua kali dan dalam bentuk taqwa (تقوى) sebanyak 17 kali. Dalam bentuk ini kata taqwa pada umumnya digunakan al-Qur’an untuk:
Menggambarkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan harus didasarkan atas ketakwaan kepada Allah, seperti dalam QS. Al-Hajj: 37. 

Menggambarkan bahwa takwa merupakan modal utama dan terbaik untuk menuju kehidupan akhirat.

b.      Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. ( surat Hud:114)



c.       Berakhlak baik dengan manusia

Berkata baik, bersikap ramah jujur dan suka menolong, merupakan akhlak yang baik di hadapan manusia terlebh dihadapan Allah, islam mengajarkan nilai moral yang mencerminkan diri dan berefek baik dalam lingkungan masyarakat

29082014

Sabtu, 02 Agustus 2014

MUDIK




Percaya atau tidak, acara televisi yang paling heboh dan update menyiarkan beritanya hanya ada dua, saat Quick Count Pilpres dan mudik.
Mudik istilah yang digunakan untuk pulang kampung secara massal pada waktu tertentu, biasanya menjelang Idul Fitri. Hanya di Indonesia yang paling seru. Penduduk yang berasal dari wilayah yang tersebar di pelosok Indonesia yang mencari peruntungan di kota-kota besar Jakarta utamanya. 

Meluangkan waktu pada moment Idul Fitri, alasannya libur kerja dan libur tahunan, sungguh indah lebaran di kampung, meski macet berjam-jam dan panas terik, tak terasa. Yang terbayang adalah wajah kampung halaman tempat beta di lahirkan dan wajah keluarga ortu terutamanya. Mereka yang telah bekerja di Jakarta atau kota-kota besar lainnya dengan bangga menunjukkan hasil jerih payah mereka selama merantau; yang tadinya merantau tak memiliki apa-apa sekarang sudah memiliki segalanya, yang tadinya tidak punya mobil sekarang sudah beli mobil, motor , hp baru, baju baru, yang tadinya belum berkeluarg, mereka ingin mengenalkan keluarga, pacar kepada keluarganya. Semuanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemudik, tak heran ajang mudik hanya di jadikan ajang “ pamer’ kepemilikan yang lumrahnya disebut Silaturahmi. 

Koran Republika mencatat perputaran uang selama arus mudik dan libur Lebaran pada 2014 diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Ini sebagaimana hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan."Ternyata data yang kami kumpulkan dan olah itu sampai Rp 15 triliun, itu kan lumayan besar," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, Elly Sinaga, seusai pemaparan survei "Potensi Permintaan Angkutan Lebaran 2014" di Jakarta, Senin.Elly mengatakan perputaran uang tersebut terjadi selama dua minggu ketika arus mudik dan libur Lebaran.Rata-rata setiap orang, lanjut dia, membawa sekitar Rp 800.000 hingga Rp 1 juta ke kampung halamnnya."Ini cukup besar uang yang dia (pemudik) bawa ke kampung,'' katanya. ''Oleh karena itu, kami antisipasi kemacetannya. Sarananya harus kami siapkan."

Berdasarkan hasil survei, perputaran uang tujuan mudik paling banyak di Jawa Tengah, yakni mencapai Rp 4,44 triliun disusul Jawa Barat Rp 3,24 triliun, Jawa Timur Rp 2,5 triliun, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Rp 835 miliar, Sumatera Utara Rp 785 miliar dan Sulawesi Selatan Rp 543 miliar.

Namun sisi ibadah nyaris terlewat saat mudik, sedikit sekali yang melaksanakan shalat lima waktu, alasannya repot di kendaraan dan sebagainya. Apalagi kebanyakan mudik pada akhir Ramadhan, saat terakhir yang penuh berkah saat turunnya lailatul qadar. Banyak sekali kaum muslimin yang menyia-nyiakannya. Hanya untuk bersilaturahmi, atas nama silaturahmi shalat di tinggalkan, korban meninggal terus meningkat. Agaknya mudik harus di atur, tidak hanya mensucikan kata silaturahim tapi mengabaikan yang lain.

Griya Bhakti Asri Depok, 3 Agustus 2014

Senin, 06 Januari 2014

Ayah...



Ramane...
Aku belajar darinya semangat
Aku belajar darinya pantang menyerah
Aku belajar darinya ketegasan
Aku belajar darinya kedisiplinan
Aku belajar darinya kerja


Ramane..
Fisiknya yang renta, tak menyurutkan langkahnya
pergi pagi pulang petang
Mencangkul harapan, menanam cita-cita
Di ladang rahmat dan karunia Allah
Di sawah dan pekarangan

Ramane..
Aku belajar darimu bagaimana cara berbagi ilmu
Al Qur'an itu sudah menjadi temanmu
Senja kala anak anak desa berkumpul
Di rumah papan belakang pohon bambu

Ramane..
Lampu minyak semprong
Hingga lampu petromak
Menemanimu, mengajar dan mengajar
Padahal aku tahu, kau lelah, setelah seharian panas matahari membakar punggungmu

Ramane...
Aku teringat kala shalawat yang kau gumamkan
Selalu membangunkanku untuk beranjak Shubuh
Suaramu masih ku ingat
" Tangi...tangi... wes awan, sembahnyang disit

Ramane...
Doamu selalu mengiringiku
Doamu yang membuatku berhasil
Meruntuhkan angkuhnya gunung
Penghalang ilmu dan harta

Ramane...
Matamu berbinar bangga
Saat aku bercerita
Rama,"Aku lulus sarjana".
Doamu terjawab sudah ramane..

Ramane...
Kini kau telah tiada
Menghadap ke Rabbmu, yang selalu kau sebut nama Nya, setiap shalat lima waktu
Ramane...
Betapa kabar itu mengguncangkanku
Ramane...aku berjanji akan meneruskan semangatmu
Kapanpun dan dimanapun

Ramane...
Doa yang selalu ku panjatkan
Allahumaghfirlahu warhamhu waafihi wafu'anhu, wawasi' madkhalahu waghsilhu bil mai watsalji wal barad
Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba'dahu
allahumaj'al qabrahu raudhatan min riyadhil jinan
wala taj'al qabrahu hufratan min hufarin niran
Allahumma akrim walidinna Suwandi bin Mad idris abadan..

Ramane, semoga kita kelak berkumpul di Syurga
Bersama-sama memetik buah buah Zaitun
Meminum sejuknya telaga Kautsar
Kita selalu bersama sama
Bersama para Nabiyin, Shidiqin, Syuhada dan Shalihin..

In Memoriam
my father
2 Januari 2014.



Jumat, 27 Desember 2013

Kesadaran Setengah Hati

Siang ini, 27 Desember 2013, aku mampir makan siang disebuah warteg di bilangan Pasar Rebo Jakarta Timur, suasana terik membuatku memesan Soto Ayam plus minumnya Teh manis panas, hot bener. membuat badan berkeringat.
Sejurus kemudian terdengar suara motor parkir didepan warteg, aku cuek saja sambil menghabiskan sisa soto ayam di mangkukku. pedas, panas dan segeerr berkeringat jadinya. "Kopi Hitam ' ya bu. seru seorang perempuan dibelakangku, terlihat ia seperti seorang anak kampus. tas gemblok dan Blackberry yang tak pernah lepas dari jari tangannya.

aku sedikit memicingkan mata, ketika ia mengeluarkan sebatang rokok dari lipatan buku buku kampusnya. aku terkejut, ia dengan santainya menyundut sebatang rokok lalu dihisapnya perlahan..seppp, bulll, lalu ia hembuskan kepulan asap dari sela-sela bibirnya.

Karena jam kerja yang pendek aku bergegas membayar dan pergi dengan Supra X 125 ku, menuju Matraman.

Ditengah perjalanan aku berfikir,jilbab tapi merokok, menutup aurat padahal, tetapi??terlihat merendahkan martabat jilbabnya itu.

Pilih mana?? membuka aurat tetapi tidak merokok dan terjaga perilakunya untuk tidak merokok, atau berjilbab tetapi merokok?? yo wes lah terserah anda. yang jelas " Kesadaran itu harus sepenuh hati,jangan setengah hati

Matraman

Jumat siang

Kamis, 26 Desember 2013

Keutamaan Shalat Subuh

Shalat merupakan perintah Allah yang secara khusus langsung Rasulullah terima langsung pada peristiwaq Isra’ Mi’raj. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perintah shalat itu jika dibandingkan dengan perintah lain yang melalui wahyu dan perantara malaikat Jibril. Shalat fardhu lima waktu dalam sehari semalam merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mukallaf ( sudah dibebani perintah dan larangan ). Semua fardhu shalat kedudukannya sama disisi Allah, yaitu jika dikerjakan akan mendapat rahmat dan pahala, dan bila ditinggalkan akan mendapat murka dan dosa. Namun Allah melebihkan keutamaan tertentu pada waktu tertentu khususnya Subuh. Diantara keutamaan tersebut adalah:
1.       Shalat Shubuh disaksikan oleh para malaikat

Firman Allah:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) ( Al Isra:78)

Imam At Thabari dan Ibnu Katsir memiliki pendapat yang sama mereka menyebutkan bahwa Shalat Subuh disaksikan oleh malaikat malam dan siang. ( Tafsir Ibnu Katsir,5/102)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏"‏يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل، وملائكة بالنهار، ويجتمعون في صلاة الصبح وصلاة العصر، ثم يعرج الذين باتوا فيكم، فيسألهم الله -وهو أعلم بهم-‏:‏ كيف تركتم عبادي‏؟‏ فيقولون تركناهم وهم يصلون، وأتيناهم وهم يصلون‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu berkata,”Rasulullah bersabda,”Bergiliran atas kalian malaikat malam dan malaikat siang, mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan Ashar. Lalu naiklah malaikat yang bertugas malam hari, Allah bertanya kepada mereka, padahal Allah Maha Tahu, “Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaku?”, mereka berkata,”Kami tinggalkan mereka saat sedang shalat dan kami datang kepada mereka saat sedang Shalat”. ( Mutafaq alaih )

2.       Terbebas dari sifat munafik

إنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi kaum munafik adalah shalat Isya dan Subuh, jika kalian mengetahui apa yang ada pada keduanya itu, pasti akan mendatanginya meski dengan merangkak ( Bukhari Muslim )

3.       Dua rekaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها
“Dua rekaat fajar ( Shubuh ) lebih baik dari dunia dan seisinya  ( Ahmad, Tirmidzi )

4.       Pahalanya seperti shalat sepanjang malam

من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما صلى الليل كله) رواه مسلم.
Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya secara berjamaah, seolah olah ia shalat separuh malam, dan barangsiapa yang shalat Shubuh secara berjamaah seolah-olah ia seperti shalat sepanjang malam ( Muslim )

5.       Akan dijaga Allah

من صلى الصبح فهو في ذمة الله) رواه مسلم.

Barangsiapa yang shalat Shubuh, ia dalam penjagaan Ku ( Muslim )

6.       Akan masuk syurga
عن أبي موسى رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏‏"‏من صلى البردين دخل الجنة‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu, Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang shalat al bardain ( subuh dan Ashar ) ia akan masuk surge ( Mutafaq alaih )


Rabu, 27 November 2013

Orang-Orang Yang Merahasiakan Amal Kebaikan ( al Akhfiya )



Apa yang membedakan saat ini dan dahulu? Saat dimana Rasulullah dan para generasi pilihan meniti kehidupan, memberi teladan dengan keikhlasan yang nyaris tak terulang sepanjang zaman. Dahulu generasi itu tak pernah memandang kedudukan, tidak pula mengharapkannya. Mereka tak peduli di posisi mana mereka berjuang,depan atau belakang tidak menjadi soal, mereka tetap teguh berjuang menegakkan kalimat Allah. Itulah hati yang ikhlas, selalu menyibukkan diri dengan kebaikan, hingga tidak sempat mengorek-orek aib orang lain. Itulah hati yang ikhlas, yang selalu berfikir bagaimana mempersembahkan amal terbaik dihadapan Allah, bukan mencari popularitas dan pendukung.

Kini, zaman telah berubah. Manusia senang jika menjadi pusat berita, suka mendapat pujian, suka mengungkit kebaikan yang pernah dilakukan, sungguh kondisi ini merebak hampir disemua lini kehidupan. Orang-orang yang merahasiakan amal sangat jarang kita temui, seolah semua ingin dilihat dan diperhatikan oleh manusia lain.

Tidaklah dilarang untuk mengekspos amal baik, jika niatnya karena Allah kemudian agar orang lain mengikuti. Seperti firman Allah:

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Al Baqarah:271)

Imam Ibnu Katsir mengomentari ayat ini dalam tafsirnya:

Ayat ini petunjuk bahwa merahasiakan sedekah lebih utama dari pada menampakkannya, karena merahasiakannya akan jauh dari riya. ( Tafsir Ibnu Katsir,1/701)

Orang-orang yang merahasiakan amal adalah tidak suka popularitas, mereka beramal dalam kesunyian, jauh dari hiruk pikuk kepentingan manusia. Penampilan mereka nyaris diremehkan oleh manusia, namun di sisi Allah ternyata kedudukan mereka sangat mulia.

Rasulullah bersabda,”Berapa banyak orang yang rambutnya kusut, berdebu, ditolak didepan pintu dan tidak dipedulikan orang, sekiranya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Dia akan mengabulkan sumpahnya.” ( Muslim )

Suatu hari, Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabat, tiba-tiba seorang laki-laki lewat di dekat beliau. Lalu beliau bertanya kepada para sahabat,” Bagaimana pendapat kalian mengenai orang itu? Para sahabat menjawab,”Orang itu adalah orang yang terhormat, jika ia meminta pertolongan ia akan ditolong. Jika melamar, ia akan diterima. Jika berkata, perkataannya akan didengar. Tak berapa lama, lewatlah seorang laki-laki lain di dekat Rasullah. Beliau kembali bertanya kepada para sahabat,” Bagaimana dengan laki-laki ini?. Para sahabat menjawab,”Dia orang biasa, jika meminta tolong, ia tidak akan diberi. Jika melamar wanita, ia akan ditolak, dan jika berkata, perkataannya tidak akan didengarkan. Kemudian Nabi bersabda,” Sungguh orang ini lebih baik dari dunia dan seisinya,” (Bukhari )

Seseorang bertanya kepada Abu Hasan bin Basyar,” Bagaimanakah jalan menuju Allah? Ia menjawab,” Taatilah Allah secara sembunyi-sembunyi, sebagaimana engkau mendurhakainya secara sembunyi-sembunyi, hingga kebajikan masuk kedalam hatimu.”

Ibnu Uthaibah berkata,” Jika apa yang dirahasiakan sama seperti apa yang ditampakkan, itulah keadilan. Jika apa yang dirahasiakan lebih baik dari apa yang ditampakkan, itulah keutamaan. Jika apa yang ditampakkan lebih baik dari apa yang dirahasiakan, itulah kecurangan.”

Siapakah orang-orang yang merahasiakan amal itu?

Mereka adalah orang-orang yang memiliki rahasia dengan Allah, rahasia yang tidak nampak oleh kebanyakan manusia. Ia mencintai Allah, dan Allah mencintainya, ia berusaha menutupi rahasia itu dari khalayak. Biarlah hanya Allah dan dirinya saja.

Mereka adalah orang-orang bertakwa, yang bersungguh-sungguh menutupi amal baik mereka karena takut kepada Allah, menjaga diri dari segala yang merusak amalannya dari sifat riya, ghurur dan ingin dipuji.
Mereka mungkin ada dibarisan terdepan dari para pemimpin yang tidak suka popularitas dan penciteraan, mereka mungkin juga ada dibarisan prajurit yang tidak dikenali, mereka berjuang dan berjihad,  mereka ibarat kepulan debu-debu yang beterbangan menggapai ridha Allah.

Mereka adalah kaum muslimin yang shalat, rukuk dan sujud merendahkan diri dihadapan Allah, dikeheningan malam, hingga air mata mereka menetes.

Mereka adalah kaum muslimin yang memperhatikan kondisi kaum miskin dan lemah, memberi bantuan, menolong dan menyantuni dalam kesunyian manusia.

Mereka adalah orang-orang yang beramal hanya karena Allah, tidak takut caci maki, hujatan dan cibiran, karena tujuan mereka hanya Allah, pujian dan cacian tidak menghalangi mereka untuk berbuat baik. Mereka yakin sekali dalam mengamalkan firman Allah:

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam ( Al An’am:162)

Beberapa ibrah dari orang-orang yang merahasiakan amal
a.       Mudrik bin Aus al Akhmasy berkata,” ketika aku bersama Umar bin Khattab,tiba-tiba datang seorang utusan yang mengabarkan syuhada yang gugur di perang Nahawand. Ia menyebutkan beberapa nama, Fulan bin Fulan dan seterusnya. Adapun lainnya kami tidak mengenalnya. Lalu Umar bin Khattab berkata,” Namun Allah mengenali mereka”.

b.      Amr bin Qais Al Mala’i berpuasa sunnah selama dua puluh tahun, namun keluarganya tidak mengetahui. Setiap pagi ia mengambil bekal makan siang, lalu berangkat ke tokonya. Kemudian ia mensedekahkan makanannya kepada fakir miskin, sementara keluarganya tidak mengetahui hal itu. (Shifat ash Shafwah,3/81)

c.       Abdullah bin Mubarak menuturkan,” Aku berada di Mekkah saat krisis ekonomi dan kemarau berkepanjangan. Kaum muslimin kemudian keluar rumah untuk melakukan shalat Istisqa, setelah shalat selesai dilaksanakan, hujan tak kunjung turun, lama kami menunggu. Tanpa aku sadari disampingku ada seorang laki-laki kurus, berkulit hitam. Aku mendengar suaranya lirih berdoa,” Ya Allah, sesungguhnya mereka sudah berdoa kepada-Mu, namun Engkau tidak mengabulkannya. Sungguh aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka.
Tak berapa lama, cuaca pun berubah mendung disusul dengan hujan deras yang turun kepada Kami”.( Shifatus al shafwah , 2/177)

d.      Inilah Umar bin Khattab yang keluar pada pertengahan malam, menelusuri sunyinya kota Madinah, seorang diri. Umar tidak melihat ada orang lain memperhatikannya. Umar pun masuk kesebuah rumah tua, tak berapa lama keluar. Laki-laki yang memperhatikan Umar adalah Talhah bin Ubaidillah, namun Umar tidak mengetahuinya.

Esok paginya Talhah menuju rumah yang semalam didatangi Umar, betapa terkejutnya, ia mendapati seorang tua renta, buta sedang terduduk lemah. Talhah pun bertanya,”Apa yang dilakukan orang yang tadi malam masuk kerumahmu?. Laki-laki itu menjawab,” Ia sudah lama datang kerumahku, ia mencukupi segala kebutuhanku, membersihkan rumahku, menyapu dan merapikan perkakasnya,”.


Senin, 25 November 2013

Bahaya Lisan



Lidah tak bertulang, begitu kata pepatah. Kecil bentuknya, namun besar  dampak yang ditimbulkannya. Dengan lisan bisa terjadi kesepakatan dan perdamaian, dengannya pula  api perselisihan dan permusuhan bisa berkobar.
Hasan Al Bashri berkata,” Lisan seorang mukmin ada di belakang hatinya, jika ia hendak berkata ia akan memikirkan akibatnya, sedangkan lisan seorang munafik ada didepan hatinya, ia berkata-kata tanpa berfikir akibatnya”
Secara fisik nikmat lidah wajib disyukuri, ia sebagai alat pengecap rasa, membolak-balik makanan didalam mulut hingga mendorongnya kedalam kerongkongan, maka tak heran jika seseorang menderita sariawan dilidah, lezatnya makanan tidak dapat diniikmati secara sempurna.
Nikmat ini disebutkan secara khusus oleh Allah didalam Al Qur’an:
Bukankah  Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. Lidah dan dua bibir
( Al Balad:8-9 )
Lisan ibarat pisau bermata dua, jika digunakan dalam ketaatan, membaca Al Qur’an dan kebaikan lain, akan mendatangkan ridha Allah dan pahala,  itulah bentuk kesyukuran, namun jika dipergunakan untuk keburukan dan fitnah akan mendatangkan murka Allah dan dosa, itulah bentuk kufur nikmat.
Mengapa perlu waspada terhadap bahaya lisan?
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan dalam banyak hadits terkait dengan lisan diantaranya:
1.       Menyandingkan lisan dengan keimanan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam ( Bukhari,6018, Muslim,47 )

Iman adalah bekal manusia menuju Allah, ia juga penyelamat dari azab kubur dan siksa neraka. Ketika lisan di sandingkan dengan keimanan berarti ia pun memiliki kedudukan istimewa dan menentukan dalam esensi keimanan. Hadits di atas menunjukkan jika lisan seseorang baik dalam bertutur kata, itu adalah refleksi keimanan didalam hatinya, begitupula jika lisan seseorang gemar berkata kotor, menyakiti orang lain dan tidak terkontrol, itu merupakan cerminan imannya.

2.       Lisan sumber ridha Allah

Rasulullah bersabda,” Seseorang mengucapkan perkataan tanpa disadarinya mengandung ridha Allah pada hari kiamat dan seseorang mengucapkan perkataan tanpa disadarinya mengandung murka Allah pada hari kiamat ( Bukhari, 7/79 )

Semua perkataan yang keluar dari lisan, aka nada perhitungannya di sisi Allah, baik dan buruk.  Perkataan yang baik selain menentramkan hati juga akan dibalas dengan kebaikan dan keridhaan Allah kelak, sedangkan perkataan yang buruk membuat hati gundah dan tidak tenang akan dibalas kelak dengan kemurkaan Allah pada hari kiamat. Semua tercatat rapi disisi Allah.

Firman Allah:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. ( Qaf:18)

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini,” Malaikat menulis semua perkataan baik maupun buruk dari anak Adam. Hingga perkara kecil seperti makan, minum, bepergian, datang dan melihat sesuatu, ketika sampai pada hari Kamis, di beberkanlah semuanya dihadapan Allah.( Tafsir Ibnu Katsir,519)

3.       Tanda lurusnya hati
Rasulullah bersabda,” Tidak lurus iman seseorang hingga lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang hingga lurus lisannya”.( HR. Ahmad )

Jelaslah bahwa lisan itu cerminan dari hati dan iman seseorang. Hati yang bersih menjadi tempat yang subur bagi keimanan. Hati yang kotor menyebabkan iman rusak dan lisan yang tak terjaga.

4.       Muslim yang baik selamat lisannya
Rasulullah bersabda,” Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”( Ahmad,2/7086)

Seorang muslim ibarat lebah, dimana ia hingga tidak pernah membuat onar dan kerusakan. Lebah akan mengeluarkan madu nan manis yang sangat bermanfaat. Begitulah seorang muslim, kata-kata yang keluar dari lisannya tidak pernah menyakiti orang lain, sikapnya menarik dan akhlaknya mulia. Imannya tercermin dari perilaku yang membuat ketenangan  dimanapun ia berada. Setiap orang yang bertetangga dengan muslim, mereka akan mengambil kebaikan darinya. Karena muslim yang baik, akan menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya.

5.       Lisan jaminan masuk surga
Rasulullah bersabda,” Dari Sahl bin Saad Rasulullah bersabda,” Barangsiapa yang dapat menjamin kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara kedua janggutnya ( lisan ) dan kedua kakinya ( kemaluan ), aku menjaminya dengan surga.( Bukhari,6109)

Surga adalah dambaan setiap insan, disana kenikmatan abadi disediakan Allah bagi hamba-hamba –Nya. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi sangatlah menarik hati setiap orang beriman. Salah satu jaminan dari Allah agar masuk surga adalah terjaganya lisan dari perkataan yang tidak berguna.

6.       Syarat keselamatan
Hadits yang bersumber dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu ia berkata,” Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam,” Apakah keselamatan itu? Beliau bersabda,” Jagalah lisanmu, berlapanglah dirumahmu, tangisis dosamu.” ( Tirmidzi, hadits Hasan )

Keselamatan adalah dambaan setiap manusia, ketenangan merupakan impian setiap kita. salah satu syarat mendapatkan ketenangan dan keselamatan adalah terjaganya lisan. Karena lisan yang terjaga dari berkata-kata kotor akan menentramkan diri dan manusia disekelilingnya. Semoga Allah tunjukkan jalan keselamatan itu bagi kita semua. Amin . fauzan.