Minggu, 04 Juni 2017

Apakah Anak yang Wafat akan Berkumpul dengan Orang Tuanya di Syurga?



Hukum anak dari kaum muslimin (beragama Islam) yang wafat, tanpa diagukan lagi bahwa mereka Insya Allah akan masuk syurga. Inilah pendapat yang dianut oleh banyak ulama seperti Imam Ibnu Katsir, Imam Ahmad dan Imam Abu Daud. ( Tafsir Ibnu Katsir, 3/33)

Imam Ahmad berkata,”Tak diragukan lagi bahwa anak muslim yang wafat ia akan masuk syurga.  Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa, 

أجمع من يعتد به من علماء المسلمين على أن من مات من أطفال المسلمين فهو من أهل الجنة ؛ لأنه ليس مكلفا

“Para ulama Islam bersepakat bahwa siapa saja dari anak kaum muslimin meninggal dunia ia bagian dari penghuni syurga, karena ia belum termasuk orang mukallaf (mendapatkan tanggun jawab ibadah) ( Syarah Muslim Lin Nawawi, 16/207)
 
Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Thuur: 21)

Rabu, 10 Mei 2017

MERAWAT NIKMAT HIDAYAH


Petunjuk Allah, itulah hidayah. Petunjuk kepada kebenaran, keimanan, ketaatan, keselamatan, kebaikan dan kebahagiaan dunia akherat. Banyak orang bertanya bagaimana mendapat hidayah? Jawabannya adalah mendekat kepada Sang Pemberi Hidayah.

Terkadang ada orang berkelit saat ditanya, mengapa anda tidak shalat, ia menjawab ringan saja,”Aku belum mendapat hidayah”.
 

Atau seorang wanita muslimah, namun belum berbusana muslimah, saat dinasehati mengapa belum menutup aurat layaknya muslimah, ia menjawab,”Belum siap, belum mendapat hidayah, katanya”.
Karena hidayah tidaklah datang dengan sendirinya, ia datang karena ada sebab. Sebab dalam diri adalah dengan berfikir, merenung atas tindakan yang sudah jauh menyimpang, mengaitkan peristiwa apapun dengan Allah Sang Maha Pengatur.

Ketika seseorang mendapatkan cahaya itu, sontak kenikmatan bermaksiat akan lenyap, teringat telah jauh diri melangkah, jauh dari Allah. Lihatlah bagaimana kisah sang pembunuh 100 jiwa, ia terus mencari hidayah itu, hingga Allah wafatkan dia dalam mencari petunjuk-Nya. Syurga Allah janjikan untuknya, meski ia belum beramal shalih.
Ketika seseorang mendapat hidayah, perlahan ia akan menjauhi bisikan-bisikan keburukan, dan akan membiasakan dengan bisikan-bisikan keimanan, dekat dengan ketaatan dan orang-orang yang shalih, tenang hidupnya.

Rawatlah hidayah itu, dengan terus mendekat kepada Allah, karena jika ia terkotori dengan noda dosa, perlahan cahayanya akan redup, terhalang bisikan hawa nafsu lawamah. Ingatlah usiamu dihadapan Allah.

Firman Allah:

اهدنا الصراط المستقيم

Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS. Al-Fatihah: 6)


Gang Haji Sairi
11 Mei 2017

Selasa, 21 Maret 2017

Berlindunglah Dari Kejahatan Makhluk Allah



مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ 

Dari kejahatan makhluk-Nya ( QS. Al Falaq [113]: 2)

Makna kalimat “Syarr”  (شرّ)

Inilah hal pertama yang Allah perintahkan kepada manusia, yaitu memohon  perlindungan kepada Allah dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Kalimat “Syarr” mengandung pengertian bahaya (Ad-Dharar) atau penyakit (al-adza) atau sakit atau kerusakan (al-fasad).[1]
Berlindunglah dari kejahatan yang tampak terasa secara fisik, seperti telah disebutkan diatas, atau kejahatan secara maknawi, seperti kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Bisa juga berupa penyimpangan pemikiran, kerusakan akhlak yang menimpa pribadi dan berkembang luas di masyarakat.
Lawan kata dari ‘Asy Syarr” adalah “Al-Khair” (kebaikan). Yang mencakup segala kebaikan dan nikmat baik fisik maupun maknawi yang dirasakan oleh manusia.

Mengapa Allah Menciptakan Keburukan?

Timbul pertanyaan, mengapa Allah menciptakan keburukan atau kejahatan?. Bukankah kejahatan dan keburukan itu berbahaya bagi manusia? Mengapa Allah tidak melenyapkan saja keburukan diatas muka bumi ini sekaligus dan membiarkan kebaikan abadi tanpa harus bersusah payah mengejar dan membelanya? Syekh Yusuf Al-Qaradhawi menjawab pertanyaan tersebut dalam beberapa poin:

a.       Allah tidak menciptakan keburukan atau kejahatan yang bersifat mutlaq, dengan maksud kejahatan secara dzatnya, namun disisi keburukan dan kejahatan itu terdapat sumber-sumber kebaikan. Allah menghadirkan kekuatan dan kelemahan dengan izin –Nya. 

Firman Allah:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah,” Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran [3]:26)

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda saat berdoa kepada Allah:

الخير بيدك والشر ليس إليك

“Kebaikan ada di tangan-Mu, keburukan bukan kembali kepada-Mu”.[2]
(HR. Muslim Bab Shalat Musafir, No. 771, Abu Daud No. 760, At Tirmizi dalam Kitab Ad Da’awat, No. 3422, dari Ali Bin Abi Thalib).

b.      Setiap kita melihat keburukan dalam ciptaan Allah di atas muka bumi ini, sesungguhnya itu adalah keburukan yang bersifat parsial, nisbi dan khusus, sedangkan secara umum adalah kebaikan.
Sebagai contohnya, penciptaan manusia didunia merupakan kebaikan, mereka akan menjadi khalifah di bumi, diberi amanah dan akal untuk berfikir, begitupula Allah menurunkan kebaikan dengan diutusnya Rasulullah, diturunkan kitab-kitab Allah dan Allah memberikan pilihan jalan takwa dan jalan fujur (keburukan). Namun demikian masih ada orang-orang yang enggan menyembah Allah, dan kafir kepada para Rasul-Rasul Allah. Kemudian Allah akan memberikan balasan bagi orang yang takwa dan orang yang berbuat keburukan.
Firman Allah:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom) pun, niscaya ia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (atom) pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zalzalah [99]: 7-8)

Oleh karena itu Abu Hamid Al Ghazali dalam Al Ihya menyebutkan:
وكلُّ ما قسم الله تعالى بين عباده من رزق وأجل، وسرور وحزن، وعجز وقدرة، وايمان وكفر،
وطاعة ومعصية، فكلُّه عدل محض لا جور فيه، وحق صرف لا ظلم فيه، بل هو على الترتيب
الواجب الحق على ما ينبغي، وكما ينبغي، وبالقدر الذي ينبغي، وليس في الإمكان أصلا أحسن
منه، ولا أتمَّ ، ولا أكمل، ولو كان ادخره مع القدرة ولم يتفضل به لكان بخلا يناقض الجود،
وظلما يناقض العدل، ولو لم يكن قادار ا لكان عجزا يناقض الإلهية

Setiap yang dibagikan Allah kepada hamba-Nya dari rezeki, maut, bahagia, sedih, kelemahan dan kemampuan, iman dan kafir, taat dan maksiat, semuanya merupakan keadilan yang tak ada ketimpangan didalamnya. Semua Allah distribusikan, tak ada kezaliman, sesuai urutan hak dan kewajibannya, dan dengan ukuran takdir yang semestinya, bukan secara asal lebih baik dari semestinya, atau lebih sempurna dari sebenarnya. Jika Allah menyimpan takdir dan tidak memberikan kepada hamba-Nya, maka sifat tersebut membatalkan sifat-Nya yang Maha Pemurah, sifat Zalim yang menafikan sifat Adil-Nya, jika Allah tidak Mampu maka sifat Lemah tersebut menafikan sifat Ilahiyah-Nya. [3](Ihya Ulumuddin, 4/258)

Saat seorang mukmin mengetahui hikmah dibalik penciptaan makhluk, dan rahasia-rahasia Allah yang berlaku atas makhluk, sungguh itu sebuah kebaikan untuknya agar semakin mengenal dan dekat dengan Rabbnya. Namun ketika ia luput dari memahami hikmah dan rahasia tersebut, dan pasti tidak semua hikmah dan rahasia ia ketahui, maka sikapnya adalah mengembalikan semuanya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebagaimana firman Allah:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran [3]:191)

Pandangan Para Ulama Mufassirin

Berikut berapa pandangan para ulama tafsir terkait ayat kedua dari surat Al Falaq


مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2)
“Dari kejahatan makhluk-Nya”

1.      Imam Ibnu Katsir
Beliau menyebutkan, bahwa manusia diperintahkan untuk berlindung dari segala kejahatan.[4]

مِنْ شَرِّ جَمِيعِ الْمَخْلُوقَاتِ. وَقَالَ ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: جَهَنَّمُ وَإِبْلِيسُ وَذُرِّيَّتُهُ مِمَّا خَلَقَ
Berlindunglah dari kejahatan semua jenis makhluk, Tsabit Al Bunany dan Hasan Al Bashri berpendapat: Jahannam, iblis dan keturunannya yang Allah ciptakan.

2.      Sayid Qutub Rahimahullah meyebutkan dalam tafsirnya:
مِنْ شَرِّ ما خَلَقَ أي من شر خلقه إطلاقا وإجمالا,  وللخلائق شرور في حالات اتصال بعضها ببعض.
كما أن لها خيرا ونفعا في حالات أخرى. والاستعاذة بالله هنا من شرها ليبقى خيرها. والله الذي خلقها قادر على توجيهها وتدبير الحالات التي يتضح فيها خيرها لا شرها
“Manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan makhluk-Nya mutlak dan umum, karena setiap makhluk memiliki potensi keburukan dan kebaikan  saat saling berinteraksi satu dan lainnya. Maksud meminta perlindungan disini agar kebaikan-kebaikan tersebut semakin kekal adanya, dan Allah Maha Pencipta Maha Mampu untuk mengarahkan da mengatur kondisi mana yang baik dari yang buruk.[5]
Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi juga menukil hal yang sama saat  menafsirkan ayat ini[6]

3.       Az Zamakhsyari menyebutkan kejahatan terbagi dua, kejahatan mukallafin (manusia dan jin)  dan ghaira mukallafin (hewan, tumbuhan dan benda mati). Kejahatan yang dilakukan oleh mukallafin seperti dosa, kezaliman, membahayakan orang lain, membunuh, merampas hak dan sebaginya. Sedangkan kejahatan yang dilakukan oleh ghaira mukallafin seperti memakan, menyengat. Atau sesuatu zat-zat berbahaya seperti racun pada hewan dan tumbuhan.[7]




Doa-doa agar dijauhkan dari kejahatan makhluk
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menyebutkan hadits terkait dengan doa-doa agar manusia diselamatkan dari kejahatan atau keburukan makhluk Allah yaitu:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْرَبٍ لَدَغَتْنِي البَارِحَةَ، قَالَ : أَمَا لَوْ قُلْتَ حِينَ أَمْسَيْتَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّكَ
“Seseorang menemui Rasulullah dan berkata,” Wahai Rasulullah apa yang aku lakukan, aku semalam disengat kelabang”. Rasulullah bersabda,”Jika kau mengatakan saat sore,” Aku berlindung dengan kalimat Allah yang Maha Sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya, maka kelabang tersebut tidak akan membahayakanmu”. (HR. Muslim, No. 2709 dari Abu Hurairah)
Begitu juga Imam At Tirmizi menyebutkan hadits:
مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي ثَلاَثَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ حُمَةٌ تِلْكَ اللَّيْلَةِ
“Barangsiapa yang membaca pada sore hari sebanyak tiga kali,” A’uzubikalimatillah tamat min syarri ma khalaq, ( aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan) maka tak ada yang membahayakannya pada malam itu”. (HR. At Tirmizi, No. 3604)

والله أعلم


[1] Yusuf Al Qaradhawi, Tafsir Juz ‘Amma, h.566
[2] HR. Muslim Bab Shalat Musafir, No. 771, Abu Daud No. 760, At Tirmizi dalam Kitab Ad Da’awat, No. 3422, dari Ali Bin Abi Thalib
[3] Imam Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, 4/256
[4] Tafsir Ibnu Katsir, 8/535
[5] Sayid Qutub (1385H), Fi Dzilalil Qur’an, (Kairo: Dar Syuruq, 1412H) 6/4006
[6] Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi, Tafsir Juz Amma, ( Mesir: Dar Ar Rayah, 1428H) h. 665
[7] Az Zamakhsyari, Al Kasyaf, (Beirut: Dar al Kitab Al Arabi, 1407H) h. 4/820