Senin, 15 Februari 2021

TAFSIR SURAT AL MULK Ayat 5-6 ( Bag.5 )

 





Bintang Di Langit Menjadi Alat Pelempar Syetan

 

Nash Ayat

 

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ

السَّعِيرِ (5) وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (6)

“ Dan sungguh Kami telah hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya ( bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar syetan, dan Kami sediakan bagi mereka azab yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang ingar kepada kepada Tuhannya, akan mendapat azab Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”( QS. Al Mulk:5-6)

 

Tinjauan Bahasa

مَصَابِيحَ

 

bintang-bintang”,

 

Diungkapkan Allah dengan kata bentuk jamak yaitu mashabih ( pelita-pelita), bentuk tunggalnya adalah mishbah artinya sesuatu yang dijadikan penerangan dalam gelap. Seperti waktu subuh yang berarti sinar yang menyambut datangnya siang. Bintang-bintang diungkapkan dengan kata mashabih karena ia bersinar bak pelita Imam At Thabari menyebutkan bersumber dari Qatadah bahwa bintang diciptakan untuk tiga hal:

1.       Sebagai penghias langit

2.       Sebagai alat pelempar syetan

3.       Sebagai pedoman arah ( tafsir At Thabari, 23/508)

 

Syaikh Al Utsaimin menerangkan bahwa syetan yang dilempar adalah syetan dari jenis jin, bukan dari jenis manusia, karena syetan dari jenis jin memiliki  kekuatan ( Fathul Majid hal.381)

Seperti dalam firman Allah:

 

وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاص

Dan (Kami tundukkan pula kepadanya setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam.(QS.Shad:37)

 

قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

 

Ifrit dari golongan jin berkata,”Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempatmu, dan sungguh aku kuat dan dapat dipercaya ( QS. An Naml:39)

 

Pendapat ulama

 

Syetan yang mencuri kabar dari langit kemudian dilempar Allah dengan bintang-bintang tersebut yang kilatannya ibarat bara api neraka ( Tafsir Al Khazin, 4/319)

 

Ibnu Abbas menyebutkan,”Syetan yang terkena lemparan bintang tersebut ada yang terluka, tergulung dan terbakar”.( Tafsir Ibnu Abbas,1/479)

 

Syekh Wahbah Az Zuhaili berkata:

 

زيّن الله السماء الدنيا وهي القربى أقرب السموات إلى الناس بكواكب مصابيح لإضاءتها، وجعل منها شهبا تنقض على مردة الشياطين، وأعد الله للشياطين أشد الحريق بسبب الكفر والضلال والإفساد

Allah menghiasi langit dunia, yaitu langit yang paling dekat antara manusia dengan jagat raya, dengan bintang-bintang yang menyinarinya, bintang juga dijadikan alat untuk menghalau syetan durjana, Allah menyiapkan bagi syetan azab yang membakar karena kekafiran, kesesatan dan kerusakan mereka. ( Tafsir Al Munir, 29/13)

 

 Berkata Sayyid Qutub: “Indahnya pemandangan bintang dilangit begitu menentramkan hati. Keindahan  warna yang selalu terbarukan, sesuai dengan waktu, selalu berbeda pagi dan sore hari, dari terbit matahari hingga terbenamnya, dari malam yang berbintang hingga malam gelap gulita, dari cerahnya langit hingga berarak awan. Bahkan selalu berbeda dari waktu ke waktu. Dari berbagai sudut dan penjuru, demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. Itulah keindahan dalam kehidupan manusia, keindahan yang tak terukir dengan kata dan ungkapan. Namun Al Qur’an menunjukkan jiwa manusia kepada keindahan jagat raya dan keindahan seluruh makhluk ciptaan Allah, karena mengetahui keindahan makhluk adalah cara jujur dan termudah untuk mengekspresikan keindahan Sang Maha Pencipta. Pengetahuan inilah yang mengangkat manusia kearah kemuliaan, mempersiapkan hidup abadi, dalam alam nan indah  dari sekedar alam dunia menuju alam kebahagiaan hati yang hakiki kala mengetahui keindahan Illahi.” ( Sayid Qutub, Fidzilalil Qur an, 36/34)

 

Hikmah Ayat

 

  1.  Allah menghiasi langit  dengan bintang gemintang di waktu malam, sebagai penghias langit, pelempar syetan dari kalangan jin yang mencuri kabar dari langit, serta sebagai petunjuk arah baik darat maupun laut.
  2. Bagi orang yang beriman mengetahui keindahan ciptaan Allah adalah cara paling jujur dan mudah untuk mengenal keindahan Allah yang Maha Indah
  3. Orang yang ingkar kepada Allah akan mendapat azab yang pedih berupa neraka jahannam
b


Tafsir Surat Al Mulk Ayat 3-4 (Bag. 4 )

 



Allah Menciptakan Tujuh Langit Berlapis-lapis

1.      Nash Ayat

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4)

 

“Yang telah menciptakan tujuh lapis langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan letih. ( QS. Al Mulk:3-4)

 

2.      Tinjauan Bahasa

 

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

“Yang telah menciptakan tujuh lapis langit berlapis-lapis”

 

Langit yang diciptakan Allah bertingkat, sebagian berada diatas sebagian yang lain ( At Thabari,23/506)

Tingkatan langit yang Allah ciptaka menunjukkan Maha Sempurnanya Allah, Dia menciptakanlangit tanpa penyangga, tanpa terpengaruh gaya gravitasi bumi, terpisah antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya, tanpa cela, sungguh Maha sempurna Allah. ( Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Munir,29/11)

Hakikat langit tiada yang mengetahui kecuali Allah, jaraknya dari bumi sekitar perjalanan 500 tahun dengan perkiraan klasik, pendapat lain mengatakan langit adalah angkasa raya sebagai tempat bagi benda-benda langit dalam tata surya, terdiri dari galaksi dan gugusan bintang-bintang dengan jarak berbeda-beda itupula gambaran tingkatan langit yang Allah ciptakan,”( Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Munir,29/11)  

Keberadaan langit merupakan kekuasaan Allah atas makhuknya, hal itu bisa dilihat dari tiga sisi: pertama, Langit tetap berada diangkasa menggantung tanpa tiang dan penghubung ikatan,

kedua, tiap-tiap langit memiliki kekhususan masing-masing dalam ukuran tertentu,

 ketiga, tiap-tiap langit memiliki pergerakan tertentu dilihat dari cepat atau lambatnya ( Ar Razi, Mafatihul Ghaib,30/581)

 

ayat 4

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan letih (QS. Al Mulk:4)

 

Ar Razi berkata dalam tafsirnya:

أُمِرَ بِتَكْرِيرِ الْبَصَرِ فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ عَلَى سَبِيلِ التَّصَفُّحِ وَالتَّتَبُّعِ، هَلْ يَجِدُ فِيهِ عَيْبًا وَخَلَلًا، يَعْنِي أَنَّكَ إِذَا كَرَّرْتَ نَظَرَكَ لَمْ يَرْجِعْ إِلَيْكَ بَصَرُكَ بِمَا طَلَبْتَهُ مِنْ وِجْدَانِ الْخَلَلِ وَالْعَيْبِ

 

Diperintahkan untuk mengulangi pandangan dalam ciptaan Allah adalah jalan untuk wawasan dan mengamati, apakah terdapat aib atau cacat dalam ciptaan Allah, artinya jika engkau pandang berulang-ulangpun, maka pandanganmu tak kan menemukan kekurangan  dan aib  dalam ciptaan Allah ( Ar Razi,30/582)

 

3.      Ayat Al Qur’an lain yang mengungkapkan tentang tujuh lapisan langit

 

·         Surat Al Isra: 44

 

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِن

“Langit yang tujuh, bumi  dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah”

·         Surat Al Mukminun: 86

 

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Katakanlah,” Siapakah Rabb yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki Arsy Yang Agung,?

 

·         Surat Fushilat:12

 

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا

“Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing…

 

·         Surat At Thalaq:12

 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari penciptaan bumi juga serupa”

·         Surat Nuh:15

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis”

·         Surat An Naba:12

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

“ Dan Kami membangun diatasmu tujuh langit yang kokoh”

                      

4.      Hikmah Surat

·         Allah Maha Kuasa untuk menciptkan makhluk dalam bentuk apapun sesuai dengan kehendak-Nya.

·         Allah menciptakan langit bertingkat dalam tujuh lapisan, tiada penopang, masing-masing lapisan memiliki kekhususan tertentu, hanya Allah yang Maha Mengetahui-Nya.

·         Jika kita mengulangi pandangan kita, berfikir atas kebesaran Allah niscaya dalam penciptaan langit, bumi dan seisinya, tiada cacat dalam penciptaan-Nya.


Bersambung......

 

 Ditulis Oleh : Fauzan Sugiyono, Lc


Sabtu, 13 Februari 2021

TAFSIR SURAT AL-MULK Ayat 2 (Bag. 3)

 


AMAL TERBAIK


·         Nash Ayat

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

 

Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun ( QS. Al Mulk:2)

 

·         Tinjauan Bahasa

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ

“Yang menciptakan kehidupan dan kematian”

 

Allah yang memberi kehidupan kepada makhuk-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, mematikan makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. Mahkluk akan hidup selama ruh belum terpisah dengan badan, sedangkan jika ruh sudah terpisah dengan badan maka makhluk tersebut disebut mati, meski raga masih utuh secara fisik.  

 Lafadz  al maut  ( mati )  lebih didahulukan dari lafadz al hayat ( hidup), karena setiap makhluk berasal dari sesuatu yang tidak hidup ( mati ) sedangkan hidup adalah efek setelahnya, atau karena kematian lebih dekat dan sesuatu yang tak bisa dihindari ( Fathul Qadir,5/305)

 

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya”

وَأخرج ابْن أبي الدُّنْيَا وَالْبَيْهَقِيّ فِي شعب الإِيمان عَن السّديّ فِي قَوْله: {الَّذِي خلق الْمَوْت والحياة ليَبْلُوكُمْ أَيّكُم أحسن عملا} قَالَ: أَيّكُم أحسن للْمَوْت ذكرا وَله اسْتِعْدَادًا وَمِنْه خوفًا وحذراً

 

Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dunya dan Al Baihaqi dalam Syua’bul iman dari As Siddi dalam firman Allah tersebut diatas. Siapakah diantara kalian yang terbaik dalam mengingat mati, mempersiapkan, takut dan waspada terhadap kematian.” ( As Suyuthi Ad Dur Al Mantsur, 8/234)

 

Maksud dari Ahsanu Amala ( Amal Terbaik )

 

أَحْسَنُ عَمَلًا

“Amalan terbaik”

 

Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud ahsanu amala adalah :

Amal terbaik seperti pendapat bin ‘Ajlan dan bukan amalan terbanyak ( Tafsir Ibnu Katsir,8/176)

 

Menurut Fudhail Bin Iyadh makna ahsanu amala adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar, ia berkata,” Amal tidak akan diterima hingga ikhlas dan benar, ikhlas jika dikerjakan karena Allah subhanallahu wataala, dan benar jika dikerjakan sesuai sunnah,” ( Tafsir Al Baghawi, 8/176)

 

Menurut Al Hasan  ahsanu amala adalah Amal disisi Allah adalah amalan yang paling zuhud terhadap  dunia ( Tafsir Ibnu Katsir,8/176)

 

Allah menciptakan kehidupan ini sebagai ujian, Allah juga menciptakan kematian  sebagai balasan, karena itulah Allah menciptakan surga dan para penghuninya, menciptakan neraka dan para penghuninya, menguji mereka dengan perintah beramal, anjuran dan larangan, dari situlah didapat balasan dan sanksi  ( Bahrul Ulum,3/474)

 

·         Hikmah Ayat

 

ü  Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu terhadap makhluk –Nya, setiap detik dan setiap tarikan nafas, Allah Maha Mengetahui.

ü  Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji umat-Nya agar memiliki amal-amal terbaik, karena kesudahan manusia adalah surga atau neraka.

ü  Amal terbaik bukan amalan yang terbanyak, namun amal yang memenuhi 2 unsur: ikhlas karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.

 

Bersambung……

 

 

 

 

 

TAFSIR SURAT AL-MULK (Mukaddimah/Bag.1)

 


 A.      Gambaran Umum Surat Al Mulk

·          Surat Al Mulk merupakan surat yang pilihan nan agung dari surat-surat yang ada didalam Al Qur’an.

·         Surat ini tergolong Makiyyah urutan ke 67, terletak pada juz 29, jumlah ayatnya ada 30 ayat.

·         Kandungan surat Al Mulk diantaranya adalah, Tauhid, keyakinan akan kekuasaan Allah dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu di ala mini, dari langit, bumi dan seisinya. Selain itu juga menggambarkan tentang kesesatan orang kafir, kesudahan buruk  dan kerugian bagi mereka, anjuran mewaspadai tipu daya syetan, tentang kematian dan mengingatkan manusia akan azab neraka jahannam.

·         Nama-nama lain dari surat Al Mulk: surat Tabarakalladzi Biyadihil Mulk ( karena Rasulullah menyebutkan dalam haditsnya, Al Munjiyat ( menyelamatkan orang yang membacanya kelak di hari kiamat ), Al Mani’ah ( menolah azab kubur )  dan Al Waqiyah ( pencegahan ) juga dinamakan Ruqyah ( jampi ) yang bisa digunakan utk melindungi diri dari godaan syetan. ( Tafsir Ibnu Asyur,6/29)

 

B.      Keutamaan Surat Al Mulk

 

1.      Dapat memberi syafaat bagi yang membacanya

Berdasarkan hadits Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam:

 

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " إن سورة من القرآن ثلاثون آية شفعت لرجل حتى غفر له وهي سورة تبارك الذي بيده  الملك " .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shalallahualaihi wasallam bersabda,” Ada sebuah surat di dalam Al Qur’an yang terdiri dari tigapuluh ayat sebagai syafaat bagi seseorang hingga dosanya diampuni Allah,surat tersebut adalah surat “ Tabarakalladzi Biyadihil mulk.”

( HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Daud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, Tirmidzi berkata,” Ini Hadits Hasan, di sahihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu fatawa 22/277)

 

2.      Selamat dari azab kubur

Hadits Nabi Shalallahu Alaihi wasallam:

 

عن عبد الله بن مسعود قال : من قرأ تبارك الذي  بيده الملك كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر ، وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها المانعة ، وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد
أكثر وأطاب .

Dari Abdullah bin Mas’ud  berkata,” Barangsiapa yang membaca “ Tabarakalladzi Biyadihil Mulku”  pada setiap malam Allah akan menjaganya dari azab kubur, pada zaman Rasulullah kami menamai surat Al Mulk dengan Al Mani’ah ( yang menolak ) karena ada sebua surat di kitabullah yang jika orang membacanya lebih setiap malam semakin banyak, semakin baik.”

( HR. an Nasai’, 6/179, di hasankan oleh Al Al Bani dalam Sahih At Targhib wa Tarhib no. 1475)

ulk

 

3.      Rasulullah membaca surat Al Mulk sebelum tidur

كان – عليه الصلاة والسلام- لا ينام حتى يقرأ:( الم . تنزيل السجدة ) و( تبارك الذي بيده الملك )

“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur sebelum membaca surat Alif Lam Mim Sajdah dan Tabarakalladzi Biyadihil Mulk  ( Silsilah hadits sahihah, 585)

 

4.      Fatwa Lajnah Daimah

وعلى هذا يُرجى لمن آمن بهذه السورة وحافظ على قراءتها ، ابتغاء وجه الله ، معتبراً بما فيها من العبر والمواعظ ، عاملاً بما فيها من أحكام أن تشفع له .

 Dengan demikian akan diberi syafaat bagi orang yang menghafal dan mebaca surat ini hanya mengharap keridhaan Allah, mengambil pelajaran didalamnya, beramal dengan hukum-hukum didalamnya,” ( Fatwa Lajnah Daimah, 4/334-335)

 

BERSAMBUNG KE BAG. 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Doa Memohon Petunjuk, Takwa, Penjagaan dan Kecukupan



Tak sedikit orang tertipu dengan dunia, isinya merupakan dambaan setiap manusia, padahal dunia itu fana (sementara). Sementara tak banyak orang yang memburu kebaikan akhirat, tentu kebaikan dan kebahagiaan yang tak tergantikan, karena akhirat selamanya kekal abadi. 

Firman Allah:


وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى


“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.(QS. Ad Duha:4)

Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini:


وللدار الآخرة، وما أعد الله لك فيها، خير لك من الدار الدنيا وما فيها


Dan akhirat dan apa saja yang Allah janjikan untukmu, lebih baik dari kehidupan dunia dan sesisinya (Tafsir At Thabari, 24/478)

Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan doa kepada para sahabat:


 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى


“Ya Allah aku memohon petunjuk, ketakwaan, penjagaan dan kecukupan (HR. Muslim) 

Ini doa yang mulia, mencakup 4 permintaan besar:

1. Memohon petunjuk (al Huda)


Mengapa perlu memohon petunjuka? Karena Allah yang Maha memberi petunjuk. Petunjuk kebaikan dan ketaatan kepadanya. Karena hidayah bukan ditunggu, hidayah itu dicari dengan akal dan hati. Hidayah juga dijaga dengan amal dan doa. Bagi yang belum mendapat hidayah maka doa ini sebagai jalan semoga mendapat hidayah. Bagi yang sudah mendapat hidayah, doa ini merupakan jalan agar Allah mengistiqamahkan dalam ketaatan.


إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ


“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki (QS. Al-Qashas:56)


2. Ketakwaan (at-Tuqa)

Memohon agar Allah memudahkan kita dalam melaksanakan perintah Allah dengan ikhlas, dan memudahkan dalam menjauhi larangan Allah tanpa paksaan. Derifativ  kata dari takwa adalah wiqayah artinya pencegahan. Takwa merupakan perintah mulia, dengan takwa orang meraih ketenangan dan kebahagiaan di dunia. Allah akan memberi kemudahan dari kesulitan-kesulitan, bagi orang yang bertakwa.

Firman Allah:


وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS. At Thalaq:2-3)

Firman Allah:


إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertakwa (QS. At Taubah:4)


3. Penjagaan (al-afaf)

Bermohonlah agar Allah menjagamu dari segala mara bahaya, menjaga dari sakit, menjaga dari sifat-sifat buruk, menjagamu untuk tidak terjerumus kepada maksiat, terlebih lagi dosa-dosa besar. Menjaga panca indera dan seluruh anggota tubuh dan bermohonlah agar Allah menjagamu dari semua yang haram, sumber rezeki haram,kata-kata haram maupun perbuatan yang diharamkan Allah. Semua tak kan terwujud tanpa pertolongan Allah.


4. Kecukupan/kekayaan (al-Ghinaa)

Cukup dan kaya sifatnya relatif, kaya bagi sebagian orang belum tentu kaya untuk sebagian yang lain. Bermohonlah agar Allah mencukupkanmu dengan rezeki-rezeki yang halal. Dengan pekerjaan-pekerjaan yang halal. Karena betapa banyak orang berpaling dari yang  halal menuju ke yang haram, lantaran tergiur dengan dunia dan kemewahannya. Buat apa bermewah-mewah di dunia, namun bersumber dari yang haram.

Rasulullah bersabda:

لا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ


“ Setiap daging yang berkembang dari yang haram, meliankan neraka lebih cocok baginya (HR. Tirmizi)

Rasulullah bersabda:


لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ 


“Akan datang suatu masa, orang tak peduli lagi cara mendapatkan hartanya, halal atau haram (HR. Bukhari).


Kekayaan sesungguhnya ada di dalam jiwa, qanaah (merasa cukup) terhadap pemberian Allah, bersabar atas ujian Allah.


والله أعلم


Depok, 12/02/2021


Fauzan Sugiyono, Lc

Selasa, 11 Februari 2020

CIDRO JANJI (WANPRESTASI)

Sekilas mirip judul lagunya Mas Didi Kempot, Pria kelahiran Surakarta tahun 1966, yang dikenal sebagai The Lord Of Loro Ati kata Netizen. Tak ayal lagi lagu-lagunya bikin sendu para jomblower, liriknya bikin baper klepek-klepek. Tapi tetap dalam Boso Jowo, kalau tidak bisa ya tinggal gogling translate saja, nemu deh.

Sebenarnya bukan itu, yang saya ingin tuliskan adalah wanprestasi dalam kaitannya dengan transaksi ekonomi dan bisnis. Istilah wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yaitu "wanprestatie" yang artinya tidak dipenuhinya prestasi atau kewajiban yang telah ditetapkan terhadap pihak-pihak tertentu di dalam suatu transaksi ekonomi, baik perikatan yang dilahirkan dari suatu perjanjian ataupun perikatan yang timbul karena undang-undang.

Wanprestasi memberikan akibat hukum terhadap pihak yang melakukannya dan membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan ganti rugi.

Namun perkembangan terbaru dari MK, pihak leasing atau penerima hak fidusia (kreditur) tidak boleh melakukan eksekusi sendiri melainkan harus mengajukan permohonan pelaksanaan eksekusi kepada pengadilan negeri," demikian bunyi Putusan MK Nomor 18/PUU-XVII/2019. Artinya debt kolektor tidak boleh main ambil saja ditengah jalan tanpa ada kesepakatan diantara pihak terkait.

TIPS

1. Setiap muslim terkait dengan syarat-syarat tertentu dalam transaksi ekonomi

وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

"Dan kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram (HR. Ahmad)

2. Pilihlah mana kebutuhan pokok, mana pelengkap, mana yang mendesak mana yang bisa ditunda, intinya jangan maksain diri. Kalau sudah maksain diri, ternyata nggak mampu ditengah jalan, siap siap diangkut oleh debt colektor.

3. Jika kamu punya uang cash, belilah sesuai dengan uangmu, kalau belum punya ya nabung, jangan maksain diri ingin punya barang bagus namun kemampuan tidak sampai.


Abu Nawa, Lc

HARTA BERCAMPUR ANTARA HALAL DAN HARAM, BAGAIMANA HUKUMNYA?


Harta halal adalah semua harta dan hasil bisnis yang dihalalkan Allah baik sumber, zat maupun cara memperolehnya, sedangkan harta haram adalah harta yang bersumber dari bisnis barang yang diharamkan seperti jual beli narkoba, judi, pelacuran dan sejenisnya. Atau cara mendapatkan harta tersebut dengan menipu, merampok, korupsi dan zalim.

Lalu bagaimana hukumnya jika harta yang diperoleh tercampur sumber halal dan haram?

A. Utamakan yang Halal

Allah menganjurkan manusia mengkonsumi yang halal seperti dalam firman-Nya:


يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah:172)

Rasulullah bersabda:


إن الله طيب لا يقبل إلا طيباً
“Allah itu baik dan Ia tidak menerima kecuali perkara yang baik (halal)” (HR. Muslim)
Nabi juga menegaskan:


كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به
“Setiap Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih berhak baginya.” (HR. Thabrani).

B. Terkait dengan harta yang tercampur antara halal dan haram ulama berikut pandangan para ulama:

1. MAZHAB HAMBALI
Menurut ulama Mazhab Hambali, menyebutkan beberapa pendapat terkait dengan bercampurnya harta halal dan haram.

a. Haram mutlak
Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram…” (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Jika tingkat keharamannya lebih dari 1/3 harta kepemilikan, maka haram semuanya, jika kurang maka tidak.

c. Apabila yang haram lebih banyak, maka hukumnya haram. Apabila harta yang halal lebih banyak, maka hartanya halal, karena yang sedikit ikut pada yang banyak.

d. Makruh, semakin besar atau sedikit kemakruhannya sesuai dengan kadar haram atau sedikit didalam harta tersebut. (Muhammad bin Muflih, Al-Furu’,Muassasah Ar-Risalah, 2003 juz 4/390)

2. MAZHAB SYAFI’I

Mazhab Syaifi’i membedakan, antara tahu dan tidak tahu, terkait harta yang bercampur antara halal dan haram. Jika tahu maka haram (menurut Imam Al-Ghazali) jika tidak tahu maka makruh (Imam Nawawi)

مُعَامَلَةُ مَنْ أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ إذَا لَمْ يَعْرِفْ عَيْنَهُ لَا يَحْرُمُ فِي الْأَصَحِّ، لَكِنْ يُكْرَهُ وَكَذَا الْأَخْذُ مِنْ عَطَايَا السُّلْطَانِ إذَا غَلَبَ الْحَرَامُ فِي يَدِهِ كَمَا قَالَ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ إنَّ الْمَشْهُورَ فِيهِ الْكَرَاهَةُ، لَا التَّحْرِيمُ، خِلَافًا لِلْغَزَالِيِّ

Transaksi seseorang yang mayoritas hartanya haram, jika tidak tahu, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi MAKRUH. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbeda dengan pendapat Al-Ghazali (yg menyatakan haram)- (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa Nazair, Darul Kutub, 1411 H, juz 1/107)

3. MAZHAB MALIKI

Memiliki dua pendapat seperti mazhab Syafi’i:

a) Makruh

bahwa harta yang bercampur antara halal dan haram adalah makruh

b) Haram

menurut pendapat terpilih di kalangan ulama Maliki adalah apabila mayoritas harta itu haram, maka status harta dan penggunaannya adalah haram. Dan apabila mayoritas dari harta itu halal, maka hukumnya makruh

C. KESIMPULAN:

1. Harta haram ada yang haram karena zatnya, ada yang karena cara memperolehnya.

2. Cara memperoleh harta tersebut dengan praktek haram maka hukum hartanya haram, bagi pelakunya, namun tidak bagi penerimanya sesuai perbedaan ulama.

3. Haram dan halal harta jika kita mengetahui dengan jelas jenis dan bagiannya secara rinci.

4. Jika tercampur antara harta halal dan haram, maka dipisahkan, diperhitungkan lalu dipisahkan mana yang halal dan mana yang haram.

Menurut Imam Suyuthi:

لو اختلط دراهم حلال بدراهم حرام ولم تتميز فطريقه ان يعزل قدر الحرام ويتصرف الباقي, والذي عزله ان علم صاحبه سلمه اليه والا تصدق به عنه
"Jika uang yang halal tercampur dengan uang yang haram dan tidak dapat dibedakan, maka jalan keluarnya adalah memisahkan bagian yang haram serta menggunakan sisanya. Sedangkan bagian haram yang dikeluarkan, jika ia tahu pemiliknya, maka ia harus menyerahkannya atau bila tidak maka harus disedekahkan."(Imam As-Suyuthi, 1/107)

Menurut Ibnu Taimiyah:


من اختلط بماله الحلال والحرام اخرج قدر الحرام والباقي حلال له

"Jika seorang hartanya tercampur antara unsur yang halal dan yang haram maka unsur haram harus dikeluarkan nominalnya, dan sisanya halal baginya." (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Kitabul Bai’, hal. 124)

5. Solusinya, Menurut Fatwa DSN MUI no. 17 tahun 2002 memutuskan bahwa penggunaan dana non halal tidak boleh masuk kedalam pendapatan perusahaan, namun digunakan untuk sektor sosial

والله أعلم
Abu Nawa, Lc