Kamis, 07 November 2013

Bolehkah Merapel Zakat ?



Jika seseorang sudah mampu namun enggan mengeluarkan zakat, ia berdosa besar, karena meninggalkan salah satu rukun Islam yang lima. Lalu setelah ia sadar atas kesalahannya itu apakah zakatnya boleh dibayarkan secara rapel ( digabung ) sejumlah tahun yang ia tinggalkan?

Para ulama berpendapat bahwa:
1.       Ia harus bertaubat dengan penuh kesungguhan dan tidak mengulangi kesalahannya dikemudian hari.

Firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu.. ( At Tahrim:8 )

2.       Memperbanyak infak, sedekah dan perbuatan baik lainnya, karena perbuatan baik dapat menghapus kesalahan.

Sabda Nabi saw,” Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus dosa dari perbuatan buruk tersebut.” (Ath-Thabrani dan Abu Dzar).

3.        Boleh merapelkan zakatnya dimasa lalu, karena zakat yang belum dibayarkan identik dengan hutang kepada Allah ( Fikih Sunnah 2/22), juga  hadits Rasulullah saw:

Seseorang pernah bertanya kepada Rasul, “Wahai Rasul, ibuku telah meninggal dunia dalam keadaan meninggal puasa pada Bulan Ramadhan. Apakah saya harus meng-qada (mengganti)nya?” Rasul menjawab, “Bagaimana jika ibumu memiliki utang, apakah engkau akan membayarkannya?” “Jelas harus,” jawab orang itu. Maka berkatalah Rasul,”Apalagi utang kepada Allah SWT, jauh lebih utama untuk dibayar.” ( HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas )


Pengaruh Hutang Terhadap Zakat



Perbedaan ulama dalam masalah ini terjadi karena nash Al Qur’an maupun Sunnah tidak menyebutkan secara eksplisit. Sehingga pendekatannya dapat ditinjau dari dua sisi berikut:   
1.Ditinjau dari kewajiban zakat


a.       Ulama Syafi’iyah menyebutkan bahwa hutang tidak mengurangi kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Hukumnya  wajib terhadap pemilik harta karena zakat berhubungan dengan benda, sedangkan hutang berhubungan dengan tanggungannya, salah satu dari keduanya tidaklah dapat menghalangi.Seperti hutang dan kewajiban membayar diyat ( denda ) atas perbuatan kriminal. (al Fiqul Islami wa adillatuhu, 3/ 1809).
Hutang-hutang tersebut tidak  dapat menghalangi kewajiban zakat,  baik hutang itu untuk masa yang akan datang atau untuk saat ini, baik ia berasal dari jenis harta atau tidak. (Kifayatul Akhyar,  I /108)

b.      Ulama Hanabilah berpendapat, kewajiban membayar utang dapat mengurangi kewajiban zakat bila utang itu telah ada sebelum ada kewajiban zakat.
Dalilnya:
Utsman bin Affan ra. berkata,”Ini adalah bulan kalian mengeluarkan zakat kalian, maka barangsiapa memiliki hutang hendaklah mengeluarkan zakatnya sampai kamu mendapatkan harta kalian, maka tunaikanlah zakat.” (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu ,3/1802)

2.       Ditinjau dari segi fungsi harta

Hutang  terbagi menjadi dua yaitu hutang konsumtif dan non konsumtif.
Hutang konsumtif adalah harta yang dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, makan, minum dan sejenisnya. Sedangkan hutang non konsumtif  seperti berhutang untuk membeli mobil, apartemen, usaha dan sejenisnya.
Sehingga bila seseorang  yang memiliki hutang konsumtif dan ia tidak memiliki harta lain diluar kebutuhan pokoknya maka hutang itu menjadi pengurang kewajiban zakat. Namun jika diluar kebutuhan pokok maka  hutang tersebut tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.



Rabu, 23 Oktober 2013

Ketika Konflik Rumah Tangga Terjadi

Dalam kehidupan rumah tangga, ujan, ombak, gelombang dan hantaman , bisa datang kapan saja, maka kesiapan untuk menghadapi kemungkinan tersebut harus senantiasa di perhatikan. Perselisihan dan perbedaan pendapat, bisa saja muncul, karena dua insan dengan latar belakang, kesukaan, kebiasaan dan boleh jadi sifat dan karakter yang berbeda, bersatu dalam sebuah wadah. Belum lagi jika kita mengingat perseturuan dan perjuangan yang dilakukan oleh syaithan musuh manusia, dimana dia tidak akan pernah berhanti untuk terus menggoda anak keturunan Adam. Bahkan memisahkan suami dari istri atau istri dari suaminya adalah merupakan prestasi terbesar syaithan.

Ketika terpaksa perselisihan itu terjadi, ada beberapa hal yang harus kita diperhatikan :

1. Tidak boleh menghina, mencaci, dan menjelek-jelekkan pasangan. Hal yang satu ini memang sangat sulit, karena, tabiat manusia ketika sedang membenci seseorang, cenderug akan mengungkap dan menjelek-jelekkan orang yang dibencinya. Tapi islam mengajarkan kepada kita, agar mampu menjaga lisan, tidak keluar kalimat dari lisan kita, kecuali yang baik saja. Bahkan ini merupakan salah satu tanda keimanan seseorang . “ man kaana yu’minuu billahi wal yaumil akhir, fayaqul khairan au liyasmut “ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik, kalau tidak bisa diam.

2. Tidak boleh membuang muka, satu dengan yang lain, dan enggan berbicara lebih dari tiga hari. Suami isteri , sebagaimana seorang mu’min yang lainnya, dilarang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari. Allah memaklumi, bahwa manusia punya kecenderungan untuk lupa, untuk khilaf, untuk berbuat salah, untuk marah, tapi ingat, semua hal itu tidak boleh berkepanjangan, tidak boleh keterusan, harus ada time limitnya. Manusia punya potensi salah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera meminta maaf. Jangan memendam marah, jangan memendam emosi, karena bila ini kita lakukan, sesungguhny yang rugi diri kita sendiri. Batin nya menjadi capai, membuang –buang energi, waktu dan tenaga. Jadi kenapa harus nunggu samoai tiga har, jika bisa segera kita memaafkan atau meminta maaf. Yang terbaik diantara keduanya, adalah yang paling dulu meminta maaf, yang paling dahulu bertegur sapa.

3. Meskipun pertengkaran itu begitu hebat, jangan mentolerasi untuk memukul. Dalam ayat alqur’an, Allah hanya membolehkan memukul manakala seoang istri nusyuz, sudah diingatkan masih membangkang, sudah dipisahkan tempat tidurnya masih bandel, maka jika demikian, diperbolehkan memukul ( QS Annisa 34), dengan catatan memukul yang tidak menyakitkan atau tidak menimbulkan bekas. Seperti apakah pukulan yang tidak menyakitkan? Dari Atha, saya mengatakan kepada Ibnu Abbas, apakah yang dimaksud dengan pemukulan yang tidak menimbulkan luka atau tidak menyakitkan? Dia berkata: “ memukul dengan siwak dan sejenisnya” . Dalam masalah ini, sering ada candaan, ya sudah kita pukul saja memakai ATM. Plus kasih tahu nomor PIN nya. Berkaitan dengan masalah ayat 34 surat annisa tersebut di atas, Rasul saw bersabda : “ Wa lan yadriba khiyaarukum” “Mereka yang terbaik tidak akan memukul “ ( Hadis hasan diriwayatkan oleh Ibnu saad dalam Tabaqat dan al Baihaqi dalam Al Sunan). Berdasar hadis ini, ulama menyimpulkan bahwa memukul pada ayat tersebut hukumnya boleh, boleh dianjurkan apalagi diwajibkan.

4. Meminimalisir sengketa/perselisihan dari efek negatif terhadp anak. Seorang anak yang melihat kedua orang tuanya yang bertengkar dan berselisih, hatinya akan merasakan pukulan yang dahsyat , dia terombang ambing, kepada siapa harus melabuhkan kasih sayang. Kepada siapa dia berharap kelembutan dan perlindungan. Yang muncul adalah perasaan takut, dan bila sangat dahsyat pertengkaran atau perselisihan tersebut dilihat oleh anak, boleh jadi akan menimbulkan trauma. Maka, wahai para orang tua, renungkanlah bagaimana perasaan anak. Jangan egois ingin menang sendiri dengan mengorbankan anak-anak, yang masih memiliki masa depan yang panjang.

5. Menyembunyikan rahasia pernikahan. Jika teraksa terjadi perceraianpun, tetap dilarang dan merupakan kemaksiatan dan dosa, membuka rahasia pernikahan dan rahasia pasangan terhadap orang lain. Jagalah dan tutuplah aib saudara. Maka Allah akan menjaga dan menutup aib dirimu.

Demikianlah , betapa Islam mengatur secara rinci, dengan berpegang teguh dan mnentaati adab –adab tersebut, insya allah kita akan selalu merasakan keindahan dalam setiap episode kehidupan rumah tangga. Bangunlah istanamu, bangunlah syurgamu, Baitii jannatii, semoga selalu menjadi kenyataan. Ya Rabb Kami, karuniakan kepada kami pasangan dan keuturan yang senantiasa menjadi penyejuk mat bagi kami, dan jadikan kami sebagai pemimpin bagi orangorang yang bertaqwa. dakwatuna.com

Brunei Akan Berlakukan Syari'at Islam

Meski dicibir dan mengundang kecemasan kaum anti-Islam, Raja Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah, bertekad memberlakukan Syariat Islam di negara yang dipimpinnya. Bolkiah menyampaikan tekadnya itu pada Selasa (22/10).
Sultan menegaskan, Brunei Darussalam akan memberlakukan Syariah Islam dalam waktu enam bulan lagi, sebagaimana radioaustralia.net.au melansir, Rabu (23/10).
Kaum anti-Islam—bahkan dari kalangan Muslim sendiri—mencibir dan menyindir rencana Sultan ini. Sebuah organisasi Islam, pemimpinnya malah mengatakan, bahwa dengan diterapkannya Hukum Syariah di Brunei bisa berarti bakal lebih banyak lagi orang yang dihukum mati.
Direktur Islamic Renaissance Front, Dr Ahmad Farouk Musa, kepada Program Asia Pasifik Radio Australia juga menyatakan kecemasannya. Inilah contoh sosok Muslim yang otaknya dijejali “pendidikan” Barat yang mengusung paham sekuler dan liberal.
Dr Musa mengungkapkan alasan Sultan Hassanal Bolkiah untuk menerapkan “Hukum Baru” di negara itu bersifat Politis.
Keputusan untuk mengubah undang-undang akan membuat Brunei menjadi negara satu-satunya di Asia Tenggara yang menerapkan Hukum Syariah.
Musa juga menduga, motivasi mengubah undang-undang negara itu disebabkan iklim politik di dunia Islam yang merujuk pada tedensi Politik di Mesir dan Suriah.
Selain Dr Musa, Wakil Direktur Human Rights Watch Asia, Phil Roberts, menyebut perubahan Hukum itu sebagai “penyalahgunaan HAM, menjijikkan dan tidak Bisa dibenarkan.”
Keputusan Sultan Bolkiah ini, seperti dilansir arrahmah.com, nampaknya mengejutkan dunia internasional, karena mayoritas negara-negara memberlakukan hukum demokrasi. Terlebih lagi, dalam penerapan hukum Islam di Brunei nantinya juga akan memberlakukan hukum Hudud—hukum yang menetapkan pencuri dipotong tangannya, pemabuk dicambuk, pezina dirajam, pembunuh dieksekusi—sebuah hukum yang paling ditentang oleh negara-negara demokrasi. Hukum ini, insya Allah, akan diterapkan mulai April tahun depan.
Dalam sebuah rekaman video yang dirilis The Brunei Times, Sultan Bolkiah menyatakan dengan tegas bahwa negaranya tidak pernah meminta pendapat dari siapapun untuk menerapkan hukum Islam. Menurutnya, ini semata-mata merupakan kewajiban kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala).
“Alhamdulillah, dalam sejarahnya Brunei Darussalam selaku bumi bertuah (bumi yang diberkahi) ini, tidaklah pernah meminta kebenaran dari siapapun untuk memilih Islam sebagai agama resmi negara. Demikian juga, kita tidak meminta pada pihak mana pun untuk melaksanakan undang-undang jenayah Syariah (pidana Syariah), karena ia adalah semata-mata petunjuk khusus dari Allah kepada kita. Sesungguhnya petunjuk itu adalah mutlak menjadi hak Allah,” demikian pernyataan Sultan Bolkiah.
Sebelumnya, Brunei juga telah melarang penjualan minuman beralkohol (miras) dan penyebaran agama selain Islam.
Sultan Bolkiah menambahkan undang-undang baru itu tidak akan mempengaruhi kebijakan pemerintah secara keseluruhan, termasuk kebijakan investasi asing.
Mufti Brunei, Awang Abdul Aziz, dalam konferensi pers terkait, menyatakan hukum Syariah “menjamin keadilan bagi setiap orang dan melindungi keberadaan mereka.” (arrahmah.com/salam-online)

Ayah



Sore itu terjadi percakapan antara seorang ayah yang sudah renta, usianya sekitar 80 tahun, dengan putera sulungnya yang berusia sekitar 45 tahun.

Sang ayah menghampiri puteranya yang sedang memberi makan burung Pipit kesayangannya didekat jendela.

Ayah: “Apa ini”.
Anaknya menjawab: ini Burung pipit kesayanganku ayah,
 ( Lalu ayahnya masuk kedalam rumah. Tak lama kemudian, ia kembali lagi ke arah  anaknya lalu bertanya kembali ).

Ayah:  “Apa ini”
Anaknya menjawab: “Ini Burung pipit kesayanganku ayah”.
 ( Kembali sang ayah masuk ke ruangan, sebentar kemudian berbalik lagi ke arah  anaknya lalu bertanya kembali ).

Ayah: “Apa ini”
Anaknya menjawab dengan nada tinggi dan geram: “ Bukankah aku aku sudah katakan ini burung Pipit ! Apakah ayah tidak dengar! Apakah ayah tidak lihat ! heeh! Dasar pikun !”
Dengan sedih sambil tertunduk sang ayah masuk kedalam kamarnya kembali, lalu ia mengambil secarik kertas lusuh, terlihat sudah termakan usia. Lalu ia menyerahkan kepada anaknya dan berkata,” Bacalah tulisan ini”

Si anak mulai membaca:

Hari ini usia anakku genap tiga tahun. Lucu sekali dia, berlari kesana kemari, melompat dengan riang gembira. Tiba-tiba ia mendengar suara burung pipit di kebun rumah dan bertanya kepadaku: “ Suara apa itu ayah?”. Aku menjawab: “ Itu suara burung pipit. Anakku kembali bermain dan mengulangi kembali pertanyaan yang sama sebanyak  30 kali, aku sabar menjawabnya  sambil tertawa dan bercanda riang dengannya hingga kami beristirahat.

Setelah membaca itu, sang anakpun memeluk ayahnya sambil tersedu-sedu.
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. ( Al Isra:23 )

 Rama & Biyung I Love You




Senin, 07 Oktober 2013

Keutamaan Amalan Sepuluh Awal Bulan Dzul Hijjah



Bulan Dzul Hijjah telah datang, bulan yang secara khusus Allah sediakan untuk kaum muslim menunaikan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima. Didalamnya terdapat banyak keutamaan amal, pun Allah menyebutkan awal bulan Dzul hijjah di dalam firman-Nya:

وَالْفَجْرِ(1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan malam yang sepuluh

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa maksud “ Malam yang sepuluh “ adalah sepuluh awal bulan Dzul Hijjah[1]. Maksudnya adalah ketika Allah sebutkan didalam Al Qur’an berarti ada rahasia besar yang ingin Allah ungkapkan kepada manusia akan kebaikan yang ada didalamnya.

Beberapa keutamaan bulan Dzul Hijjah diantaranya adalah:
1.       Amalan baik mendapat balasan berlipat ganda

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله : «مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ. قالوا: ولا الجهاد. قال: وَلاَ الْجِهَادُ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ.

Dari Ibnu Abbas ra. Berkata,”Telah bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam,”Tidak ada amal yang lebih utama dilakukan, melainkan amal yang dikerjakan pada hari-hari ini, para sahabat bertanya,” Tidak juga jihad, Nabi menjawab,” Tidak. Kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya hingga tidak kembali.”[2]
Maksud dari jawaban Rasul tentang “ Tidak ada amalan yang lebih utama” pada awal Dzul Hijjah bukan berarti menafikan jihad, namun keutamaan jihad ada di satu sisi dan keutamaan sepuluh hari awal Dzul Hijjah disisi lainnya.

2.       Ibnu Hajjar Al Atsqalani menyebutkan bahwa sebab awal bulan Dzul Hijjah memiliki keistimewaan dibanding bulan lain karena induk ibadah, seperti ibadah haji, shalat, puasa dan sadaqah ( qurban ), tidak seperti bulan-bulan lain.

3.       Pada awal Dzul Hijjah turun firman Allah yang menyatakan tentang  telah sempurnanya syariat Allah dan itu terjadi pada haji Wada’ ( haji perpisahan ) karena tidak lama setelah itu Rasulullah wafat.

Firman Allah itu adalah:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ( Al Maidah:3 )

4.       Puasa sunnah Arafah ( 9 Dzul Hijjah ) merupakan puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضيةً ومستقبلةً
Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.[3]

5.       Qurban 

Artinya dekat, yaitu orang yang berkurban tujuannya hanya ingin mendekat kepada Allah dengan amal kebaikan. Menyembelih hewan kurban lalu dagingnya diberkan kepada orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya.
Rasulullah bersabda:
" من كان له سَعَةٌ ولم يُضَحِّ ، فلا يَقْرَبَنَّ مُصَلانا
Barang siapa yang memiliki keluasan rezeki namun ia tidak berkurban, jangan dekati tempat shalatku” ( HR. Ahmad, Hakim, Ibnu majah, dari Abu Hurairah )

 Semoga kita bisa memaksimalkan kesempatan kebaikan yang Allah ‘ obral ’ dihadapan kita. fzn


[1] Tafsir al Quranil Adzim, Ibnu Katsir
[2] HR. Bukhari
[3] HR. Muslim, Ahmad dan At Tirmidzi